Iblis Wanita Jenius

Iblis Wanita Jenius
Bertemu Liu Yue


__ADS_3

Tepat saat kepergian kelima pangeran tersebut. 10 orang menggunakan topeng segera berlutut di depan Hinata dan Ao Xue.


"Siapa kalian?"


"Bos, kami dari Death Flower melapor jika kami baru saja sampai."


"Jadi kalian."


"Ya."


"Kenapa lama sekali?"


Pembicaraan Hinata dan seorang perwakilan membuat beberapa orang tercengang. Bahkan penjaga bayangan tidak menyadari kedatangan kesepuluh sosok itu.


"Siapa nama kalian?" Ao Xue memandang sepuluh orang yang berlutut itu dengan tatapan tegas khas pemimpin.


"Aku Mo Qing dari kelompok Yurei." suara itu lembut dan bisa dipastikan jika dia adalah seorang gadis.


"Mo Li dari kelompok Inu."


"Mo Yu, kelompok Nekomata."


"Mo Ling, kelompok Kitsu."


"Mo Yue, kelompok Heron."


"Mo Jing, kelompok Hebi."


"Mo Nian, Kelompok Kuma."


"Mo Feng, kelompok Tori."


"Mo Lan, kelompok Karasu."


"Mo Yao, Kelompok Tora."


Berdasarkan suara, Hinata dan Ao Xue tahu jika ada 5 gadis dan 5 pemuda. Melihat kemampuan mereka, Hinata dan Ao Xue mengangguk puas.


Hinata melempar 1 kantung uang yang jumlahnya tidak sedikit pada masing-masing dari mereka.


"Kalian pergi dan kumpulkan 20 orang masing-masing untuk menjadi bawahan kalian! Setelah semuanya dibeli, bawa mereka kesini."


"Ya."


Setelah menjawab perintah Hinata, mereka segera menghilang. Hinata dan Ao Xue juga mengganti pakaian mereka dengan pakaian yang tidak mencolok.


Tujuan kedua gadis itu adalah keluar untuk membeli bangunan yang cocok untuk dijadikan rumah harta.


Penjaga bayangan keduanya juga senantiasa mengikuti nona muda mereka dalam kegelapan.


Hinata dan Ao Xue berkeliling kota kerajaan dengan santai, mengamati setiap bangunan yang cocok untuk dijadikan rumah harta sekaligus markas untuk Death Flower di kekaisaran Taiyang.


Keduanya berhenti di depan kediaman di mana dulu merupakan milik Jenderal Ning.


Hinata dan Ao Xue saling melirik dengan senyum misterius.


"Sepertinya di sini cocok, hanya mengubah bangunan utama saja untuk dijadikan rumah harta."


"Ya kau benar Hua, karena ini adalah kediaman mantan Jenderal, jadi tidak bisa diakses oleh siapa pun. Bagaimana kalau kita membelinya dari Chichi-ue?”


"Uhm. Setelah itu, kita minta bantuan Haocun dan Yuwen untuk mengubah bangunan utama."


Setelah menemukan lokasi yang tepat, mereka memutuskan untuk berkeliling sejenak.

__ADS_1


Baik Hinata maupun Ao Xue tidak menggunakan kereta yang biasa digunakan oleh para bangsawan.


Keduanya berhenti di depan kedai Teh yang cukup terkenal. Mereka juga heran, selama mereka berada di dunia ini, mereka tidak menemukan satu toko pun yang menyediakan kopi.


Keduanya memasuki kedai tersebut dan langsung disapa oleh pelayan.


"Dua pelanggan ingin memesan kamar pribadi?"


"Sepertinya bukan ide buruk."


Pelayan tersebut mengantar mereka ke lantai dua. Mereka memesan beberapa cemilan dan Teh terenak di kedai tersebut.


Dari lantai dua, mereka bisa melihat pemandangan di luar kedai. Tatapan Hinata jatuh pada gang kecil di mana dia melihat seorang nona muda dan pelayannya di kepung.


"Yin Jiu, pergi dan bantu mereka. Sekaligus undang Nona muda itu kesini."


"Ya, Yang Mulia."


Yin Jiu menghilang, Ao Xue menatap Hinata penuh tanya.


"Siapa mereka?"


"Dia calon kakak ipar kita."


"Jadi, dia adalah Liu Yue."


"Begitulah."


"Oh ya Hua, di ruang antariksa, kau memiliki kebun kopi kan, yang awalnya kau tak tahu apa itu."


"Ya, lalu?"


"Bagaimana kalau kita membiarkan kelompok Tora mengelola Cafe bukan kedai teh atau sebagainya."


"Ide bagus, sepulang nanti. Kita harus menggambar desain Rumah Harta dan Cafe, tapi bukankah kita belum menemukan tempat untuk Cafe kita."


"Hehehe, Hua kau tak perlu khawatir. Ada beberapa toko milik keluarga Jenderal yang saat ini semua kepemilikan ada di tangan Chichi-ue. Kita hanya perlu berbicara dengan Chichi-ue."


"Bagus."


Setelah sepakat, mereka melanjutkan perbincangan lain hingga ketukan pintu terdengar.


"Masuk."


Pintu terbuka menampilkan seorang gadis cantik mengenakan Hanfu Pink yang disulam dengan pola bunga anggrek menambah kesan kecantikan gadis itu.


Hinata dan Ao Xue mengamati gadis tersebut dari atas sampai bawah kemudian menatap matanya.


Hinata tersenyum, kepribadian gadis yang dipilih Ji Jiu memang sangat bagus.


Di belakang gadis itu, ada seorang gadis pelayan yang terlihat licik. Dengan sekali pandang saja, Hinata dan Ao Xue tahu jika gadis pelayan itu hanyalah mata-mata di sekitar Liu Yue.


"Nona Liu, kami hanya ingin berbicara dengan Anda. Bisakah Anda meninggalkan pelayan Anda di luar?"


Liu Yue mengernyit kemudian dia mengangguk.


Pelayan itu sangat tidak puas dengan perilaku dua gadis yang tak tahu dari mana asalnya.


Setelah pintu tertutup dan Liu Yue bergabung, Hinata melambai dan penghalang transparan muncul.


"Maaf kedua Nona muda, Liu Yue tidak mengenal Anda."


"Hehehe kakak Ipar, tidak perlu sungkan. Duduklah dulu!"

__ADS_1


"Kakak ipar?"


"Ya, perkenalkan aku Ji Zi Hua dan dia Ji Ao Xue."


"Kalian."


Liu Yue segera ingin melakukan etiket jika bertemu keluarga kerajaan, tapi Hinata dan Ao Xue segera menghentikannya.


"Kakak ipar, tidak perlu seperti itu. Ayo nikmati waktu kita."


Ao Xue tersenyum kecil, tapi Liu Yue tidak mengerti kenapa dia dipanggil dengan sebutan kakak ipar.


"Yang mulia kenapa Anda memanggil Liu Yue dengan sebutan kakak ipar?"


"Kakak ipar, tolong panggil kami Hua dan Ao Xue. Tidak perlu menjadi formal." -Hinata


"Ya. Lagi pula Dage menyukai Anda dan ingin membawamu sebagai Putri Mahkota." -Ao Xue


Tubuh Liu Yue tegang, dia tidak menyangka jika pangeran yang dikaguminya juga menyukainya.


Wajahnya merona hingga membuatnya menunduk.


"Senang mendengar kabar tersebut, tapi apakah Liu Yue layak?"


"Layak atau tak layak, jika Dage telah memutuskan, maka tak ada yang bisa menghentikannya."


Senyum menggoda di bibir Hinata tak pernah luntur memandang Liu Yue yang tampak malu-malu.


"Oh ya kakak ipar, sebaiknya kau mengganti pelayan pribadimu."


"Ada apa dengannya, Xue?"


Ok Liu Yue mulai membiasakan dirinya menyebut nama kedua tuan putri itu.


"Dia tidak baik dan dia berada di sekitarmu hanya untuk mengawasimu."


Liu Yue menunduk, dia tahu itu, tapi pelayan itu adalah pelayan yang ditinggalkan oleh ibu kandungnya yang meninggal 3 tahun lalu.


" Tidak apa-apa, dia tidak akan berani menyakitiku."


"Jika memang begitu, aku akan mengirim dua orang penjaga bayanganku untuk melindungi kakak ipar."


Mendengar apa yang disarankan oleh Hinata, sebenarnya dia ingin menolak, tapi dia berpikir kembali.


"Baiklah."


"Bagus jika kakak ipar tidak keras kepala."


Ao Xue mengangkat tangannya dan muncul dua orang berpakaian hitam yang merupakan penjaga bayangan berjenis kelamin wanita.


"Yin Sui, Yin Shiyi. Kalian berdua akan melindunginya dan menjadi pelayan di sekitar kakak ipar."


"Ya."


"Pergilah di jalan di mana kakak ipar lalui untuk pulang. Setelah melihat dia, menyamarlah menjadi dua budak yang tak berdaya agar kakak ipar dapat membawa kalian sebagai pelayan di sisinya."


Ao Xue menjelaskan apa saja yang harus dilakukan oleh keduanya membuat Liu Yue tersenyum penuh arti.


Bisa dikatakan, rencana Ao Xue tidak ada kecacatan. Dengan rencana tersebut, kedua gadis itu bisa melindunginya, ia bukanlah gadis bodoh yang tak tahu jika di halaman belakang selalu bermain skema.


"Terima kasih."


Ketiganya terus Berbicara hingga Liu Yue pamit untuk kembali. Hinata dan Ao Xue juga memilih kembali ke Istana untuk meminta akta kediaman Jenderal dan satu toko milik Jenderal.

__ADS_1


*Aska


__ADS_2