
"Menjadi murid ketiga dan keempat?"
"Ya." Penatua Mo mengangguk antusias.
"Jika kalian menjadi muridku, aku akan menyediakan sumber daya untuk kalian berdua dan memperlakukan kalian sama dengan 2 senior kalian."
"Bisakah kami mengetahui siapa senior kami?"
"Hehehe dua gadis dengan mengatakan itu berarti kalian bersedia menjadi muridku kan? Baiklah, murid pertamaku adalah Ji Xuan pangeran kelima Kekaisaran Taiyang di benua Weixiang dan murid keduaku adalah Zi Hua adik angkat Ji Xuan dan sekarang menjadi Putri pertama Kekaisaran Taiyang..." Belum selesai Penatua Mo berbicara, Bai Wei Xiang dan Qi Lan Xia langsung kotow dan melakukan upacara guru dan murid.
Penatua Mo terkejut, tapi langsung tertawa lantang karena mendapat 2 orang berbakat lainnya.
Sebagai hadiah menjadi murid, Penatua Mo memberikan keduanya Recovery Soul Water yang diberikan Hinata.
Keduanya bingung, tapi begitu membuka botol giok, kesegaran Recovery Soul Water langsung menyapa indra penciuman keduanya.
"Itu adalah Recovery Soul Water yang menjadi harta langka di alam Nirvana ini, tapi dengan kalian menjadi muridku, kalian tidak akan kekurangan Recovery Soul Water di masa depan."
"Terima kasih guru."
"Saat turnamen, berikan kemampuan terbaik kalian! Aku juga merupakan tetua di sekte tersebut, hanya saja aku tidak sering tinggal di sekte dan memilih berkeliling alam Nirvana."
"Ya, Murid mengerti."
Ketiganya menikmati makanan mereka, setelah itu mereka masing-masing kembali ke penginapan di mana mereka tinggal.
Dua hari berlalu begitu cepat, Bai Wei Xiang dan Qi Lan Xia berjalan dengan perlahan menuju tempat diadakan turnamen.
Tempat turnamen berikut merupakan salah satu arena terbaik yang berada di Ibu kota Kekaisaran Chu.
Arena tersebut memang dikhususkan untuk turnamen atau pertandingan persahabatan lainnya.
Kedua gadis itu melihat begitu banyak peserta dan penonton, mereka tersenyum kecil hingga tak ada yang menyadari jika keduanya tersenyum.
"Menarik."
Meski keduanya tidak mencolok, tapi karena kecantikan mereka, banyak gadis yang menatap iri dan cemburu. Beberapa tuan muda dari keluarga terhormat juga mengagumi kecantikan keduanya.
Karena peserta yang bejibun banyaknya, mereka diharuskan mengantre dan menunjukkan kartu peserta mereka pada petugas, itu disebabkan, karena pintu masuk penonton dan peserta berbeda.
Saat akan tiba giliran mereka, tiba-tiba sekelompok orang muncul entah dari mana langsung mendorong Qi Lan Xia.
Qi Lan Xia memandang sekelompok orang tersebut dengan dingin.
"Tolong ikuti antrean!" Suara Bai Wei Xiang tidak keras, tapi cukup didengar orang-orang sekitar.
__ADS_1
Beberapa yang mengenali kelompok tersebut memandang Qi Lan Xia dan Bai Wei Xiang dengan kasihan.
"Hei teman-teman, kedua ****** ini memerintahkan kita untuk mengantre."
"Hahahaha Luo'er, aku rasa mereka tidak mengenali kita."
Tatapan Bai Wei Xiang dan Qi Lan Xia semakin dingin. Meski mereka berusaha untuk tidak menarik perhatian dan musuh, tapi tetap saja ada beberapa orang yang menjengkelkan.
Keduanya menghela napas dan berusaha menenangkan emosi masing-masing.
"Hei ada apa dengan tatapan seperti itu?"
"Cih." Bai Wei Xiang berdecih tak suka dan membuang muka.
"Jal*ng, akan kuhajar kau."
Seorang gadis yang tampak anggun bernama Ning Luo langsung menyerang Bai Wei Xiang.
Bai Wei Xiang juga tidak takut dan memandang Ning Luo dengan meremehkan.
Bang
Senjata Ning Luo yang merupakan gada besar menghancurkan tempat di mana Bai Wei Xiang berdiri.
Semua yang menyaksikan itu mengira jika Bai Wei Xiang tidak selamat, tapi siapa yang menyangka jika saat ini Bai Wei Xiang telah berdiri di belakang Ning Luo dengan belati ditodongkan di leher Ning Luo.
"Ingin membunuhku? Tidak segampang itu." Ketika Bai Wei Xiang akan menggorok leher Ning Luo, seorang pemuda maju berniat menolong Ning Luo untuk lepas dari tangan Bai Wei Xiang.
Bang
Telapak tangannya yang dipenuhi Qi disambut secara langsung oleh Qi Lan Xia membuat pemuda itu mundur beberapa langkah.
Di kegelapan, beberapa tetua memandang kejadian tersebut, mereka belum berniat menghentikan pertarungan kecil itu.
Qi Lan Xia memandang pemuda itu, ada seringai keji di bibirnya.
"Aku katakan mengantrelah dengan benar."
"Siapa dirimu, berani memerintahkan kami?"
"Kami bukan siapa-siapa."
Qi Lan Xia berdiri dengan tenang, tapi dia menyadari seseorang dari kelompok itu ada yang menghilang, detik berikutnya sebuah tendangan mengenai pundaknya.
Qi Lan Xia tersenyum sinis memandang pelaku yang menendang pundaknya.
__ADS_1
"Serangan diam-diam, hmm? Baiklah aku tidak akan menahan diri."
Dalam sekejap Qi Lan Xia menghilang dan kembali berdiri di tempatnya di detik berikutnya.
Kecepatan di atas rata-rata tersebut membuat para peserta yang menonton dan Tetua yang mengamati kedua gadis itu seolah tak percaya.
Setelah Qi Lan Xia menghitung sampai tiga, Bai Wei Xiang melepas Ning Luo dan saat itu tubuh semua orang yang berada dalam kelompok tersebut membiru.
Dari gejala yang tampak, jelas jika Qi Lan Xia meracuni mereka, perlahan warna biru di kulit mereka melepuh dan membusuk seketika, langkah keji Qi Lan Xia jelas tanpa ampun.
Meski dia adalah seorang master persenjataan, tapi dia juga seorang ahli racun bersama sang sahabat.
"******, cepat berikan penawarnya."
"Berani mengusik kami maka terima konsekuensinya."
Qi Lan Xia dan Bai Wei Xiang tidak memedulikan kelompok lima orang yang kini kesakitan dan kulitnya membusuk.
Mereka memperlihatkan tanda peserta pada pemeriksa dan mereka berhasil memasuki area arena. Keduanya langsung memilih tempat duduk sembari menunggu turnamen dimulai.
Karena Qi Lan Xia dan Bai Wei Xiang mengenakan lencana Alchemis dan lembaga persenjataan, seorang murid yang merupakan senior mereka menghampiri.
Keributan yang melibatkan keduanya tentu menjadi sorotan dan juga lencana mereka tidak terlewat oleh pandangan mata yang jeli.
"Kalian berdua tidak perlu mengikuti Turnamen, berdasarkan lencana kalian, kalian akan langsung diterima menjadi murid eksternal."
Keduanya seolah tak percaya, begitu pun dengan peserta yang sudah mengambil tempat duduk, tapi saat menatap lencana keduanya, mereka akhirnya mengerti.
Sebagian mengagumi, sebagian cemburu dan iri sebagian menatap keduanya dengan benci.
"Jadi turnamen ini adalah tes perekrutan." senior tersebut tersenyum sebagai tanggapan ucapan Bai Wei Xiang.
"Silakan ikuti aku."
"Baik."
Keduanya mengikuti senior tersebut. Tepat saat sampai di sebuah ruangan, mereka disambut oleh beberapa tetua yang mengamati mereka.
Tetua Mo tentu yang paling bahagia saat melihat muridnya datang.
"Murid menyapa Guru." Bai Wei Xiang dan Qi Lan Xia saat melihat Tetua Mo, keduanya langsung memberi hormat dan membuat tetua lain tercengang.
Padahal mereka berniat merekrut kedua gadis tersebut, siapa sangka keduanya secara terang-terangan memberi hormat pada Tetua Mo.
Dan begitulah kejadian perekrutan yang meloloskan mereka tanpa sengaja karena lencana yang keduanya kenakan.
__ADS_1