I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 29 - Antara Percaya dan Resah


__ADS_3

Malam begitu tenteram dalam keagungannya. Sebuah bintang yang sendiri berjalan merapat ke kerumunan bintang di sekitarnya. Bintang itu perlahan-lahan berbinar-binar dan tampak tegar pada orbitnya di tengah alam semesta yang demikian luas dan gelap. Mungkin manusia tak pelak jauh berbeda dari bintang itu. Setiap manusia berbagi segala apa yang dirasakannya, agar semakin kokoh dan kuat.


Berbagi dengan orang lain tak berarti mengurangi kesendiriannya, melainkan sekadar agar tidak terlalu pengap dan berat menanggung nasib kesepian. Mbak Isma saat ini, pasti sangat membutuhkan uluran tangan dari Kak Anta. Meskipun Kak Anta itu adalah masa lalu yang masih belum bisa ia lepaskan.


Sementara gumpalan awan dari tepian awang-awang kian mendekat, membentuk mendung tebal.


Aku memandangi jam dinding, sudah jam sepuluh malam, lewat dari waktu makan malam dan Kak Anta masih belum pulang. Tetapi, aku masih setia menunggunya di meja makan, sayangnya, lauk pauk yang sudah ku tata rapi mulai dingin.


Aku sama sekali tak ingin menghakimi atau kecewa, bermimpi atau pun membayangkan situasi yang menyebabkan Kak Anta pulang telat malam ini. Meskipun sejujurnya aku tidak tahu bagaimana akan sanggup bertahan sampai bertemu Kak Anta di rumah.


Setengah jam kemudian, sekitar pukul 10.30 malam. Ketika aku sudah selesai merapikan lagi meja makan, piring sudah ku kembalikan lagi ke rak. Tepat pada saat itulah ponsel ku berdering, Ku lihat ada sebuah notifikasi panggilan masuk. Ternyata Kak Anta-----


"Halo?" Sapanya dengan nada gelisah.


"Ya Kak, aku di sini," Ucapku.


"Belum tidur?"


"Aku masih menunggu kakak."


"Kania? Aku minta maaf karena tidak bisa menepati janji, ada sesuatu yang harus membuatku pulang telat, mungkin bisa jadi tengah malam. Tidurlah lebih dulu, jangan menungguku lagi. Makan malam jangan tinggal!"


"Kakak sudah makan?----"


"Mas, ayo cepat!


Oh, betapa terkejutnya aku mendengar suara seorang wanita, yang aku yakini dia adalah Mbak Isma. Aku sedikit gugup.


Kak Anta mematikan teleponnya tanpa menjawab tanggapan dariku. Mungkin di situ situasi benar-benar genting, jadi harus segera mengakhiri obrolan.


Setelah mendapat kabar kepastiannya itu, aku mantap untuk masuk ke kamar dan tidur. Sambil memandang langit-langit kamar, Aku menggumam, rasanya masih belum percaya dia menelpon ku di tengah malam hanya untuk memberikan kabar dan menyuruhku berhenti menunggunya.


Mendadak mendung tebal di langit pecah dan hujan turun bagai kristal. Dari luar, angin menghambur dari jendela laksana amukan maut, yang dapat menghantam kami kapanpun bersentuhan langsung. Tiba-tiba pandanganku mengabur saat air mata memenuhi pelupuk. Aku menghadap ke kanan sambil mengusap kelopak mata dengan tangan.

__ADS_1


Malam basah oleh hujan, aku basah oleh hati dan pikiran yang rasanya ingin meledak. Aku tidak marah, tidak kesal, aku pun mengerti bahwa mereka tidak akan berbuat di luar batas. Aku memberi kepercayaan pada Kak Anta, dan aku yakin dia mampu menjaganya. Hanya saja... Perasaanku yang sensitif, tidak terjadi apa pun tapi malah merasa melankolis. Mungkin karena malam yang dingin.


Mataku perlahan mengatup, dan hanya cicak yang menemaniku.


Sementara hujan terus menderas, suara mesin mobil masuk ke garasi dekat halaman beradu dengan berisiknya suara air di genteng dan kilat gemuruh. Mataku mengerjap-ngerjap dan segera ku tutup lagi setelah tak lama kemudian ku dengar suara pintu terbuka dan tertutup.


Sebuah sentuhan hangat di kepalaku mendarat. Sentuhan dari tangan yang besar dan basah, siapa lagi kalau bukan milik Kak Anta.


"Syukurlah sudah tidur," Katanya.


Sepanjang aku pura-pura tidur; dia sibuk berganti pakaian dan aku sibuk curi-curi pandang dengan mata menyipit, yang siap menutup jika Kak Anta berbalik badan.


Oh, ketika dia menanggalkan jaket kulit itu kemudian melepas kaosnya. Di saat itulah aku seperti disihir oleh kekuatan magis yang memancar dari aura kejantanannya yang membara. Pandanganku terpusat pada sosok lelaki tangkas yang berdiri depan lemari dengan sikap gagah seperti imajiner seorang dewa dari Yunani. Aku akhirnya memiliki kesempatan untuk menikmati keindahan otot belikatnya yang gagah, meski samar-samar.


Kenikmatan itu segera kandas setelah Kak Anta mengenakan pakaian gantinya kembali. Dan ketika dia memutar badan, aku segera menutup lagi mata rapat-rapat.


Ku pikir dia akan pergi tidur, tetapi aku sedikit terkejut ketika dia memilih keluar kamar.


Ku putuskan untuk mengakhiri kepura-puraan, dan menyusulnya yang pergi ke belakang. Awalnya aku mengira dia ke dapur untuk membuat kopi, tetapi rupanya malah duduk di meja makan lengkap dengan piring yang sudah berisi nasi.


"Kamu terbangun? Maaf ya, tidurmu jadi terganggu."


"Tidak, bukan karena kakak." Kataku, seraya menarik kursi yang ada di depan Kak Anta. "Tengah malam begini mau makan?"


Kak Anta tersenyum menatapku, dengan ekspresi yang tak bisa di duga-duga. "Kamu sudah susah payah masak untuk makan malam, aku harus menghargainya."


Begitu dia ingin mengambil sayur, aku cepat-cepat merebut tangannya dan merapatkannya di dadaku. Terpaksa Kak Anta mengangkat badan agar minumannya di meja tidak tumpah. Jantungku berdebar hebat, seakan di dalam diriku sedang mengamuk badai hebat yang siap menghancurkan kerajaan kehidupan ku.


"Boleh ku cium tangan kakak?" Kataku memohon. "Kalau tidak boleh juga tak apa Kak, maaf."


"Kalau aku menolak, semua makanan ini akan tumpah karena kamu menarik badanku." Katanya sambil tersenyum.


"Sungguh?"

__ADS_1


"Ya, sungguh."


Aku mengangguk, lantas segera ku cium punggung tangannya yang dari tadi berada dalam kuasaku. Ku cium tepat tengah-tengah jari jemarinya.


"Selamat datang Kak." Kataku menyambut kepulangannya beberapa menit yang lalu.


"Terima kasih."


"Biar aku yang ambilkan makanannya." Sahutku, dan dia pun mengangguk. "Sudah, sekarang nikmatilah makan malam kakak."


Dia pun memakannya dengan lahap, sedangkan aku memandangnya terus dengan senang. Lenyaplah sudah perasaan sentimentil yang dari tadi menghantuiku, ketika dia masih berada di luar, jauh dariku dan dekat dengan Mbak Isma.


"Bagaimana urusan Mbak Isma?"


"Abah tidak jadi ditahan, karena perkaranya bukan pidana. Tapi, mang Haris akan menempuh jalur lain, yang lebih tepat. Yaitu secara perdata."


"Berarti belum selesai?"


"Ya, benar."


"Jadi bagaimana?"


"Aku minta maaf ya?! Mungkin mulai besok aku bisa lebih sering bertemu mereka, sebab Emak minta bantuan ku untuk membantu Isma dan Abah sampai perkaranya selesai."


Aku terdiam. Urusannya rupanya jadi panjang. Di samping itu semua, perasaan gelisah kembali menyelimuti ku. Aku mungkin bisa mempercayai Kak Anta. Tetapi, Mbak Isma .... Ah, sudahlah. Selama Kak Anta mampu membentengi diri, maka kedekatan seperti apa pun tak akan menciptakan peluang sedikit pun.


...****************...


...🌻🌻🌻...


...Mampir ke sini bestay ...


__ADS_1


__ADS_2