
Kaisar mengajak ketujuh generasi muda itu untuk melihat-lihat Kamp militer.
Hanya Kaisar yang berada di dalam gerbong, sementara para pangeran serta Hinata dan Long Aoxue menunggangi kuda.
Ji Xuan, Ji Liang, Hinata memasang wajah datar nan dingin di sepanjang perjalanan. Long Aoxue mengenakan cadar untuk menyamarkan dirinya jika seseorang dari keluarga Jenderal mengenalinya.
Putra Mahkota, Ji Chen dan Ji Hui selalu tersenyum, tapi aura mereka seolah meminta orang-orang menjauh.
Butuh waktu 30 menit untuk sampai ke Kamp Militer. Kaisar turun dari gerbongnya dan diikuti oleh ketujuh anak-anaknya.
Beberapa Jenderal muda dan pemimpin tim kecil yang berada di kamp militer langsung memberi hormat pada Kaisar serta para pangeran.
"Bangun!"
Mendengar suara Kaisar, mereka semua langsung kembali dalam posisi tegak dan lurus.
Beberapa dari mereka bertanya-tanya siapa kedua gadis yang mengikuti Kaisar.
Mengetahui pikiran mereka, Kaisar langsung memperkenalkan Hinata dan Long Ao Xue pada mereka.
"Mereka adalah anak perempuanku. Yang berambut ungu bernama Zi Hua, kalian bisa memanggilnya Putri Rui. Yang memakai cadar adalah Ao Xue kalian akan menyebutnya Putri An Ping."
"Ya, Yang Mulia.."
"Lanjutkan latihan kalian!"
Mendengar perintah Kaisar, mereka semua kembali ke posisi dan melanjutkan pelatihan.
Kaisar membawa anak-anaknya berkeliling menyaksikan para prajurit berlatih.
Beberapa menit berkeliling, Long Ao Xue mengerutkan keningnya bahkan Hinata mendesah tanpa daya.
Kaisar melihat reaksi keduanya tentu berpikir ada yang salah dan memutuskan untuk bertanya.
"Apa ada yang salah?"
Para pangeran langsung menatap Kaisar dan mengalihkan pandangannya ke arah Long Ao Xue dan Hinata.
"Cara mereka berlatih terlalu banyak celah, bahkan cara mereka memegang pedang masih banyak yang salah dan tidak menyesuaikan dengan kemampuan dan spesialisasi mereka masing-masing.
"Oh?"
"Chichiue coba Anda lihat di bagian kiri barisan ketiga nomor 5 dari belakang, caranya memegang pedang sangat salah, bahkan dapat membuat cedera khusus jika terus dilanjutkan."
Long Ao Xue terus menjelaskan semua yang menurutnya tidak pada tempatnya secara langsung di depan Kaisar.
Para pangeran sangat takjub dibuatnya, bahkan Kaisar juga memuji. Mereka sangat jarang untuk mengawasi perkembangan para prajurit. bahkan di bawah kepemimpinan Jenderal Ning, prajurit sangat menurun.
Kaisar menjadi jengkel dan tak suka. Dia telah memutuskan untuk segera mencabut posisi Jenderal Ning sebelum militer kerajaan Taiyang menjadi sangat lemah di bawah kepemimpinannya.
"Jika aku diberi pasukan seperti ini, aku akan langsung menolak. Selain cara berlatih mereka yang memiliki banyak celah. Karakter mereka sangat keras kepala, tidak ingin menerima arahan dari orang yang lebih muda dan mereka terlalu mempercayai Jenderal yang saat ini memimpin. Sejujurnya mereka bisa saja berkembang dengan 3 Jenderal muda yang berada di sana, tapi ke 3 Jenderal itu malah diabaikan dan memilih melatih orang-orang yang ingin patuh di bawah mereka."
Sekali lagi Kaisar sangat ingin marah, Hinata menghela napas dan menepuk-nepuk punggung sang Kaisar.
"Chichiue jangan marah! Karena Hanya aku dan Ao Xue yang belum memasuki Sekte, aku akan bekerja sama dengannya untuk melatih pasukan kami sendiri, pasukan yang royal dan setia terhadap keluarga kerajaan."
Kaisar menjadi bersemangat dan Ao Xue menjadi cerah.
"Apa yang dikatakan Zi Hua benar, Chichiue. Sebaiknya kita kembali dulu. Pemandangan di sini tidak bagus untuk kesehatan Anda."
Para pangeran hanya tersenyum, mereka juga memiliki pasukan mereka sendiri, tapi pasukan mereka lebih setia pada mereka sebagai pemilik mereka.
Akhirnya Kaisar memilih mengajak anak-anaknya kembali ke Istana. Saat mencapai Istana, Kaisar langsung memanggil Kasim kepercayaannya dan penjaga bayangan miliknya.
"Yang mulia?"
"Jenderal Ning sudah sangat kelewatan. Meskipun Ao Xue tidak mengatakan yang sebenarnya, tapi aku tahu jika sebagian dari prajurit yang menurut Ao Xue memiliki banyak celah, mereka hanya menyembunyikan kemampuan asli mereka, bersiap untuk menyerang keluarga kerajaan dan merebut takhta. Sungguh membuatku sakit kepala."
"Yang mulia harap tenang, kita harus memikirkan cara untuk menghentikan mereka jika mereka memberontak."
"Aku tahu."
Kaisar melihat penjaga bayangannya dan memanggil mereka.
"He Yi!"
"Ya yang mulia."
"Bawa beberapa dari Skuad Wing untuk mencari beberapa pemuda yang berusia 15 sampai 17 tahun. Jika kau telah menemukan mereka, langsung bawa ke Istana bulan di mana Zi Hua dan Ao Xue berada. Lebih banyak lebih baik."
"Hamba mengerti yang mulia."
He Yi dengan cepat menghilang. Dan kaisar kembali memeriksa beberapa dokumen yang membuatnya sakit kepala.
...
"Meimei, kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya?"
__ADS_1
"Anii-sama, meskipun aku tidak mengatakan yang sebenarnya, aku yakin jika Chichiue menyadarinya."
"Yang dikatakan Ao Xue ada benarnya. Hui'er bagaimana persiapanmu untuk menghadapi ujian sektemu."
"Ah Dage kau bisa tenang. Aku telah siap saat lama."
Putra mahkota tersenyum tipis memandang semua adik-adiknya.
"Xuan bagaimana denganmu?"
"Aku juga akan segera kembali ke sekte saat perjamuan untuk Imouto dan meimei telah selesai."
Putra mahkota mengangguk puas.
"Meskipun citra kita di luar adalah pangeran yang berselisih dan saling memperebutkan takhta, tidak ada yang lebih jelas dari kita, jika kita adalah saudara yang harus saling melindungi."
"Dage kau benar, kebetulan Jenderal Ning berada dalam faksiku. Dia mengatakan jika pasukan akan siap 2 atau 3 tahun ke depan dan saat itu mereka akan merebut takhta untukku."
Mereka semua memiliki senyum misterius di bibir mereka mendengar ucapan Ji Liang.
"Aniki, jangan hanya terpaku pada informasi nyata. Ada kemungkinan mereka memiliki rencana cadangan untuk menggulingkanmu."
Hinata juga ikut menganalisis dari percakapan para kakak laki-lakinya.
"Aku tahu, itu sebabnya aku memiliki rencanaku sendiri juga. Hehehehe.."
"Itu bagus kalau begitu, sedia payung sebelum hujan dari pada harus mencari payung saat hujan."
Para pangeran yang tidak pernah berinteraksi dengan seorang gadis sebelum Hinata dan Ao Xue muncul di kehidupan mereka, hidup mereka sangat monoton dan hanya berpikir melindungi kerajaan tanpa memikirkan untuk mencari pendamping.
Saat ini mereka tengah berdiskusi di istana bulan yang merupakan istana milik Hinata, Ao Xue tadinya akan diberi istana sendiri, tapi dia menolak dan memilih tinggal bersama Hinata.
Tinggal bersama Hinata akan membantunya menjadi semakin kuat dengan mereka berlatih di ruang antariksa. Mereka juga harus mempersiapkan diri, karena mereka yakin, jika Kaisar telah bergerak mencari orang untuk mereka latih nanti.
Saking asyiknya mereka bercerita hingga seorang pelayan mengganggu mereka.
"Salam yang mulia."
Ketujuh sosok itu mengangguk memandang pelayan wanita yang memberi hormat.
"Ada apa?" Suara Hinata yang lembut memasuki pendengaran pelayan itu membuatnya agak rileks.
"Yang mulia permaisuri meminta agar yang mulia Putri Rui dan yang mulia Putri An ping dapat mengunjunginya."
"Baik, kau bisa pergi!"
"Kalian pergilah bertemu Ibu kerajaan. Kami juga memiliki sesuatu untuk diurus.”
"Uhm.”
Kelima pangeran berdiri dari tempatnya, tidak lupa mendaratkan kecupan singkat di kening Hinata dan Ao Xue.
Melihat para pangeran telah menjauh, keduanya saling melirik dan tersenyum.
"Aku tidak pernah berpikir ada kerajaan yang memiliki kasih sayang keluarga yang begitu kental."
"Aku juga sama, saat pertama datang, aku sempat berpikir jika mereka akan bermain trik di belakang punggung masing-masing, tapi dengan melihat mereka. Aku yakin kasih sayang mereka tulus."
"Hua, sepertinya hidup di dunia ini tidak buruk. Meski mereka adalah kakak kita, apakah kau pernah terlintas jika kau menyukai salah satu dari mereka."
Hinata terkekeh dan menggeleng.
"Aku tidak pernah tahu yang namanya jatuh cinta atau sejenisnya. Yang aku tahu hanya untuk menjadikan diriku seorang pewaris Clan yang tegas tanpa memikirkan diri sendiri. Aku bahkan tidak pernah dimanjakan oleh kakak laki-lakiku di kehidupan pertamaku, tapi di sini aku bersyukur memiliki mereka sebagai kakakku."
"Kau benar, mereka adalah sosok kakak yang baik. Apa pun akan aku lakukan untuk melindungi keluarga ini."
"Ya mari bekerja sama, tapi sebelum itu kita harus menemui Hahaue."
Mereka tersenyum dan berdiri dari tempat masing-masing. Keduanya diikuti oleh pelayan pribadi mereka dan berjalan menuju Istana Phoenix di mana permaisuri menunggu.
Jarak dari Istana bulan dan Istana Phoenix cukup jauh, tapi keduanya memilih untuk berjalan sampai ke sana.
Ketika mereka sampai, seorang pelayan dengan sigap meminta keduanya untuk masuk.
"Yang mulia Putri Rui dan Yang Mulia Putri An Pin silakan masuk, Yang Mulia Permaisuri, Yang mulia Selir Yun dan Yang Mulia Selir An telah menunggu."
"Pimpin jalan!"
"Silakan ikuti saya."
Keduanya diikuti oleh pelayan pribadi, mengikuti pelayan sang permaisuri memasuki Istana Phoenix. Tepat di dalam, mereka bisa melihat ketiga wanita cantik nan muda itu sedang bercanda dan tertawa ditemani oleh seorang wanita yang Hinata tahu adalah Wanita bordir yang ingin membuat pakaian miliknya.
"Hahaue, Kaa-sama, Kaa-san."
Kedua gadis itu memberi hormat dengan etiket masing-masing membuat ketiga wanita dewasa yang masih tampak muda tersenyum.
"Hua'er, Xue'er kemarilah."
__ADS_1
Keduanya mendekat dan duduk di bangku yang telah disediakan untuk mereka.
"Xue'er perkenalkan, dia adalah Lan Yao, wanita bordir khusus kerajaan."
"Salam."
"Yang mulia terlalu sopan, bolehkah aku mulai mengukur yang mulia."
"Ya."
Sementara Ao Xue diukur oleh Lan Yao. Hinata menyempatkan mengambil nadi ketiga wanita yang dianggapnya ibu.
Saat mengambil nadi Selir An, Hinata mengerutkan keningnya dan memandang Selir An penuh tanya.
"Kaa-san tolong jangan banyak berpikir oke? Aku tidak ingin adik di dalam sana merasa tidak nyaman."
Selir An tersenyum dan mengacak surai ungu milik Hinata.
"Aku hanya memikirkan perjamuan yang akan disiapkan untuk kalian."
Hinata menggeleng dengan senyum tipis.
"Tolong, masalah perjamuan biarkan kelima kakakku yang memikirkannya. Kaa-san, Kaa-sama dan Hahaue harus menikmati waktu Anda dan buatlah diri kalian merasa nyaman."
"Baiklah, kami akan menyerahkan semuanya pada kelima kakak laki-laki kalian. Cobalah kue-kue ini! Apakah itu enak?"
Hinata mengambil kue dan memakannya. Kemudian melirik Permaisuri yang menikmati tehnya.
"Hahaue, bolehkah aku memijatmu? Aku melihat lehermu agak tegang."
"Anak baik, kemarilah dan pijat ibumu yang semakin tua ini."
Mereka semua terkekeh pelan. Ao Xue sendiri telah selesai dengan pengukuran dirinya dan langsung mendekati ketiga wanita cantik itu.
"Hahaue, Kaa-sama, Kaa-san terima kasih."
"Tidak, tidak ada terima kasih dalam keluarga. Memanjakan kalian adalah tugas kami."
Selir Yun dengan cepat membantah dan diangguki oleh kedua wanita lainnya.
"Kita adalah keluarga, sudah tugas orang tua untuk memanjakan anak-anak mereka."
"Uhm."
"Yang mulia, wanita ini mohon pamit."
Permaisuri memberikan senyum kecil dan memberikan sekantong emas pada Lan Yao.
"Terima kasih telah menyisihkan waktumu."
"Ini sudah tugas wanita ini yang mulia."
Permaisuri melirik pelayan pribadinya dan meminta untuk mengantar keluar dari Istana Phoenix.
Melihat Lan Yao telah keluar, Hinata mengeluarkan 3 botol porselen yang berisi Recovery Soul Water dan memberikan kepada ketiga wanita cantik itu.
"Hahaue, Kaa-sama, Kaa-san. Tolong minum seteguk saat Anda ingin tidur. Air ini akan membantu perkembangan janin agar tetap sehat."
"Baiklah, kami akan mengikuti saranmu."
"Xue'er ambil ini untuk hadiah pertemuan kita."
Permaisuri mengeluarkan Jepit rambut Phoenix di ikuti oleh Selir Yun yang memberikan gelang jade dan Selir An yang memberikan Kalung ruby.
Dari sekali pandang saja, Ao Xue tahu jika ketiga benda yang saat ini berada di tangannya terbuat dari bahan berkualitas dan langka.
"Hahaue, Kaa-sama, Kaa-san. Xue tidak akan malu menerimanya."
"Itu baru putri kami, kembalilah dan perkuat diri kalian sesegera mungkin."
"Baik Kaa-sama. Kalau begitu kami pamit."
Kedua gadis itu mengecup pipi ketiga wanita cantik yang kini tengah mengandung.
Mereka kembali ke Istana bulan dan mulai berlatih. Hinata menginstruksikan pada para pelayan jika mereka berdua akan memasuki pintu tertutup selama 10 hari ke depan dan tidak boleh ada yang mengganggu, termasuk para pangeran.
Hinata harus membuat Ao Xue bertambah kuat dan dia juga harus membuat banyak pil untuk persediaan dan tidak lupa kembali untuk memahami teknik keterampilan yang diberikan oleh Zi Long.
Dunia ini jika bukan mengandalkan diri sendiri, mereka tidak akan hidup lama. Dengan menjadi kuat dan kejam pada diri sendiri baru bisa bertahan di dunia yang keras di mana yang lemah akan tertindas.
Apa lagi Hinata tidak akan selamanya berada di kerajaan Taiyang, karena masih ingin mencari keberadaan kedua orang tuanya. Ao Xue juga sangat ingin tahu pria macam apa yang menjadi ayahnya, hingga sangat tidak bertanggung jawab meninggalkan ibunya yang tengah mengandung.
Note:
Maaf jika beberapa fic Aska ada bahasa yang tidak kalian mengerti atau sulit untuk dipahami. Aska masihlah amatir dalam hal tulis menulis, Aska juga akan terus memperbaiki dan mengoreksi agar para pembaca dapat mengerti penyampaian bahasa di setiap karya Aska.
Jangan lupa tinggalkan vote kalian ya hehehe
__ADS_1