
Satu minggu sudah aku akhirnya bekerja dengan keluarga Rambo, dengan dokter Rani. Dokter kandungan ku yang cantik dan baik hati. Dia sudah menikah lima tahun yang lalu, namun sayang sampai sekarang mereka masih belum dikaruniai keturunan. Dokter Rani, ku Do'akan kamu segera diberikan Tuhan keturunan, Tuhan tanamkan benih di rahimmu, Kamu seperti malaikat, bercahaya dan begitu lembut.
Pegi ini, ketika aku tengah sibuk mengepel di depan, depan meja resepsionis klinik. Aku dikejutkan oleh kedatangannya yang tiba-tiba setelah memegangi kedua bahuku dengan tangannya.
"Bagaimana Kania, aman?"
"Aman, dok." Jawabku, tersenyum ramah.
"Jangan bawa airnya terlalu banyak, ya. Dikit-dikit saja."
Dia tersenyum sambil berjalan pelan menuju Sofa pasien yang terletak di samping meja resepsionis.
"Siap, dokter."
"Siang-siang begini, enak nyemil ya! hmm... Roti enak, pakai es serut. Astaga beli di mana ya? Pesan online dulu coba, Kania suka roti, kan?"
Aku mendekatinya, lalu berkata; "Kenapa harus beli dokter? aku tadi bawa roti dari rumah!"
"Oh, ya? Roti apa?"
"Roti goreng, di atasnya ditaburi gula halus."
Aku segera memutar badan, menuju meja resepsionis untuk mengambil kotak makan yang ku bawa dari rumah dan kembali lagi menghampiri dokter Rani.
"Hmm...Wanginya!!! Kelihatannya enak, ya... " ucapnya sambil mengendus setelah aku membuka penutup kotak makan.
"Ambil saja dokter, coba saja bagaimana rasanya."
"Tapi ini bekal kamu, memangnya tidak apa-apa?"
"Aku sudah makan tadi, dok. Jadi, dari pada ku bawa lagi pulang, boleh dokter coba dulu."
"Sungguh?"
"Ya, sungguh."
Lantas dia mengambil satu potong, kemudian menggigitnya dengan satu gigitan. Begitu roti itu selesai dikunyah, dia masuk ke kerongkongan nya yang halus dengan lembut, disusul kunyahan yang kedua, ketiga dan seterusnya. Mereka mengalir begitu pas, bagai desiran debu halus yang begitu lembut diantara urat lehernya yang kebiru-biruan.
"Enak!! Kania ini enak sekali!" Sahutnya dengan bola mata membulat. "Kamu ternyata pintar masak, ini bahkan lebih mantap dari yang di toko. Kamu pakai bahan apa?"
"Sebenarnya ini hanya roti goreng biasa, dok. Bahan-bahannya pakai bahan untuk buat roti biasa. tapi, aku ada menambahi satu bahan spesial!"
"Apa? cepat beritahu. Aku penasaran!"
"Cinnamon." Jawabku.
"Ah, pantas. Aromanya lain, dan terkesan mewah. Mantap sekali Kania! kalau boleh sering-sering buat, ya. Aku langsung jatuh cinta."
"Boleh dokter, nanti akan ku buatkan khusus untuk dokter Rani yang cantik dan baik hati."
"Bisa saja," Ucapnya sambil tertawa kecil setelah mendengar jawabanku yang sedikit menggodanya.
__ADS_1
"Wih, ada cerita apa hari ini?" Sahut Seseorang yang baru datang secara tiba-tiba, masuk setelah membuka pintu depan tanpa terduga.
"Rambo!" Dokter Rani melotot.
"Kak..." Sapaku sambil menunduk.
Dalam pikiranku, Rambo ini memang orang yang sulit ditebak persis sekali dengan sahabatnya, Kak Anta. Kadang dia ada di sini, lalu tiba-tiba dia ada di sana. Dia mampu bersikap tenang dan tegas di balik karakteristik aslinya yang luwes. Hanya saja yang pasti, dia sekarang tengah dilema berat, karena di usianya yang hampir berkepala tiga, dia masih belum menemukan tambatan hati yang tepat.
"Siang-siang ke sini, kamu minggat?" Ucap dokter Rani ketus.
"Dasar tukang fitnah! aku izin sebentar." Jawab Rambo, "Omong-omong kalian sedang apa?"
"Aku cicip roti goreng buatan Kania, mantap sekali!"
"Wah, kalau ini sih aku harus diajak, jangan sendiri-sendiri. Mana bagianku?"
Lalu dengan lincahnya dia mendekat ke kotak makan yang ada di genggaman ku. Begitu tangan berbulu tipis dan berurat itu hendak mencomot, mengambil satu potong roti. Satu tepisan maut meluncur untuknya.
"Akh, sakit!!" Rambo merintih sambil menggosok-gosok punggung tangannya yang terasa panas.
"Kamu ini, memang tidak tahu malu, ya?! ini punya Kania, langsung minta bagian!"
"Aduh dok, aku sudah kenyang." sergahku, "Ini Kak, kakak boleh makan sebanyak yang kakak mau. Aku sangat senang kalau rotinya banyak yang mau coba."
"Nah!" Kata Rambo, raut wajahnya berubah sumringah, sesaat setelah aku menyodorkan kotak makan itu kepadanya.
Lalu di tengah itu semua, datanglah seorang pasien bersama seorang pria yang memapahnya, tebakanku, mereka ini adalah suami istri
"Oh, sebentar." Sahut dokter Rani, "Aku ada pasien, tunggu ya! hei Rambo, jangan habiskan! sisakan untukku!" katanya pura-pura marah.
Rambo hanya membalasnya dengan tengil, memasang wajah konyol, Kemudian agak samar ku dengar, dia menggerutu pada kakaknya dengan ucapan, "Cerewet!!!"
Begitu dokter Rani menghilang dari pandangan, Tiba-tiba saja Rambo sudah menelan setengah rotinya. Kapan dia mengambil? entahlah, dia begitu cepat bagai seorang bajing loncat.
"Rasanya aku pernah makan roti ini, tapi di mana ya? Enak!"
"Waktu itu Kak Anta pernah bawa bekal roti ini, aku sengaja bawakan banyak untuk dimakan bersama rekannya juga." jawabku.
"Nah, betul! aku makan ini dari Anta Reza. Ini enak sekali! Kamu cocok jadi juru masak loh!"
"Jangan berlebihan begitu Kak, aku tidak sehebat itu." Kataku, "Aku tidak pandai masak, tapi sejak menikah, aku mulai belajar. Waktu pertama kali masak dulu untuk Kak Anta aku sering salah takaran. Kadang keasinan, kadang kurang asin, kadang terlalu pedas. Kak Anta kan kurang suka makanan pedas, dia suka makanan yang manis-manis. Jadi, karena itu aku belajar buat roti untuknya. Ternyata dia suka! terus aku coba inovasi kan karena kak Anta suka cinnamon."
"Dia pasti suka! rasanya enak begini. Khas sekali." Sahut Rambo dengan semangat yang menyala-nyala.
"Tapi, sayangnya dia belum pernah coba----" jawabku pelan.
Kami sempat hening beberapa saat, terutama saat sorot mataku berubah menjadi pilu. Dan Rambo terlalu peka untuk hal semacam itu, hati dan pikirannya bekerja sangat pas dan berkesinambungan sehingga hal seperti ini tidak perlu lagi ku kejutkan.
"Kania, kamu yakin mau pisah?" katanya pelan, "Kamu sangat sayang dengan Anta, sampai coba masak semua makanan kesukaannya. Bahkan setelah pisah rumah pun, kalian itu masih saling terhubung. Kamu masak ini, karena kamu rindu, kan dengan Anta?"
Aku terdiam, menatapnya penuh, bahkan dia jauh lebih peka pada perasaanku ketimbang diriku sendiri.
__ADS_1
"Jangan ditahan begitu. Cobalah untuk saling membuka diri, aku yakin dia memikirkan perasaan kamu juga makanya tidak berani jujur."
"Walau aku yang harus buka omongan Kak?" jawabku.
"Kamu mau memaafkan dia?"
"Aku tahu Kak Anta juga mengorbankan hal besar untuk ini. Aku menyadari bahwa Kak Anta juga korban di sini. Hanya saja, aku bimbang. Dia tidak memiliki perasaan padaku, sedangkan dia mempertahankan rumah tangga kami karena rahasia itu."
"Maka dari itu, kamu harus cari tau bagaimana perasaannya." Katanya sambil menepuk pundakku.
"Tapi dia masih mencintai masa lalunya."
Angin berkitaran dalam ruangan yang kian berkilauan dan bersamaan dengan itu, Rambut Rambo yang legam dan melengkapi sosok dirinya yang bersinar, bagai malaikat penerang, yang membawa lentera, Kami terbakar bersama dengan semua masalah yang kini nampak sudah ada titik terangnya.
"Jangan menghilang, tumbuhkan lah cinta secara perlahan. Kalau sudah ada cinta, masalah besar seperti apa pun akan lewat." Ucapnya sambil menepuk pundak ku.
"Mau masa lalu mengejar, kamu adalah istrinya! Suami mu sendiri yang mengatakan pilih kamu, jadi tugasmu adalah menemani dia menumbuhkan rasa! bukan berpisah!"
"Kak? ---"
"Jangan takut, dia juga butuh kamu..."
Malamnya setelah pulang kerja, setelah semua ucapan Rambo itu. Akhirnya ku putuskan untuk menelpon, Kak Anta. Mencoba untuk mengajaknya bicara dan berusaha untuk memperbaikinya bersama-sama.
"Halo Kania?" Kata Kak Anta dari kejauhan sana.
"Ha-halo, Kak." Jawabku gugup,
"Aku senang sekali akhirnya kamu mau menghubungi ku lagi. Bagaimana hari ini? Kamu sudah makan?"
"Sudah kak. A-aku mau bicara sesuatu!"
"Bicara? tentang apa? katakan saja! aku akan dengarkan."
"Bukan di telepon. Besok bisa pulang ke rumah? kita bicara di sini."
"Kania, aku tidak salah dengar kan? sungguh kamu memintaku pulang?"
"Ya, sungguh! akhir-akhir ini aku belajar buat roti goreng pakai cinnamon, kesukaan kakak."
"Oh, ya? Aku harus coba! besok buatkan untukku ya?"
"Tentu saja! aku sudah stok mentahnya banyak."
"Aku tidak sabar! tidurlah dulu, istirahatlah yang cukup! besok kamu akan menguras tenaga buatkan aku roti goreng terbanyak dan enak!"
"Siap, selamat malam Kak Anta."
"Selamat tidur Kania, sampai jumpa besok malam."
Begitulah semua, akhirnya setelah hampir mengawang, Aku di yakinkan dan dikuatkan oleh sosok Rambo yang begitu setia. Terutama untuk permasalah berat begini, aku merasa begitu beruntung karena mampu membuat keputusan yang sama sama memuaskan.
__ADS_1