I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 49 - Terbang Melambung dengan Kebahagiaan


__ADS_3

"Sudah jam 10 pagi," Ucap Mbak Isma, setelah melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Aku berangkat dulu ya Kania, juga Mas Reza. Pesawat ku akan lepas landas jam 11.15 nanti."


"Baiklah, kalau begitu hati-hati ya. Semoga perjalananmu di beri kelancaran."


"Terima kasih, Mas. Lekas sembuh dan cepat pulang ke rumah lagi."


Dia berpamitan pada Kak Anta.


"Jaga stamina kreatif mu, tetaplah menjadi orang yang rendah hati. Sepulang dari Borneo nanti kamu bisa lihat anak-anak kami. Jangan lupa kabari dan telepon Emak dan Abah. Jaga kesehatan." Ucap Kak Anta yang membuatku berdebar, ketika dia mengucapkan soal anak-anak kami.


"Mari Mbak, ku antar sampai depan." Kataku gugup.


"Kalian baik sekali, tapi aku harus meninggalkan kalian. Semoga kebaikan kalian tidak berkurang meski ku tinggal selama beberapa tahun. Akan ku usahakan nanti oleh-oleh buat kalian setiap pulang."


Semula dia ingin bersalaman dengan Kak Anta mantan kekasihnya itu, namun kemudian dia urungkan, mungkin menimbang perasaanku.


"Selamat tinggal, Mas," Ujarnya.


Akhirnya setelah berpamitan, ku antar dia keluar kamar, dan kami kembali menerobos pengunjung rumah sakit di sepanjang koridor rumah sakit. Dia, Mbak Isma, tak melepas sedikitpun genggaman tangannya atas tanganku. Kami berjalan kaki sama-sama dengan bergandeng tangan, layaknya sepasang sahabat karib, layaknya kakak dan adik.


Sampailah kami depan rumah sakit, barulah Mbak Isma melepas genggaman tangannya, dia tersenyum padaku kemudian mengulang lagi permohonan maafnya.


"Kania, sekali lagi, ku ucapkan banyak Terima kasih padamu. Jujur, Aku merasa malu karena kebaikanmu yang luar biasa tak ku duga. Kamu sangat baik, karena itu kamu pantas berdamping dan berjodoh dengan Mas Reza."


Sesudah itu dia mendekat dan menyentuh lembut permukaan perutku.


"Kalau aku kembali lagi ke sini nanti, anak ini pasti sudah besar. Aku tidak sabar," Katanya.


"Mbak Isma harus melihatnya nanti."


Dia menyunggingkan kedua ujung bibirnya, tersenyum.


Kami berbincang dalam suasana yang hangat-hangat kuku, karena di serang rasa kikuk dan kaku, juga rasa haru. Beruntung, tak lama kemudian Mbak Isma memberi tahu bahwa pesawat yang akan ditumpanginya akan segera tinggal landas, jadi dia segera mengakhiri kehiruk-pikukan ini.


"Harus," Dia memelukku, "Baiklah, aku pergi ya, jaga dirimu dan keluarga baik-baik. Sampai jumpa Kania."


Kemudian dia menghilang di balik pintu mobil di mana kedua orang tuanya telah menunggu dan segera terbang tinggi membawa impian dan cita-citanya.


Aku menarik napas kuat-kuat setelah kepergian Mbak Isma itu, kemudian berkata sendirian dengan nada pelan. "Terima kasih Mbak Isma, untuk semua pelajaran hidup dan berbagai kebaikan yang ku terima sejak kenal denganmu. Berkatmu, aku menjadi seorang istri yang lebih tangguh dan aku pun kini paham bahwa cinta yang sejati akan selalu diuji agar selalu kuat.


Aku kembali masuk ke dalam, kamar rawat Kak Anta.


"Sudah kembali?"


"Ya, kak. Memangnya ada apa?"


"Aku mau ke kamar mandi," Jawab Kak Anta singkat.


Tubuhku gemetar, mendengar keinginannya. Nada bicaranya terdengar lebih dalam daripada biasanya, membuat kaki ku nyaris tidak sanggup berdiri tegak.


"Kenapa harus ke kamar mandi Kak? Kak Anta belum sepenuhnya pulih. Kalau bisa jangan banyak gerak dulu!"


"Aku tidak tahan, buang air di kasur. Meskipun sudah pakai kantung urine. Aku tidak terbiasa, jadi agak risih." Katanya, kemudian mengambil sesuatu di bawah ranjangnya, "Lihat! sudah ku lepas." Dia mengangkat kantung urinenya padaku.

__ADS_1


Jantungku berdetak sangat kencang. Masih mencengkeram erat gagang pintu, aku menyahut, "A-aku harus panggil dokter dulu untuk memastikan apakah kakak sudah boleh gerak dari ranjang atau belum."


"Tidak usah, aku sudah tidak tahan. Kalau panggil dokter dulu, bisa makan waktu." Jawab Kak Anta.


"Baiklah, kalau memang begitu. Biar ku bantu Kak,"


Aku segera memutar mengambil infusnya, kemudian ku bantu dia turun dari ranjang. Pertama, ku suruh dia duduk di samping. Kemudian ku kalungkan tangannya di leherku lalu aku memegang pinggangnya agar tidak goyah. Sementara sesuai aba-aba dari ku Kak Anta turun dari ranjang perlahan-lahan.


Di saat itulah aku merasakan tubuh Kak Anta yang panas dan berat. Apalagi aku harus menahan beban tubuhnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memang khusus untuk memegang tiang infus.


Perasaan berdebar kian kencang ketika kami memasuki kamar mandi, untuk pertama kalinya dan tanpa malu-malu Kak Anta buang air meski ada aku di sampingnya. Dan aku berusaha memaklumi.


"Sudah Kania," Katanya.


"Oh, baik kak. Ayo keluar, pelan-pelan." Jawabku berusaha tenang dan tidak gugup.


Ku bantu tiap langkahnya walau lambat dan berat, untungnya jarak dari kamar mandi ke ranjang tidak sejauh jarak saat kami berpisah. Jadi aku masih kuat membimbingnya.


Begitu Kami telah sampai du ranjang, Kak Anta sudah naik lagi di kasur, hebatnya dia tak merasa canggung atau gugup sedikit pun. Tidak seperti aku yang sibuk berperang melawan gejolak di dada yang berdebar kencang tiada habisnya, masih membekas di ingatanku saat di kamar mandi tadi, bayang-bayangnya membekas secara detail dan terus menghantui pikiran ku. Oh, malunya aku.


"Selamat pagi tuan Anta Reza." Salah seorang dokter tiba-tiba masuk bersama seorang perawat dan meja dorong berisi obat-obatan.


"Pagi, dokter." Sapa kami berdua kak Anta berbarangan.


"Bagaimana keadaannya sekarang?" Ucapnya sambil memeriksa infus Kak Anta.


Aku jadi gelisah, bila dokter mengetahui soal kantung urine yang dilepas oleh Kak Anta. Maklum, ini kali pertama aku menemani seseorang sendirian di rumah sakit. Sebelumnya belum pernah, jadi aku agak cemas kalau ambil tindakan sendiri di luar anjuran dokter.


"Saya periksa bekas jahitan nya dulu, ya."


"Bagus, jahitannya sudah kering. Kalau kondisi tuan semakin membaik seperti ini, saya optimis bisa mempersilahkan tuan pulang besok pagi." Sahut dokter lagi setelah memasang ulang perban Kak Anta.


"Syukurlah, jujur saya sudah rindu dengan Rumah, dokter Andrean. Saya mau kumpul dengan Istri, menikmati suasana pagi, sore dan malam di samping beranda rumah. Kalau di sini, saya agak suntuk." Jawab Kak Anta, yang membuatku semakin bergetar.


Dokter yang baru ku ketahui bahwa namanya adalah Andrean itu, tersenyum simpul seraya menyiapkan obat-obatan lagi dari meja dorong yang di bawa perawat.


"Saya senang sekali melihat semangat tuan ini. Kalau begitu sesudah pemeriksaan ini, kami akan mengizinkan tuan pulang besok, berikut obat antibiotik dan yang lainnya. Selama dua puluh empat jam pertama, anda harus mengistirahatkan tubuh dari aktivitas fisik. Sesudah itu anda boleh kemari seminggu lagi untuk periksa lanjutan."


Lantas aku dan Kak Anta saling berpandangan begitu mendengar kabar menyenangkan itu, kami merasa lebih daripada sekadar bahagia mendengar kabar bahagia ini. Dokter Andrean yang ramah pamit setelah memberikan obat-obatan yang harus di minum sekalian perawat memberikan makanan untuk makan siang.


"Terima kasih atas perawatan yang anda berikan pada suami saya, dokter. Tapi maaf, saat di rumah nanti apakah tidak masalah bila dia langsung buang air, dan lain-lain ke kamar mandi?"


Dokter Andrean tersenyum, "Oh tentu tidak masalah, selagi ada yang bisa membantunya maka akan baik-baik saja. Intinya jangan biarkan dia pergi sendirian."


Selepas dokter dan perawat pergi, aku bantu menyuapkan makan siang untuk Kak Anta. Tak tinggal obat-obatannya juga.


Aku mengeluarkan apel dari keranjang buah yang diberikan oleh Mbak Isma pagi tadi. Setelah Kak Anta selesai makan dan sekarang tengah membaca majalah yang disediakan rumah sakit untuk bacaan keluarga.


"Bagaimana rasanya?" Kata Kak Anta.


"Manis dan segar." Kataku sambil mengunyah, "Kakak mau?"


"Tidak, aku sudah kenyang."

__ADS_1


Sekitar pukul 13.00 siang, ketika kami tengah menikmati suasana siang yang terang. Rambo datang dengan penuh kegaduhan, memang menggambarkan karakteristiknya yang luwes dan penuh perasaan. Dia datang tanpa mengetuk pintu, sambil membawa onde-onde kacang hijau.


"Anta Reza, sahabatku .... " Dia menangis sambil berlari memeluk Kak Anta yang duduk di ranjang.


"Kamu ini memang senang sekali buatku cemas tidak karuan. Rasanya aku hampir gila saat mendengar kamu kecelakaan! Ku pikir kamu bakal mati, sungguh tidak ku maafkan. Kamu tidak boleh menghadap Tuhan sebelum menyaksikan aku menikah." Katanya merengek.


Lantas, Kak Anta yang ku ketahui bahwa dia terenyuh pada sikap Rambo. Namun, harus berpura-pura jantan untuk menjaga gengsinya dengan menyentak tubuh Rambo dan memukul bahu kekar Rambo dengan majalahnya.


"Dasar bodoh! bersikaplah yang jantan gondrong! Kamu tidak malu menangis begitu di depan wanita?"


Namun Rambo enggan berubah, dia masih terisak. Pria 28 tahun yang penuh perasaan, berbanding terbalik dengan penampilannya yang garang.


"Aku tidak perduli, intinya aku begitu terharu mendengar kabar kalau kamu telah sadarkan diri." Katanya, "Bagaimana keadaanmu?"


"Sudah baikan, dokter bahkan mengatakan kalau aku sudah bisa pulang besok pagi."


"Sumpah, tidak sia-sia aku menghabiskan waktu istirahat siang dengan datang ke sini. Mau makan onde-onde bersamaku?" Katanya sambil mengangkat kresek putih itu.


Kak Anta mengernyitkan dahi untuk menanggapi tawaran Rambo, "Bawa oleh-oleh untuk orang sakit tapi malah ikut makan, konsepnya bagaimana?"


"Aku tidak bawa ini untuk kamu, kok. Ini makan siangku!" Katanya begitu polos, entah memang sungguhan atau memang sekadar untuk menggoda Kak Anta.


Bodoh aku tertawa, lucu sekali ....


...****************...


Haloo ini author 🙋


Apa kabar Kak? Hari ini author berencana untuk melakukan crazy up, mungkin 4-5 BAB. Hehehe...


Tidak terasa perjalanan kita sudah sampai hampir di BAB 50. Nah, sudah cukup jauh perjalanan. Tapi kali ini author mau bantu meluruskan dan sedikit menjelaskan. Mungkin masih banyak dari kakak-kakak sekalian yang bingung dalam membaca novel ini.


"Thor, cara bedain yang mana kata hati yang mana percakapan gimana?"


Baik, di sini author sedikit jelaskan Yup kesayangan author sekalian;


1. Pertama, dalam penulisan novel ada 3 sudut pandang yang bisa di pakai. Di novel toon yang paling sering di pakai adalah sudut pandang pertama dan sudut pandang ketiga. Yang pertama pakai "Aku" dan yang ketiga pakai nama tokoh (ex: Bayu, Dody, Joko dll).


Nah jadi bagaimana dengan novel ini thor?


Author pakai sudut pandang yang pertama ya, pakai kata "Aku" untuk menjelaskan. Dan POV yang dipakai itu dari protagonis wanita; Karunia. Jadi intinya untuk yang kalimat penjelasan selain yang pakai cetak miring, itu bukan kata hati okay? tapi cuma cerita dari Kania saja.


2. Kedua, untuk membedakan mana percakapan dan kata hati, bisa dilihat di penggunaan tanda petik. Untuk kalimat percakapan itu pakai tanda petik. contoh : "Kania, bisa bantu aku ambil wajan?" Ucap Kak Anta.


Sedangkan untuk kata hati, itu akan author buat dengan huruf miring. Contoh: Aku akan mengambil plan B, Pikirku.


3. Ketiga, khusus soal kata kiasan. Di sini author mohon maaf, penggunaan kiasan memang author tempatkan sebagai ciri khas saja. Harapan author, semoga di depan nanti misal kakak sekalian baca novel tanpa lihat nama penulis sudah bisa tahu, "Oh, ini author Sanskeh!" tentu suatu kesenangan tersendiri bagi seorang penulis kalau sudah bisa dikenali dengan ciri khas yang sudah melekat di pembaca. (Mohon maaf kalau kebanyakan ಥ_ಥ)


Dari penjelasan ini, tidak ada maksud lain selain untuk membantu kesayangan author sekalian, jadi jangan ada yang nanggapinnya berlebihan, okay? Semoga kakak-kakak bisa mengambil baiknya ya, dan setelah adanya penjelasan ini, bisa membantu pembaca kesayangan author dalam membaca Karya-karya, baik dari author sendiri atau pun dari sahabat penulis yang lain.


Dengan rendah hati dan penuh cinta, author Sanskeh ucapkan selamat hari rabu. Semoga hari kita penuh dengan kebahagiaan dan suka cita.


Have a good day n happy reading besst ꉂ(ˊᗜˋ*)♡

__ADS_1


Sampai jumpa di BAB selanjutnya, Ta taa....


__ADS_2