I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 55 - TIIDDDAAAAKKKKK


__ADS_3

"Dengarlah sayang, aku akan selalu kembali menghampirimu, aku pasti akan menemanimu melahirkan anak kita nanti. Tapi maaf, aku akan tetap mengambil hak asuh ku sebagai ayahnya."


Setelah membisikkan itu, Petra mulai mengabur. Sosoknya menghilang. Dan aku menghitam bersama kegilaan yang dia tinggalkan.


"TIIDDDAAAAKKKKKK!!!"


Aku langsung berteriak, dan bersama dengan teriakan ku itu. Suara serak basah mulai menyambut ku, dan bisa ku rasakan sebuah sentuhan hangat datang di pundakku dengan lembut. Seakan tengah memberiku ketenangan.


"Sayang?! Kania!!"


"Hey, sadarlah! ada apa?"


Lantas ku buka mataku perlahan-lahan, ku lihat sekeliling yang terang, sekitarku yang tak asing, jendela kaca yang panjang lengkap dengan penutup kayu model lama, langit-langit yang putih dan lemari kayu yang sudah tua. Begitu ku tangkap semua bayang itu dalam sorot mataku, barulah aku menyadari rupanya aku ada di dalam kamar, dan semua bayangan Petra tadi hanyalah mimpi gila yang membuatku keringatan.


"Ada apa Kania?" Sekali lagi kata itu terucap dari mulut Kak Anta yang duduk di sampingku. Nampaknya dia ikut terbangun karena aku mengigau.


Lantas ku peluk dia dengan berderai air mata. "Kak---"


"Kamu mimpi buruk lagi?" Katanya sambil mengelus belakang kepalaku dengan lembut.


Lagi? ya, nampaknya aku memimpikan ini bukan yang pertama kali. Aku menyadari semenjak kehamilan ku semakin tua, tepatnya sekitar usia 8 sampai sekarang di usia 9 bulan. Aku selalu terbayang-bayang ketakutan bahwa Petra akan datang dan berusaha merebut anak ku dari dekapanku dan Kak Anta.


"Kak Anta, kita pindah rumah ya kak?!" Aku menengadah menatap wajahnya dari bawah dagunya yang berlatar rahang tegas. "Aku mohon Kak, kita harus pindah ke tempat yang jauh dari Jangkauan Petra!"


"Tenanglah sayang," katanya sambil memegangi bahuku. "Itu semua hanya mimpi! lagi pula Petra tak akan mungkin berani mengambil anak ini, masih ada aku yang menjadi benteng kalian. Aku pasti akan melindungi kalian."


"Tidak, kak. Kakak tidak kenal Petra! dia itu berbisa, dia punya seribu akal dan seribu cara untuk merebut anak ini dari kita." Aku terdiam sejenak mengatur napas, "Di mimpiku barusan, Petra itu datang saat tak ada Kak Anta di rumah. Dia ada saat kakak sedang pergi bekerja."


Aku menjelaskan dengan emosi tak karuan, jiwaku melayang seperti menderita ketakutan yang pedih tak kepalang. Khayalan mengubur ku dalam ketakutan yang gelap bagaikan kegilaan. Dan pada suasana seperti ini, dimana aku tengah hanyut dalam kecemasan dan kegelisahan. Kak Anta selalu hadir dan berusaha untuk terus menenangkan, sementara aku tak merasakan yang demikian.

__ADS_1


"Karunia ku sayang, tenanglah sebentar. Dengarkan aku bicara," Kata kak Anta lagi. "Ini semua hanyalah mimpi, bawaan kamu yang sedang hamil tua. Percayalah, Alfatra tak akan pernah kemari untuk merebut Rania dari kita!"


Malam tiba-tiba terasa sunyi, dan hanya cicak di dinding yang menemani, memberi citra ramai di tengah malam, di tengah-tengah kamar kami yang hampa.


"Rania?" tanyaku padanya.


"Gabungan dari nama kita; Reza dan Kania," jawabnya sambil tersenyum. "Dari hasil tes USG empat bulan dulu, Mbak Rani mengatakan kalau bayi kita kan perempuan. Sejak hasil itu keluar aku sudah memikirkan nama yang cocok. Bagaimana kalau namanya, Rania? kamu setuju tidak?"


Lalu dia mendekat dan memelukku lagi.


"Sudah, tak apa. Semua hanya mimpi, dan mimpi itu hanya bunga tidur. Bukanlah kenyataan, jadi tak usah ditakutkan. Ada aku disini... " katanya berbisik.


"Ya, kak... "


Semoga semua ini memang hanya bunga tidur dan sekadar khayalan yang menakuti ku. Seperti kata Kak Anta barusan ....


Keesokan paginya, sekitar pukul enam kurang sepuluh menit, aku bangun sambil menahan kantuk. Di kepalaku seakan ada planet mungil yang beratnya sama dengan bumi. Seluruh energiku terserap oleh daya gravitasinya yang dahsyat.


Pagi ini pun, saat aku sampai di dapur, Kak Anta menyambut ku dengan khas sambil membawa keranjang pakaian yang sudah siap untuk dijemur. "Selamat pagi sayang, hari yang cerah. Semoga jadi awal yang baik untuk kita semua ya."


"Kak, gantian ya! biar aku saja yang jemur." kataku,


Lantas dia memekik dari tempat jemuran; "Tunggulah di meja makan sayang, aku sudah buatkan sarapan. Semua tugas rumah tangga juga sudah ku bereskan seperti biasa. Jangan sungkan, aku tak mau kamu semakin kesulitan."


Pada saat ini, ketika aku duduk di kursi makan sambil menghadap ke halaman luar tempat Kak Anta jemur pakaian, dimana aku tengah melamun; alangkah beruntungnya aku memiliki pria seperti dia dan dicintai sepenuh hati olehnya.


Di balik pembawaannya yang dingin, Kak Anta memiliki jiwa yang sangat peduli. Inilah wujud cintanya yang lembut, meski sejujurnya aku selalu terenyuh tiap kali melihat kak Anta yang selalu bangun lebih awal bahkan setelah ia pulang malam setelah patroli. Hanya untuk beres-beres rumah dan buat sarapan, Kadang dia bekerja di dapur pakai seragam polisinya dengan celemek sebagai cover depan. Aku tahu betul dia kehilangan banyak waktu istirahat, namun dia tak pernah beri aku celah untuk bekerja lagi yang berat-berat.


"Loh, belum makan?" katanya tiba-tiba membangunkan aku dari lamunan.

__ADS_1


"Aku menunggu kakak," jawabku pelan.


Lalu dia memutar jalan dan mengambil posisi duduk di depanku.


"Ya sudah, ayo kita makan. Aku juga sudah seduhkan susu ibu hamil, untukmu. Nanti diminum ya?!"


"Terima Kasih, Kak Anta." Aku tersenyum sambil menyiapkan makanan di piringnya.


Lalu setelah itu Kak Anta mengambil bagiannya yang telah ku siapkan, dan menikmatinya dengan lahap.


"Kak---" Kataku memecah obrolan.


Dan dia berhenti sejenak dari aktivitasnya. "Ya, ada apa?"


"Terima kasih, karena sudah menemani aku sampai di sini, Terima kasih sudah menerima dan mencintaiku apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihanku. Terima kasih, karena melakukan ini semua untukku-----" Kataku mulai berkaca-kaca dan terisak.


Tapi reaksi lain ku dapat dari Kak Anta, dia seakan memasang muka malas yang menyebalkan.


"Kania, kamu selalu mengatakan ini setiap pagi loh. Hampir di jam yang sama, intonasi dan ekspresi yang sama pula. Aku sampai hapal apa yang mau kamu katakan sayang!" katanya sambil menepuk jidat.


Selalu mengatakan ini setiap pagi? Nampaknya, ini juga sudah menjadi kebiasaanku beberapa bulan terakhir. Tapi aku tak peduli, aku terharu sekali.


Setelah semua beres, Kak Anta bersiap untuk berangkat ke kantor dan aku mengantarnya sampai pintu depan.


Begitu dia selesai pakai kaus kaki dia mendekat. Menempelkan telapak tangannya di perutku.


"Nak, Papa berangkat kerja dulu. Kamu jaga mama, jangan nakal di dalam."


Dan aku kembali terenyuh oleh sikap kak Anta yang lembut, hingga saat dia mendekat untuk mencium keningku aku menangis, "Terima kasih, Kak. Kamu hati-hati di jalan---"

__ADS_1


"Kamu nangis lagi, tiap aku mau pamit kerja." Katanya tertawa kecil. "Aku berangkat dulu ya, segera telpon aku kalau ada masalah." Katanya setelah itu.


Dan lagi-lagi, nampaknya ini bukan yang pertama kali.


__ADS_2