Iblis Wanita Jenius

Iblis Wanita Jenius
Jiwa Misterius


__ADS_3

Tiba-tiba Hinata membuka matanya dan tersenyum lebar.


"Qi yang aku serap menghilang seolah itu ada sesuatu di dalam tubuhku yang menyerapnya."


Hinata kembali menutup matanya dan mulai menyerap Qi sebanyak mungkin, dia juga memasukkan kesadarannya ke dalam tubuhnya ingin melihat apa itu.


Hinata melihat sekelilingnya di mana setiap meridiannya dialiri Qi spiritual, dan menuju arah tertentu, tapi arah itu bukan menuju dantiannya.


Dia mengikuti arah ke mana Qi Spiritual itu mengalir, dan mendapati sepasang mata merah menatapnya.


"Jadi kau yang membuatku tidak bisa berkultivasi e."


Sepasang mata merah itu berkedip bodoh melihat gadis kecil di depannya.


"Kau tahu, karena dirimu aku dianggap sampah yang sia-sia, bagaimana kau akan bertanggung jawab?"


Sepasang mata merah itu masih menatap Hinata dengan pandangan memohon maaf.


"Katakan! sampai kapan kau akan menyerap semua Qi spiritual yang aku serap?"


"Karena aku telah menyerap banyak Qi Spiritual dari danau tadi, aku hanya membutuhkan waktu sehari lagi. Bisakah Anda kembali ke danau? Aku tidak ingin membebanimu lagi, setidaknya setelah aku tumbuh sedikit lagi, maka aku bisa keluar dari sini dan melindungimu dan terus berada di sisimu."


Hinata berpikir berusaha menimbang keuntungan apa yang akan dia dapatkan.


"Apakah selain melindungiku, kau tidak memiliki hal lain?"


"Aku bisa membuatmu menjadi seorang Alkemis, master persenjataan ataupun penjinak binatang."


Hinata mengelus dagunya, ia belum mengetahui apa keuntungan menjadi alkemis atau pun yang lainnya. Yang dia ketahui hanyalah kekuatan lebih utama serta penindasan yang dilakukan keluarga Nalan pada Nalan Zi Hua.


Sejujurnya Hinata sangat menyukai nama ini, karena sangat menggambarkan dirinya yang menyukai warna ungu dan sejenisnya.


"Apa manfaat menjadi seorang alkemis atau yang lainnya?"


"Gadis, Alkemis di benua ini sangatlah jarang. Hanya ada 1 dari 10 orang, begitu pula dengan master persenjataan. Meskipun Penjinak binatang agak langka, tapi tidak selangka Alkemis maupun master persenjataan."


"Oke aku setuju, baiklah aku akan kembali berendam di danau hingga kau pulih, tapi aku harus mengisi perutku dan menguras habis semua harta yang ada di dalam keluarga Nalan hahahahaha."


"Kalau begitu aku akan membantumu untuk menyembunyikan aura, agar Anda tidak ketahuan."


"Benarkah?"


"Tentu, cepatlah selesaikan masalah perutmu, agar kau dapat segera berkultivasi."


Hinata mengangguk dengan senyum lebar di bibirnya, meninggalkan mata besar itu menatap kosong di mana Hinata berdiri tadi.


"Karena kita ditakdirkan untuk bersama semenjak Anda baru lahir. Maka biarkan tuan ini membantumu dan melindungimu."


Hinata secara alami tidak mendengar apa yang dikatakan oleh jiwa yang berada dalam tubuhnya. Dia membuka matanya dan mendapati Zi Mo menatapnya.


Hinata memfokuskan dirinya untuk keluar dari dalam ruang antariksa 7 lapis, dan mendapati dirinya berdiri di pondok tua dan usang.


Melihat matahari belum terbit, Hinata dengan cepat berlari menuju dapur, ia mengambil semua bahan mentah serta bumbu dan rempah-rempah, kemudian memasukkan ke dalam ruang antariksanya.


Dengan cepat meninggalkan dapur, Hinata menuju perbendaharaan keluarga. Melihat penjaga tertidur, Hinata melangkah dengan tenang membuka kunci tanpa diketahui.


Saat memasuki perbendaharaan, Hinata melihat banyak sekali perak dan emas berserakan. Tanpa membuang waktu dia membawa semuanya ke dalam ruangnya. Melihat sekitar dan mendapati banyak herbal berkualitas bagus, ia langsung melempar semua ke dalam ruang.


Setelah mengosongkan perbendaharaan, Hinata keluar tanpa diketahui oleh siapa pun dan kembali ke pondok kecilnya, kemudian melanjutkan tidur dengan senyum lebar hingga melupakan mengisi perutnya yang kosong.


Saat matahari terbit, beberapa pelayan yang bertugas di dapur dan penjaga perbendaharaan dibuat heboh, karena kedua tempat itu telah di kosongkan.


"Pemilik..pemilik..pemilik.. sesuatu terjadi.."


Nalan Hong yang merupakan kepala keluarga Nalan yang seni kedokterannya sangat terkenal di kerajaan kecil Qu. Saat ini Nalan Hong memeriksa beberapa permasalahan keluarga dan belum mengetahui apa yang terjadi di dapur dan perbendaharaan.


Dia mengerutkan dahi saat mendengar suara pelayan di luar ruang kerjanya, segera dia memerintahkan pelayan tersebut untuk masuk.


"Ada apa sehingga kau membuat keributan seperti ini pagi-pagi?"


"Saat ini semua isi dapur dan persediaan selama beberapa hari untuk keluarga lenyap tanpa tersisa, awalnya kami berpikir itu bukan masalah, tapi ketika staf dapur ingin meminta uang untuk membeli kembali persediaan dapur. Sesuatu yang sama juga terjadi di perbendaharaan, semua perak dan emas hilang, bahkan herbal langka yang telah dikumpulkan juga hilang hanya menyisakan beberapa pil tingkat rendah dan persenjataan."


Bang


Nalan Hong langsung memukul mejanya hingga terbelah menjadi 2 ketika mendengar apa yang dikatakan oleh pelayan tersebut


"Apa ada jejak pencuri yang tertinggal?"


"Kami tidak menemukan petunjuk apa pun."

__ADS_1


"Beritahu Nalan He, Nalan Shu dan Nalan Ye untuk datang menemuiku. Oh dan bagaimana keadaan nona keempat?"


Pelayan tiba-tiba menjadi gugup saat mendengar pertanyaan tentang nona keempat.


"Kenapa kau diam? Bagaimana keadaan nona keempat?"


"Pe..pemilik, ini sudah hari keenam tidak ada seorang pun yang mengunjungi halaman nona keempat, bahkan tidak ada yang membawa makanan padanya."


Bang


Nalan Hong yang sangat emosi semakin emosi saat mendengar laporan tersebut.


"Dasar kalian semua pelayan yang tidak tahu terima kasih, bahkan majikan kalian tidak kalian urus sejak aku pergi."


Nalan Hong buru-buru berjalan ke halaman terpencil yang sangat bobrok. Tepat saat akan memasuki halaman bobrok tersebut, Nalan Hong melihat seorang gadis yang sedang menggali ubi jalar liar.


Nalan Hong memperhatikan dari jauh dengan hati menyakitkan menyaksikan salah satu cucunya diperlakukan seperti ini. Bahkan dirinya sendiri tidak bisa mengendalikan semua orang yang dengan diam-diam menganiaya Nalan Zi Hua.


Setelah menggali, Hinata mencari dahan kering dan menyalakan api menggunakan 2 batu.


Api memercik ke dahan dan menyala, Hinata memasukkan beberapa ubi jalar untuk dibakar hingga seekor bola bulu putih muncul di hadapannya, menatapnya dengan mata lebarnya.


"Kecil, kau juga lapar? Kemarilah, kita tunggu ubi ini matang dan makan bersama. Jika berharap seseorang mengantarkan makanan, mungkin kita akan mati kelaparan tanpa ada yang mengetahuinya."


Karena melihat Nalan Zi Hua sehat meski lemah, Nalan Hong lega dan kembali ke ruang kerjanya. beruntung dia meminta beberapa orang untuk menanam ubi jalar di sekitar halaman Nalan Zi Hua.


Hinata menyeringai saat merasa jika Nalan Hong telah pergi, ia tidak tahu harus bersikap seperti apa pada kakek itu. Di permukaan dia tampak menyayangi Nalan Zi Hua, tapi dia membiarkan keluarga lain dan pelayan menggertaknya.


Hinata secara alami mengabaikan ubi bakar tersebut dan mengeluarkan 2 ekor ayam panggang serta beberapa hidangan. Dia menatap bola bulu kecil di depannya yang masih tidak bergerak.


"Jangan takut, aku tidak akan memakanmu dan orang itu juga sudah pergi dan lagi ada banyak makanan di sini."


Bola putih kecil itu sedikit ragu, tapi dia mendekat dengan perlahan. Setelah menyelesaikan makanannya, Hinata mengambil jubah hitam yang terlihat kusam dan menyelinap keluar.


Bola bulu itu juga semakin terbiasa dengan Hinata dan juga tidak ingin berpisah dari Hinata.


Tujuannya adalah pasar, dia ingin membeli pasir, kawat, tali tambang, kuali lebar dan kompor besar. Dia juga membeli beberapa bibit tanaman serta herbal untuk di tanam dalam ruang antariksa 7 lapis serta membeli banyak pakaian, dia juga tidak melupakan untuk mencari toko yang menyediakan 1 set jarum perak.


"Apa lagi yang kurang?"


Hinata berpikir mengingat apa lagi yang dia inginkan.


"Oh iya, aku juga harus memiliki senjata."


Saat memasuki toko senjata, matanya dimanjakan oleh berbagai senjata tingkat rendah dan menengah.


Dia sangat tidak puas dengan senjata-senjata tersebut, hingga Hinata memilih belati kembar secara acak dan membayarnya.


Dengan kecewa dia terus memandang belati di tangannya dan melangkah kembali ke kediaman Nalan tanpa diketahui.


Begitu sampai, Hinata langsung memasuki ruang antariksa 7 lapis bersama bola bulu putih. Dia mengatur semua yang dibelinya menjadi beberapa peralatan latihan. Zi Mo dan Bola bulu bingung dengan area pelatihan yang Hinata buat.


"Yosh akhirnya selesai, saatnya aku berendam."


Hinata melepas pakaiannya dan kembali memasuki danau, tapi sebelum itu, ia memberikan bibit tanaman serta herbal pada Zi Mo agar menanam semuanya.


Hinata tidak tahu jika waktu di ruang antariksa sangat berbeda jauh. 1 jam di dunia luar sama dengan 1 hari di dalam ruang.


Hinata berendam dengan sabar dan berusaha menyerap Qi spiritual.


Qi Spiritual yang diserap Hinata mengalir di meridiannya, setiap Qi spiritual yang mengalir membuat perasaan Hinata merasa rileks dan segar.


Lagi-lagi Qi spiritual tersebut tidak bergerak menuju dantian miliknya, tapi menuju jiwa yang tidak dia ketahui apa itu.


Dengan cepat 1 hari berlalu di ruang antariksa 7 lapi,s tapi Hinata belum membuka matanya dan masih terus menyerap Qi Spiritual.


Terlalu fokus dalam berkultivasi, Hinata tidak menyadari jika kabut secara samar keluar dari tubuhnya. Perlahan kabut tersebut mengambil bentuk, hingga memperlihatkan bentuk seorang pemuda tampan, tapi dengan cepat sosok tersebut berubah menjadi Naga Kecil, ia memandang Hinata yang masih terus berkultivasi dengan serius.


2 hari berlalu di dalam ruang antariksa, setelah jiwa tersebut tidak lagi berada di tubuh Hinata, Hinata yang terus berkultivasi merasa semua Qi yang mengalir di meridiannya perlahan menuju dantian miliknya, tapi dia merasa seberapa pun banyaknya dia menyerap, itu tidak akan cukup dan terus menyerap dan tidak menyadari perubahan tersebut hingga 2 hari berlalu.


Bang


Hinata berhasil menerobos ke Qi dasar tingkat 1. Dia membuka matanya dengan penuh kebahagiaan, karena berhasil menerobos. Melihat sekeliling, Hinata mendapati Zi Mo, Bola Bulu kecil dan naga kecil di pinggir danau menatapnya dengan raut kebahagiaan.


Hinata memiringkan kepalanya bingung saat melihat Naga kecil, karena seingatnya dia tidak memiliki naga.


"Tunggu! Jangan-jangan itu jiwa yang berada dalam diriku."


Hinata berbinar bahagia, karena memiliki 2 binatang kecil yang lucu. Hinata keluar dari danau dan mengambil pakaiannya yang berada di tangan Zi Mo. Naga kecil tidak tinggal lama, saat melihat Hinata ingin keluar dari danau, dia langsung pergi entah ke mana.

__ADS_1


Hinata selesai mengenakan pakaiannya, dan tidak menunggu lama langsung melakukan latihan fisik di area yang telah dibuatnya hingga 5 jam. Keringat bercucuran membasahi tubuhnya.


"Nona, silakan minum."


"Terima kasih, Momo."


Hinata meminum air yang diberikan Zi Mo dan merasakan dirinya kembali segar. Dia berdiri dan menuju pondok kecil untuk kembali mengganti pakaiannya lalu mencari 2 binatang kecil, karena ia berniat untuk memberi nama pada kedua binatang imut itu.


Mencari kedua binatang itu sambil mengamati semua sekelilingnya, Hinata dapat melihat tanaman dan herbal yang telah tumbuh, ia sangat senang hingga kedua binatang kecil itu menghampirinya.


Bola bulu kecil tanpa pemberitahuan apa pun dengan cepat melompat ke pelukan Hinata mencari posisi nyaman, dan diam-diam menggigit telunjuk Hinata hingga berdarah. Beruntung tidak setetes pun darah Hinata tertelan olehnya. Jika tidak, entah apa yang terjadi.


"Ah."


Hinata kaget melihat bola bulu di pelukannya menggigitnya, begitu darahnya akan menetes, bola bulu langsung menempelkan keningnya di jari Hinata yang berdarah.


Tiba-tiba di benak Hinata terdengar suara gadis muda.


"Gadis, siapa namamu?"


"Nalan Zi Hua."


"Nalan Zi Hua, melalui kontrak darah ini, mulai saat ini Anda adalah masterku, hidup dan mati kami akan selalu bersama."


Wusshh


Angin meniup rambut ungu Hinata, manik keunguannya tampak bersinar, dan tato rubah berekor 9 terbentuk di kening antara alis Hinata.


Melihat kejadian itu, Naga kecil terkejut, tapi tetap diam, ia dengan cepat melompat ke pundak Hinata.


"Gadis, beri kami nama!"


Hinata akhirnya tersadar dan memandang bola bulu di pelukannya dengan penuh makna, lalu memandang Naga kecil di pundaknya.


"Apa itu tadi?"


"Zi Hua itu tadi kontrak darah yang akan menyatukan dirimu dan rubah berekor 9 di pelukanmu, sedangkan aku dan dirimu, kita telah melakukan kontrak semenjak dirimu lahir."


"Ah??"


"Jadi bisa beri kami nama?"


Hinata kembali sadar mendengar suara dari bola bulu di pelukannya.


"Aku tidak terlalu pandai membuat nama, tapi jika kalian menginginkannya, maka kau akan di panggil Zi Long."


Naga kecil melihat tubuhnya yang sama sekali tidak berwarna ungu terperangah.


"Dan kau di panggil Zi Bai."


Bola bulu mengangguk dengan tak peduli, tapi dia telah menangis dalam hati.


"Aku sama sekali tidak ungu."


"Nona, ayo makan dulu."


Hinata berbalik memandang Zi Mo dan mengangguk.


"Terima kasih."


Ketiganya mengikuti Zi Mo ke meja makan dan mulai menikmati makanan. Hinata berpikir untuk pergi ke gunung, dia ingin melatih tubuhnya dalam pertempuran dan mengkonsolidasikan kultivasinya agar fondasinya kuat.


Setelah menyelesaikan makanannya, Hinata keluar dari Ruang antariksa 7 lapis dan berkeliling di manor Nalan.


Hinata mengangkat alisnya tak mengerti, pasalnya saat ini keluarga Nalan seolah-olah sedang ingin menjamu seseorang yang penting.


Karena keberadaannya selalu diabaikan, jadi tidak ada pelayan yang menegurnya bahkan dianggap tak ada.


Hinata mengendikan bahu dengan tak peduli, dia terus berjalan hingga di mencapai taman yang cukup menarik di kediaman Nalan, bahkan ada kolam teratai serta paviliun kecil di tengahnya.


Di paviliun, dia bisa melihat seorang gadis dan pemuda saling berciuman membuat Hinata jijik.


Hinata berpikir betapa menyedihkannya Nalan Zi Hua, sepupunya berselingkuh dengan tunangannya.


"Menjijikkan."


Hinata terlalu malas melihat tindakan tak bermoral itu dan ingin pergi, tapi kakinya terhenti. Hinata menyeringai dan kembali melihat pasangan tak tahu malu itu.


Hinata mengambil daun dan menyuntikan Qi Spiritualnya, dia melemparkan daun itu untuk membuka sabuk celana keduanya.

__ADS_1


"Pfff."


Tanpa rasa bersalah, Hinata melenggang dengan santai sambil mengunyah daun di mulutnya.


__ADS_2