
Malam semakin larut, seorang gadis dengan surai indigo membuka matanya.
Dia dengan cepat bangkit dari kasur miliknya dan mengganti pakaian dengan pakaian hitam ketat, rambut indigonya diikat ekor kuda dan mengenakan topeng yang hanya menutup wajah bagian atasnya.
Mengambil semua senjata miliknya, dan duduk dengan tenang menatap cincin yang ada di tangannya.
"Kaa-san, doakan Hinata agar berhasil menghabisi para cecunguk itu dan menyelamatkan Neji-nii"
Dia menutup matanya dan kembali membuka. Iris lavender yang tadinya penuh kelembutan kini hanya niat membunuh yang tercermin di mata itu.
Hinata dengan cepat melompat keluar jendela, dan memanggil burung elang miliknya yang ukurannya sangat besar.
"Bao-bao tolong jadi sayapku."
Elang itu menempel di punggung Hinata dan membawanya terbang membelah pekatnya malam.
Hinata membiarkan Bao-bao untuk bersembunyi, sedangkan dia sedang mengamati gudang tua yang tidak layak disebut.
"Jadi di sini?"
Hinata melompat turun dari atap gedung yang lumayan tinggi dan menerobos masuk, yang pertama dilihatnya adalah segerombolan pria besar dengan berbagai senjata sedang menyandera seorang pemuda yang tampak tak sadarkan diri.
"Hoo, Devil Princess akhirnya tiba. Ingin menyelamatkan orang ini?"
Hinata tidak berbicara, aura membunuhnya semakin pekat. Matanya bersinar dingin memandang sekelompok orang tak berguna.
"Aku tidak peduli pada siapa yang kalian sandera, tapi karena kalian telah mengusikku, maka matilah!!"
"******, aku akan membunuhmu."
Sekumpulan pria besar itu maju serentak menerjang Hinata, Hinata dengan lihai menghindar dan menyerang musuh terdekat. Di kedua tangannya, belati tajam bersinar tampak menakutkan.
Srek
Srek
3 orang telah jatuh, darah mereka membasahi pakaian Hinata, Hinata menyeringai sambil menjilat belatinya yang dipenuhi darah.
Salah satu musuh maju ingin menebas leher Hinata, Hinata dengan sigap menunduk dan menikam belatinya ke jantung orang tersebut.
Dia kembali berputar dan menendang musuh yang berada di belakangnya dan dengan cepat memotong leher musuhnya.
Saat pedang akan menusuk keningnya, dia menghalaunya dengan belati , dan memberikan tendangan pada musuhnya hingga tak bisa bergerak.
Perkelahian atau lebih tepat pembantaian yang dilakukan Hinata terus berlanjut, hingga tak ada lagi musuh yang berdiri menyisakan dirinya sendiri.
"Heh, kalian hanya cecunguk dan ingin mengusikku? Kalian sungguh punya nyali."
Pandangannya beralih ke arah pemuda yang tengah pingsan, dia berniat ingin menyelamatkannya, tapi tidak menyadari 1 musuh masih belum tewas dan menikam dirinya tepat di jantungnya. Tepat saat Hinata terjatuh, suara langkah kaki panik terdengar di luar hingga menampilkan seorang pemuda dengan surai raven yang merupakan sahabat dari pemuda yang pingsan melihat Hinata ditikam, ia langsung menebas leher pria yang menikam Hinata.
Hinata mencabut pedang yang menembus jantungnya, darahnya menyirami cincin pemberian sang ibu. Sebelum kesadarannya menghilang, dia merebahkan kepalanya di pangkuan pemuda yang ingin diselamatkan, membuat pemuda dengan surai raven tertegun, dia tahu siapa gadis ini, tapi dia tidak tahu identitas aslinya.
"Syukurlah Neji-nii tak apa, aku bisa lega."
Hinata melepas topengnya, menampilkan wajahnya yang cantik dengan darah mengalir keluar dari sela-sela bibirnya.
Neji yang pingsan akhirnya sadar saat Hinata menyentuh pipinya sambil tersenyum.
"Nii, aku menyerahkan Clan padamu! Tolong lindungi mereka semua."
"Hi..hinata ka..kau?"
"Nii, inilah diriku yang sebenarnya, seorang gadis berdarah dingin yang membunuh tanpa ampun hanya untuk melindungi Clan, aku saat siang hanyalah ilusi belaka."
Pemuda bersurai raven dan beberapa pemuda serta gadis lainnya terkejut dengan pengakuan Hinata yang dengan berani membunuh hanya untuk melindungi Clan dan keluarganya.
"Tak perlu sedih karena ini sudah menjadi takdirku semenjak Kaa-san pergi, aku bahagia karena kau tak apa-apa, jadi aku bisa pergi dengan tenang."
Dengan ucapan terakhirnya, Hinata menghembuskan napas terakhirnya dengan senyum lembut menghiasi bibirnya, membiarkan Neji menangis dengan Histeris.
Adik perempuan yang selalu dibencinya, karena sangat pemalu dan lemah, bahkan berbicara pun tergagap adalah seorang gadis yang selalu melindungi Clan dalam kegelapan? Yang bahkan semua penghuni Clan tidak mengetahui kebenarannya.
Pemuda raven memegang pundak Neji dan menggeleng lemah.
"Jangan biarkan dia pergi dengan sia-sia, karena dia menyerahkan semua padamu, jadi kau harus mengembannya. Ayo bawa Hinata ke kediaman Hyuuga dan menguburkannya dengan layak!"
__ADS_1
Sejujurnya dirinya juga sering membully Hinata, beruntung Hinata tidak membunuhnya detik itu juga.
...
Jiwa milik Hinata terus melayang di ruang kosong hingga sosok bercahaya menghampirinya.
"Hinata, buka matamu sayang."
Mendengar suara lembut yang dikenalnya, Hinata membuka matanya memandang wanita bercahaya itu.
"Kaa-san, apa aku ada di surga?"
Hinata tersenyum miris, bagaimana mungkin dia tiba di surga dengan tangannya yang telah basah oleh darah?
"Tidak sayang, kau saat ini terpilih oleh surga untuk mengabulkan permohonan seorang gadis."
Perlahan sosok gadis yang memiliki wajah hampir serupa dengan Hinata mendekati mereka.
"Apa yang bisa aku bantu?"
"Tolong gantikan aku, kau bisa menempati tubuhku dan membuat semua orang yang menyakitiku menyesali semuanya. Serta carilah kedua orang tuaku, aku yakin mereka masih hidup, tapi keberadaan mereka tidak diketahui."
Hinata berpikir sejenak, dan memandangi sang ibu yang tersenyum tulus.
"Baiklah."
Gadis itu tersenyum dan memegang kening Hinata, mentransferkan semua ingatan dan kenangan miliknya.
Hinata tidak merasakan apa pun dan dengan lembut tersenyum.
"Aku bisa lega sekarang, kehidupan yang kau hadapi akan lebih keras dari kehidupanmu dulu. Jaga dirimu!!"
Gadis itu mengecup pipi Hinata, kemudian menghilang menyisakan Hinata dan sang ibu.
"Sayang, saat kematianmu apakah cincin itu melekat di jarimu?"
Hinata mengangguk dan tersenyum kecil.
"Mana mungkin aku melepasnya, itu adalah harta berhargaku yang diberikan Kaa-san."
"Bagus, maka cincin itu saat ini berada di jari gadis itu. Hinata, cincin tersebut bukanlah cincin biasa, tapi merupakan ruang dimensi kecil. Kau akan mengerti jika telah sampai di sana. Pergilah dan penuhi takdirmu, Kaa-san menyayangimu."
"Kaa-san tunggu aku, aku menyayangimu."
Hinata perlahan menjadi transparan, hingga kembali membuka matanya dan mendapati dirinya tertidur dengan perut kelaparan.
Dia mencoba bangun, tapi ingatan yang ditransferkan oleh gadis misterius tersebut menyerbu masuk ke dalam kepalanya, membuatnya sangat kesakitan, hingga menyebabkan dirinya kembali tak sadarkan diri.
Saat berikutnya, mata Hinata membuka menampilkan iris ungu yang memesona. Dia melihat keluar dan ternyata hari masih gelap, ia ingat semua ingatan pemilik asli. Pemilik asli merupakan seorang Nona muda ke empat dari keluarga Nalan, tidak bisa berkultivasi dan tubuhnya sangat lemah, bahkan tidak ada pelayan yang ingin melayaninya.
Dia selalu ditindas, bahkan jarang diberi makanan sehingga membuat tubuhnya yang berusia 15 tahun tampak seperti gadis 13 tahun. Hinata melihat cincin di tangannya, dan mengingat kembali apa yang dikatakan oleh ibunya.
Dia tidak tahu bagaimana membuka ruang dimensi cincin tersebut, yang ada di kepalanya sekarang adalah dia ingin mengisi perutnya.
"Karena kalian ingin membiarkanku mati kelaparan, maka aku akan mencari makananku sendiri."
Hinata berdiri merapikan sedikit pakaiannya yang kumal dan berjalan menuju dapur. Meski tubuhnya saat ini lemah, tapi dia masih memiliki kelincahan di kehidupan sebelumnya.
Saat dia ingin melangkah keluar, tiba-tiba dia melihat pemandangan berubah cerah dengan hamparan rumput hijau, ada juga danau yang memiliki air sangat jernih.
Hinata tampak bingung melihat sekeliling, hingga dia dikejutkan oleh suara yang seolah menyambutnya.
"Selamat datang di ruang antariksa 7 lapis. Nona, biarkan aku melayani kebutuhan Anda."
Hinata terkejut dan memandangi seorang gadis kecil mengenakan hanfu putih, rambutnya diikat dengan gaya sederhana membuatnya cukup lucu.
"Siapa kau?"
"Aku adalah penjaga ruang antariksa 7 lapis ini dan tidak memiliki nama, tolong Nona memberiku nama."
Hinata berpikir sebentar dan dia tersenyum jahil menatap gadis kecil tersebut.
"Baiklah, mulai sekarang kau akan dipanggil Zi Mo."
Gadis kecil itu tersenyum bahagia dan menarik Hinata.
__ADS_1
"Nona ikut aku, aku akan menjelaskan semua yang ada di sini."
"Baik."
"Secara alami ini merupakan Ruang antariksa 7 lapis, saat ini kita berada di lapisan pertama yang hanya menyajikan tanah lapang dengan danau. Nona dapat menanam apa pun di sini yang diambil dari luar dan kesegaran dan kualitasnya akan berbeda 10 kali lipat dengan apa yang di tanam di luar."
Hinata menyeringai mendengar apa yang dikatakan Zi Mo dan dia mengangguk.
"Lalu danau itu apa ada ikan di dalamnya?"
Zi Mo menatap bodoh pada Hinata, tapi dia tersenyum sesaat.
"Di dalam sana tidak ada ikan, air danau tersebut memiliki keistimewaannya tersendiri, karena air di danau dapat menumbuhkan tanaman lebih cepat serta dapat memulihkan energi roh yang terkuras, dan menyembuhkan energi roh yang terluka."
Hinata membuka mulutnya tak percaya mendengar penjelasan Zi Mo.
"Nona, aku lihat tubuh Anda sangat lemah dan itu banyak racun di dalam tubuhmu yang telah menumpuk."
Hinata belum sempat memeriksa kondisi tubuhnya. Saat dia mendengar Zi Mo mengatakan jika dia adalah pot racun berjalan, Hinata tidak membuang waktu lagi dan memeriksa denyut nadinya. Benar saja, terlalu banyak racun dan tubuh ini hampir mencapai batas.
"Nona, ada baiknya Anda berendam dalam danau itu untuk menghilangkan racun di tubuh Anda, tapi ini akan sedikit sakit."
Hinata tersenyum lembut dan mengelus kepala Zi Mo.
"Tidak masalah, yang terpenting adalah untuk menghilangkan racun di tubuh ini."
"Setelah Anda berendam, Zi Mo akan membawa Anda ke pondok untuk melihat-lihat berbagai buku pengetahuan, kemungkinan akan berguna."
Hinata berbinar dan mengangguk. Tanpa membuang waktu lagi, Hinata memasuki danau.
Begitu kakinya melangkah, Hinata meringis dalam benaknya dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara. Saat seluruh tubuhnya sepenuhnya tenggelam di danau, rasa sakit itu semakin intens layaknya ribuan semut merangkak di setiap inci dagingnya. Hinata berkeringat dingin, wajahnya yang pucat kini tampak semakin pucat.
Air danau yang tadinya jernih kini berubah menjadi hitam, menandakan semua kotoran dan racun yang ada di dalam tulang telah dikeluarkan secara bersamaan. Cairan hitam itu berbau busuk, tapi anehnya beberapa cairan berwarna hitam itu tenggelam dan menghilang sebagiannya berputar dan berkumpul menjadi 1 dan membentuk pil hitam.
Zi Mo mengerutkan alisnya melihat kejadian yang tidak pernah dilihatnya, dan menatap Hinata yang masih tidak mengeluarkan suara.
Kretek
Kretek
Suara patah tulang serta beberapa meridian miliknya yang tersumbat secara paksa membuka, membuat Hinata membuka sedikit mulutnya dan mengerang rendah.
Saat itu pula pil hitam pekat menyerbu masuk ke dalam mulut Hinata dan dengan cepat larut.
Selain bunyi tulang yang diperbaharui, Hinata merasakan darahnya dialiri oleh sesuatu berwarna hitam dan segera bercampur. Aliran hitam tersebut merupakan racun yang telah dibentuk menjadi pil oleh air danau. Meski itu bercampur dengan darahnya, tapi tidak membahayakan tubuh mungil Hinata
Zi Mo terdiam melihat kejadian itu, tapi tidak merasakan jika Hinata dalam bahaya jadi dia lega. Namun, keningnya kembali berkerut hingga lengkungan indah terbentuk di bibir mungilnya.
"Darah milik Nona saat ini merupakan racun yang sangat berbahaya, Nona juga secara alami kebal terhadap semua jenis racun."
Merasakan tubuhnya sangat ringan dan bertenaga, Hinata membuka matanya dan tersenyum manis melangkah keluar dari danau.
Dia melihat Zi Mo berdiri di pinggir danau menantinya, membuat dirinya hangat.
"Nona, ayo ikut aku ke pondok, di sana ada 1 set pakaian untuk Anda kenakan.”
Hinata mengangguk sedikit dan mengikuti Zi Mo menuju pondok kecil. Zi Mo memberikan Hinata 1 set pakaian untuk dikenakan, setelah mengenakan pakaian, Hinata melihat isi dari pondok tersebut yang sangat rapi.
Lemari yang menempel di dinding memiliki banyak buku yang berjejer rapi, lemari yang berhadapan dengan lemari buku tersusun beberapa botol porselen dan yang Hinata tidak tahu apa isinya.
Dari ingatannya, Hinata tahu jika di dunia saat ini dia berada sangat menjunjung seni beladiri. Siapa pun yang tidak mampu berkultivasi akan dianggap sampah yang tidak berguna, terlepas seberapa cantik dan tampannya Anda.
Hinata mengerti dengan dirinya saat ini, dia masihlah sangat lemah dibandingkan dengan remaja seusianya. Meski racun sudah dikeluarkan, dia masih harus melatih tubuhnya untuk mengembalikan kelincahan dan kemampuan puncaknya.
"Hah, ini akan menjadi perjalanan panjang."
Hinata mengambil sebuah buku di mana tertulis 'pelatihan Kultivasi untuk pemula', Hinata membacanya dengan saksama dan sangat fokus menghafal setiap kata yang ada di buku itu.
Hinata mengambil posisi lotus seperti yang dijelaskan di buku dan mulai menyerap Qi spiritual di sekitar.
Dia memejamkan matanya dan menyerap semua Qi Spiritual yang menyerbu masuk. Hinata merasa bahagia, tapi beberapa saat kemudian Hinata membeku.
Qi Spiritual yang diserapnya lenyap begitu saja? Dia mengulangi dan mulai menyerap Qi Spiritual, tapi hasilnya sama.
"Sialan ada apa dengan tubuh ini?"
__ADS_1
Dia sangat marah, tapi dia dengan cepat menenangkan diri, ia ingin tahu penyebab yang mengakibatkan semua Qi spiritual yang menghilang begitu saja.
Dia kembali menyerap terus menerus tanpa lelah meski akan menghilang tanpa jejak, membuatnya sangat frustrasi.