I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 75 - Aku Pamit


__ADS_3

"Iya, tepatnya ke mana?" Tanyaku padanya.


Ku pandangi Marwah, namun tepat pada saat ku pandangi wajahnya itu, ia memilih untuk menyembunyikan sorot matanya dari hadapanku.


"Aku tidak bisa beritahu kamu, maaf ya." Jawabnya pelan hampir tak bisa ku dengar.


"Apa memang harus pergi?"


Dia diam sejenak, baru kemudian menjawab; "Aku rasa begitu. Ini pertama kalinya aku merasa jatuh cinta, jadi aku sungguh tak menyangka kalau untuk melupakan dan menghilangkan perasaan ini tidak semudah itu. Tiap malam aku harus menangis, dan tiap aku menangis hati ku sakit sekali sampai sulit bernapas. Setiap kali aku membayangkan dirinya, aku tersenyum tapi dadaku sesak, hanya karena aku tak mampu menggapai bayangnya yang hadir dan tenggelam bagai fatamorgana."


Hancur aku bagai bagai baru meteor pecah sebelum sampai ke bumi, tak tahu benar aku bagaimana rasa yang dialami Marwah. Sampai kemudian dia datang padaku untuk berpamitan lagi kedua kalinya setelah bertahun-tahun yang lalu. Entah kenapa, pagi ini angin berdesir lebih hebat dari biasanya, mengepung ku dengan hawa dingin yang menusuk. Rasa gelisah dan sedih menguasai ku, menghempaskan aku di antara denyut nadi dan tatapannya yang menyiksa.


"Hanya dengan pergi jauh dari sini, mungkin aku tak perlu lagi berharap untuk bisa menggapai dirinya. Ini sulit, tapi harus ku jalani." Ucapnya.


"Bagaimana dengan adik-adik di jalanan? mereka tidak bisa kalau tanpa kamu."


"Tidak seperti yang kamu pikirkan," Katanya, "Mereka jauh lebih kuat dari yang kamu pikirkan Kania, aku bisa tahu cari uang di jalan itu, semua karena mereka. Jadi kamu tidak perlu khawatir."


"Tapi Marwah----"


Dia mengulum bibirnya yang merah merekah, kemudian kembali berusaha tersenyum, sambil matanya menatapku. Meski kesannya sangat menyedihkan, namun aku tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti kehendaknya, sebab tidak mudah bagiku menghadapi perasaan dominan semacam ini.

__ADS_1


Tak ada pilihan lain selain mengikuti kemauannya kali ini, sebab bagaimana pun aku meyakinkan dia lagi, dia selalu tersakiti oleh iming-iming itu.


"Aku pamit ya?! sudah hampir siang, aku khawatir angkutan di terminal sudah berangkat semua. Sampaikan salamku pada suami mu." Katanya, memecah keheningan kami beberapa saat tadi.


"Kalau begitu aku ikut antar," sahutku.


"Kamu tunggu di rumah saja, masak. Temani Rania main, soal aku tidak perlu pikirkan. Kalau kamu antar, nanti kamu jadi tahu aku mau kemana, ya kan?!"


Dia kemudian membuka tasnya dan mengambil sebuah kotak kecil bungkus kado warna hijau, "Aku boleh titip ini untuk Om? Ini kado pernikahan dariku untuknya. Memang tidak seberapa, tapi aku sangat berharap dia menyukainya."


Kuambil hadiah itu dari tangannya. Bungkus yang lucu bermotif kepala kodok, hewan yang ditakuti Kak Rambo seingat ku. Ku pandangi terus kotak hadiah itu, di bawah pengawasan matanya yang menyala namun berduka, seperti malaikat maut yang tak siap mencabut nyawa.


"Kamu sengaja pakai bungkus motif kodok." Kataku bergetar.


"Haruskah ku berikan ini di depan istrinya nanti, atau padanya seorang saja?" tanyaku padanya.


"Bebas, ini cuma sepasang gelang biasa kok. Waktu istirahat makan siang itu, aku lihat produk baru di toko Aksesoris depan pertigaan tempat ku biasa ngamen dan gosok kaca mobil. Aku sedikit tertarik, jadi ku tanya pada pegawainya langsung. Dia menyebut gelang itu dengan lambang 'Pragma' atau 'Cinta yang abadi', cocok sekali kan untuk pernikahan mereka?"


Aku terhanyut. Entah hati macam apa yang dimiliki Marwah, bukan soal makna hadiahnya saja, tapi aku juga tahu betul bahwa toko Aksesoris yang di maksud Marwah bagiku bukan sembarang toko biasa, barang-barang di dalam sana memiliki harga yang cukup tinggi untuk ukuran menengah ke bawah. Jadi, sudah pasti untuk mendapatkannya, Marwah harus kerja ekstra keras mengumpulkan uang. Mungkinkah Marwah jarang ke rumahku saat itu karena dia bekerja siang malam di jalan untuk menabung uang?


Mengapa kamu bisa memikirkan soal itu bahkan di saat kamu menyadari bahwa itu akan sangat menyakiti dirimu sendiri Marwah, pikirku.

__ADS_1


"Jaga diri kamu baik-baik!" Kataku sambil terisak, "Kalau sudah berhasil melupakan Kak Rambo, kamu kabari aku ya! atau kembali lah ke sini lagi."


"Aku tahu itu." Katanya sembari memelukku.


"Aku tak punya kata-kata lagi untukmu. Aku hanya berdoa agar Tuhan selalu bersama dalam setiap langkahmu. Jangan lupa untuk menghubungiku, selalu." Aku berusaha tegar meski air mata tak bisa ku bendung.


Marwah tersenyum dan hanya mengangguk, kemudian dia menghilang di balik pintu pagar dan pergi jauh membawa rasa sakit dan cintanya.


Malamnya setelah Kak Anta pulang dari patroli malam, dengan berat hati aku menyela dia yang tengah memelukku erat berusaha agar bisa bermanja. Lalu ku bisikkan pertanyaan itu ke telinganya;


"Pragma?" Timpalnya sambil mengerutkan dahi.


"Ya," Jawabku. "Artinya apa? Maknanya bagaimana?"


"Ehm, sepengetahuanku itu istilah asing." Katanya sambil berpikir. "Istilah cinta dalam mitologi Yunani. Artinya Cinta yang abadi. Maknanya sangat dalam."


"Begini," dia mulai berusaha menjelaskan, berusaha mencari kata-kata yang mudah untuk ku cerna. "Begini, kamu ingat aku pernah bicara soal cinta yang matang? itu lah makna Pragma yang sebenarnya, sudah tak ada lagi keegoisan antara dua orang dalam satu hubungan, semua yang dilakukan mereka adalah berusaha untuk membuat kebahagiaan dan membahagiakan pasangannya. Ya, begitulah kira-kira."


Bergetar aku, hanyut dalam desiran angin malam oleh maknanya yang teramat dalam dan menyentuh. Inikah bukti cintamu untuk Kak Rambo, Marwah? kamu berusaha melakukan segala untuk kebahagiaan Kak Rambo, bahkan meski itu sangat menyakiti dirimu sendiri.


Memanglah cinta tanpa perjuangan itu adalah pecundang, bagai seorang Panglima yang takut perang. Tapi cinta yang terpaksa mundur karena keadaan itu jauh lebih menyakitkan, seperti prajurit cacat yang tak bisa berjuang dalam medan tempur.

__ADS_1


Semua ini, lagi-lagi soal kesenjangan dan kepercayaan diri ......


__ADS_2