
Pagi hari selanjutnya, ketika dokter masih memeriksa kondisi Kak Anta di ruang rawat, aku berdiri di ujung ranjang untuk memperhatikan. Begitu pemeriksaan selesai dan mereka hendak pergi, aku melangkah mendekati salah seorang dokter yang masih mengamati infus.
"Seberapa parah luka dalam yang di derita suami saya?" tanyaku setelah menyimpan tas di bawah ranjang.
Sang dokter itu menengadah. "Dia beruntung. Karena dia sempat menahan tubuhnya tepat pada waktunya, sehingga kakinya masih bisa menghindar dari ban truk. Juga hal lain yang patut disyukuri, karena dia masih memakan helm, jadi kepalanya aman meski terbentur keras."
Dalam kondisi yang dialaminya, itu memang berita bagus. Tapi, tetap saja aku gelisah mengingat pasca operasi sampai sekarang Kak Anta masih belum juga sadarkan diri.
Aku segera menarik kursi dan duduk di samping ranjang Kak Anta seperti biasanya. Ku ambil lagi tas di bawah ranjang yang barusan ku bawa dari rumah.
"Kak, aku hari ini buat Roti kismis. Rasanya enak, manis dan sedikit asam. Dokter Rani dan Rambo sudah coba tadi, mereka suka. Kakak cepatlah bangun biar bisa makan semua resep terbaruku."
Namun, tentu saja tak ada jawaban, tak ada respon apa pun darinya. Hanya aku yang sendiri, bicara sendiri.
"Kakak tahu! Aku sudah belajar untuk bekerja dan cari uang! memang masih seminggu tapi aku senang sekali karena akhirnya aku jadi bisa mengubah pandangan hidup. Aku pikir dulu tak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa diandalkan, tapi sekarang aku berani untuk kerja, di tempat dokter Rani, Kak Rambo yang membantuku." Ucapku sambil mengusap keningnya yang bisa ku lihat lebih detail, ada tahi lalat di atasnya tepat di bagian kiri agak ke tengah.
"Oh, aku juga punya kabar baik. Mbak Isma dan aku akhirnya berbaikan, meskipun sebelumnya kami sempat menegang. Dia sebut aku dan anak ini pembawa sial untuk kamu, Tapi aku sadar kak, Mbak Isma bicara begitu karena sangat mengkhawatirkan kakak."
Lepas dari semua cerita itu, ku dekati wajahnya tepatnya di telinga kanan. Ku rapalkan doa-doa untuknya, ku bacakan pujian pada Tuhan agar memberikannya lagi nikmat kesehatan dan keselamatan.
Meski berusaha tersenyum dan menerima kenyataan. Tetapi, masih saja... jauh di lubuk hatiku aku sedih dan kecewa berat menanggung waktu untuk menantinya kembali sadar. Rasanya tak sanggup bila harus melihatnya dalam keadaan yang lemah. Alat medis di pasang sana sini...
"Kak... " Kataku lirih. "Bangunlah, aku rindu----"
"Kania,"
Aku lekas bangkit, mengangkat muka begitu ku dengar suara pintu kamar terbuka. Dan seseorang memanggil namaku.
"Dokter Rani... "
"Ada seseorang yang mau menemui kamu." jawabnya,
"Siapa?"
"Dia menunggu di luar."
Aku bangkit dari kursi. Di temani dokter Rani keluar melewati pintu, di depan ruang rawat Kak Anta rupanya sudah berdiri seorang lelaki paruh baya berpakaian lusuh bersama dengan anak perempuan kecil. Mengenakan sandal jepit dipadu celana pendek yang sudah di tampal dan beberapa bagian lagi masih ada sobekan.
Rasanya aku tidak mengenalnya. Apa tujuannya menemui ku? mungkinkah mereka kerabat Kak Anta? Aku memandangnya lebih cermat.
Aku menangkap pandangan matanya yang sayu, kantung mata tebal dan kerutan menggenangi wajahnya yang senja, memang begitulah orang berumur. Aura anaknya yang malu-malu, tersembunyi dibalik tubuh si bapak begitu aku membungkuk.
__ADS_1
Pada penghabisan tulang pipinya yang keriput, janggut putih menebal menutupi bibirnya yang kegelapan. Sementara rambutnya yang beruban tersisir rapi di dalam topi putih yang sudah hampir berubah kekuningan. Sebuah pembawaan yang begitu teduh dalam keseluruhan dan detail, dengan daya hidup yang senja persis seperti langit yang menjingga, Aku berbinar terutama saat kini ku lihat wajah jelita si kecil.
"Kak-kak-kakak."
Dia menyapaku. Oh, betapa terkejutnya aku, rupanya dia menderita gagap dan kesulitan bicara. Bapaknya yang menyadari itu, beranjak menggiring anak itu dari persembunyiannya.
"Kamu cantik sekali, kenapa malu-malu?" kataku.
Dia tersenyum, lalu mendongakkan kepala menatap lelaki tua yang ada bersamanya. Aku segera bangkit dan berdiri.
"Nyonya, saya Anthony. Ini cucu saya Putri Salju." Lelaki tua itu memperkenalkan diri.
"Saya Karunia," ucapku sambil menyalami tangannya. Lalu ku tatap lagi si gadis kecil yang lebih luwes sekarang. "Putri Salju? namamu cantik sekali!"
Lagi-lagi gadis itu mendongak, menatap kakeknya. Sementara bila ku perhatikan kakeknya mulai bermain tangan, mengeluarkan gerakan tangan, berbahasa isyarat.
"Te-te-teri-terima Ka-ka-sih." Ucapnya susah payah.
"Sebelum anda menyimpulkan apa pun, saya ingin anda tahu bahwa saya sungguh minta maaf untuk musibah yang menimpa suami anda. Saya minta maaf..."
Ku tatap dia, kakek tua bernama Anthony ini menangis di hadapanku setelah melepas topinya untuk bersimpuh.
"Pak, pak ada apa?" Lantas aku segera menunduk untuk membantunya kembali berdiri. "Kesalahan seperti apa pun tidak pantas bila anda meminta maaf sampai bersimpuh."
"Ini salahku sampai suami anda terluka. Aku seharusnya tahu untuk tidak melangkah ke luar jalur dan meninggalkan cucuku di seberang jalan sendirian. Saya minta maaf baru sekarang berani menemui anda, Kami ini pedagang tisu di lampu merah, saya tidak punya uang untuk ganti rugi, karena itu saya takut ke sini."
"Cucuku menderita tuli sejak lahir. Lalu ketika dia hendak menghampiriku setelah selesai menjajakan tisu pada pengguna jalan, dia menyebrang sendirian. Tapi karena kekurangan cucu saya itu, dia tidak sadar ada motor melaju ke arahnya. Mungkin tidak sempat tekan rem, karena kemunculan cucu saya yang tiba-tiba dari balik mobil, suami anda langsung banting setir ke tengah jalan. Dan dari arah berlawanan ada truk kencang langsung menabrak suami anda." Sekali lagi kakek itu berurai air mata.
"Pak-----" kataku, "itu bukanlah kesalahan anda atau Putri Salju. Semua itu murni musibah, kita tidak tahu di mana dan kapan mereka datang."
"Suami anda sudah menyelamatkan cucu saya, dia memilih menghindar agar tak menabrak Putri Salju, tapi malah dia yang bernasib tragis." Ujar Pak Anthony lagi. Dia menggenggam erat jemariku, namun tidak membuatku terganggu. Dia juga memandangku dengan berurai air mata.
Aku merasakan tangan Dokter Rani di bahuku. Aku tahu Dokter Rani akan melakukan hal itu tanpa ku sadari, bahwa aku sedang membutuhkan dukungan untuk terus berlapang dada dan tegar.
"Pu-pu-put-putri Sa-sa-l-ju ti-ti-dak be-ber-mak-sud me-me-lukai Pa-paman ba-baik," ujar Putri salju terbata dan susah payah setengah terisak.
"Tentu saja tidak----" Sahut dokter Rani sambil mengelus lembut kepala Putri Salju, meskipun entah ucapannya itu dapat didengar atau tidak. "Mari kita semua bersyukur karena tidak terjadi peristiwa yang lebih buruk, walau di dalam sana Anta Reza masih belum sadar, tapi dia telah berhasil melewati masa kritis."
"Apakah anda tidak menaruh dendam atau marah besar pada saya dan Putri Salju?" Aku bisa merasakan Pak Anthony ini bernapas dengan susah payah.
Batinku, Kak Anta kamu itu bukan sekadar sempurna dalam gambaran fisik, yang memampukan setiap orang mampu melakukan visualisasi secara imajiner, hanya dengan mendengar tentang penggambaran fisikmu. Tentang dirimu, sesosok pria dengan pancaran mata yang menggetarkan, dagu yang sensual, dan leher kecoklatan halus seperti pahatan Auguste Rodin. Sebuah ketampanan yang citranya tak hanya memberi kesan tentang tubuh dalam pengertian duniawi, namun terutama surgawi, dengan aura kesucian dan sakral, memabukkan bagai parfum mahal dari Paris.
__ADS_1
Kesempurnaan yang sesungguhnya melampaui citraan fisik secara kasat mata, tetapi juga bersumber dari suatu kekuatan yang misterius, nyaris seperti Ilmu magis untuk mencelakai orang; ada namun sulit dibuktikan keberadaannya, yang bila ditelusuri justru balik mematahkan dasar pikiran rasional manusia.
Ia memiliki jiwa yang murni, nyaris seperti mimpi seumur hidup, hampir menyerupai kegilaan.
Tak seorang pun paham bagaimana seseorang mengambil langkah, letak jiwanya tak bisa di pahami meski telah sedekat nadi, kita hanya mampu meraba, dari penggambaran jiwa yang kasat mata terlihat secara keseluruhan melalui sikap yang dia tampilkan di depan. Tapi di belakang, tak ada yang tahu apa yang ada dalam pikiran Kak Anta, apa yang menjadi pertimbangannya setiap kali mengambil langkah.
Hari ini, mataku semakin terbuka. Tentang suamiku yang memang tak bisa di duga, dia yang memiliki simpati dan rasa empati tak terkira, sebaik itu lah dia.... menikahi seorang gadis yang hamil di luar nikah, dengan mengorbankan hati dan cinta sejatinya. Rela berkorban jiwa untuk tidak mencelakai dan menyelamatkan seorang anak disabilitas.
Dengan segala kebaikan dan kelebihanmu itu, tak pelak kamulah figur dari wujud kesempurnaan Tuhan dalam menciptakan makhluk. Kak Anta, betapa beruntungnya aku dapat bertemu dan menjadi salah seorang yang penting di hidupmu. Dapat mendampingi kamu hingga detik ini, saat kamu terbaring kaku di atas ranjang rumah sakit.
"Suamiku selalu berkata, apa pun jalan yang dia ambil itu adalah keputusan mutlak yang sudah dia pertimbangkan baik dan buruknya. Dia selalu menegaskan, dia bukan lah orang yang setengah-setengah, selesaikan sampai tuntas atau tidak sama sekali." Kataku sambil menghela napas,
"Saya tidak dendam apalagi marah pada Anda dan Putri Salju. Ini adalah keputusan dan pilihan suami saya, karena itu sebagai istrinya saya akan mendukung."
Pak tua Anthony gemetar begitu aku mengucapkan kata-kata itu, dia menangis menjadi-jadi sambil terus berusaha untuk bersimpuh lagi di kakiku. Beruntung dokter Rani turut membantu, hingga kami akhirnya mampu menegakkannya lagi secara utuh.
"Karena sudah terlalu banyak ketegangan, bagaimana jika sekarang kita biarkan Anta Reza istirahat tanpa suara dari luar. Besok pagi mungkin dia boleh kembali dibesuk."
"Mari," Ajak dokter Rani. "Saya akan mengantar kalian, sudah makan belum? saya traktir di kantin bagaimana? Putri Salju suka makan apa?" ia tahu bahwa aku harus kembali berdua bersama Kak Anta.
Aku memutuskan untuk membalik badan dan kembali masuk ke ruang rawat, menemani Kak Anta.
"Hari ini seseorang datang meminta maaf untukmu kak," Ku genggam erat jemari Kak Anta namun tidak mengganggu aliran infus. Aku juga memandangnya dengan menitikkan air mata penuh keharuan.
"Jadi, ternyata itulah alasan mengapa kamu bisa berakhir seperti sekarang Kak!"
Aku tidak akan heran, kini aku telah mengetahui tentang peristiwa kecelakaan yang menimpamu. Kamu berkorban jiwa dan bertaruh nyawa untuk menyelamatkan seorang gadis surga bernama Putri Salju. Aku pun telah mengetahui mengapa kamu bisa menikahi ku dan sebab mengapa Petra bisa tahu kalau suamiku adalah seorang polisi. Hanya, aku tinggal menunggu penjelasan kamu. Atau mungkin ada alasan tak terduga di dalamnya? aku tak tahu.
Yang pasti saat ini, aku ingin kamu lekas sadar dan kembali sehat seperti biasanya.
Aku menatap Kak Anta lurus-lurus, hingga kemudian merapat lagi pada telinganya untuk membacakan doa. Hingga setelah terlarut membisik padanya, Tiba-tiba tanganku merasakan suatu respon dari jemarinya yang masih ku genggam. Tangannya bergerak...
"Kak? kak? Kamu sudah sadar?"
...****************...
Haloo ini author 🙋
Terima kasih sudah mendukung sampai bab ini! sekali lagi author mohon maaf karena masih belum bisa seaktif dulu berbalas komentar
(´∩`。) tunggu author besok lusa! jangan jeraaaa (┬┬_┬┬)
__ADS_1