
Tentu saja reaksi Lan Yue membuat Jing Lei bingung, tapi begitu dia mengetahui isi dari botol porselen, dia juga tidak bisa untuk tidak terkejut dan menatap pintu dengan rumit.
Di sisi lain, masih di penginapan peserta dari benua Xiling, Hinata dan Ao Xue berjalan sambil bercanda dan berpapasan dengan gadis yang mereka tanyakan di mana kamar Jing Lei.
“Sudah ketemu?”
“Sudah, Terima kasih sebelumnya.”
“Ya.”
Keduanya pergi begitu saja setelah mengucapkan perpisahan dan ketika mereka berada di lantai 2 mereka bertemu 2 orang gadis yang kebetulan membuka pintu. Bukan karena apa mereka bertemu, tapi karena koridor agak sempit jadi hal tersebut membuat Hinata dan Ao Xie menunggu agar keduanya pergi lebih dulu.
Namun, Hinata dan Ao Xue bingung dengan perilaku kedua gadis tersebut. Bukannya pergi, tapi mematung sambil menatap mereka.
“Hei, apa ada yang salah? Kami ingin pergi, bisa berikan kami jalan?”
Hinata membuka suara lebih dulu, karena dia agak tidak enak ditatap seperti itu.
Akhirnya kedua gadis itu sadar dan salah satu gadis tersebut langsung berbicara dengan nada penuh tanya.
“Zi Hua, Ao Xue?”
Hinata dan Ao Xue kembali saling menatap dengan alis terangkat. Mereka tidak pernah mengenal kedua gadis yang menghalangi jalan, tapi mengapa keduanya mengenali mereka?
“Kalian mengenal kami?” Ao Xue bertanya dengan ragu
“Ya, bisa kita berbicara di dalam? Mumpung kita bebas.”
“Baiklah.”
__ADS_1
Hinata dan Ao Xue mengikuti kedua gadis tak dikenal itu memasuki kamar mereka dengan tanda tanya besar di benak mereka.
...
Qi Lan Xia dan Bai Wei Xiang setelah istirahat sejenak, mereka berencana untuk pergi mencari keberadaan Hinata dan Ao Xue, tapi siapa yang menyangka ketika mereka akan keluar, mereka bertemu keduanya yang kebetulan ingin lewat dan berada di penginapan peserta dari benua Xiling.
Mereka tidak tahu siapa yang ditemui keduanya, tapi mereka tidak terlalu penasaran akan hal tersebut. Mereka lebih ke arah bahagia karena bertemu tanpa mereka harus pergi mencari.
Jadi setelah berbicara, mereka langsing mengajak Hinata dan Ao Xue.
“Duduklah!”
Hinata dan Ao Xue duduk di bangku yang tersedia di kamar tersebut, dan mereka masih menatap Qi Lan Xia dan Bai Wei Xiang.
Namun, mereka melihat jika salah satu gadis membelakangi sambil melepas Wig dan topeng kulit. Baik Hinata dan Ao Xue bingung dengan perilaku gadis itu.
“Perkenalkan, Aku Qi Lan Xia salah satu murid tetua Mo.”
“Kau?”
“Aku Bai Wei Xiang, tapi nama asli ku adalah Nangong Zi Xiang salah satu murid tetua Mo. Zi Hua, kau adalah adik kembarku.”
Tidak hanya Hinata yang terdiam, tapi juga Ao Xue. Mereka tidak menyangka jika salah satu gadis tersebut memiliki identitas yang mencengangkan yang tersembunyi dengan baik.
Begitu Hinata sadar dari keterkejutannya, dia melihat selembar surat di tangannya.
*Putriku Nangong Zi Xiang, maafkan ibu dan ayah yang harus memisahkan dirimu dari adik kembarmu Nangong Zi Hua. Ibu dan Ayah terpaksa melakukan hal ini, karena kami memiliki musuh yang harus kami tangani dan itu akan membahayakan kalian, jadi kami memilih menitipkan kalian di keluarga berbeda dan benua yang berbeda.
Ibu harap jangan pernah melepas topeng kulit yang ibu kenakan di wajahmu sebelum kau menjadi kuat, karena wajahmu sangat mirip dengan ibu dan mereka berkeliaran di benua Xiling ini.
__ADS_1
Sedangkan batu yang bersinar yang bersama surat ini adalah batu jiwa milik adikmu, jika batu itu masih bersinar, berarti Zi Hua masih hidup, tapi jika batu itu telah redup dan berwarna hitam artinya Zi Hua telah meninggal.
Ibu dan ayah tidak memaksamu untuk menjadi kuat untuk mencari kami, ibu hanya ingin kau hidup tenang, tapi ibu tahu jika suatu hari nanti kau pasti bisa berkultivasi. Untuk menemukan kami, temukan Zi Hua terlebih dahulu untuk mengetahui apakah batu jiwa kami masih bersinar atau telah meredup.
Nak, maafkan kami, kami terlalu lemah untuk membawa kalian bersama kami. Ayah dan Ibu menyayangimu.*
Hinata terdiam setelah menyelesaikan membaca surat tersebut, dia menatap rumit pada Bai Wei Xiang yang juga tengah menatapnya, kemudian dia mengeluarkan 2 batu jiwa milik orang tuanya.
“Batu jiwa ayah dan ibu masih bersinar, aku yakin mereka sedang bersembunyi atau menyamar di suatu tempat.”
Dia berdiri dan melangkah ke arah Bai Wei Xiang, kemudian memberikan batu jiwa tersebut padanya.
Begitu Bai Wei Xiang mengambil batu jiwa tersebut, Hinata langsung memeluknya. Tindakan Hinata tentu mengejutkan dirinya, karena Hinata memeluk dirinya tanpa tahu tentang dirinya yang jijik ketika bersentuhan. Meski saat ini dia berkeringat dingin, tapi dia tidak memiliki reaksi mual, mungkin karena yang memeluknya adalah adiknya, jadi reaksi itu tidak terlalu intens.
Ao Xue yang melihat Bai Wei Xiang berkeringat dingin dengan wajah pucat merasa jika reaksi Bai Wei Xiang tidak normal. Tidak hanya Ao Xue, tapi Hinata juga sama.
Dia tahu jika kakak kembarnya sangat bahagia ketika bertemu dengannya, tapi dia bingung mengapa kakaknya agak tegang dan badannya berubah dingin ketika dia memeluknya. Reaksi yang diperlihatkan oleh Bai Wei Xiang merupakan reaksi seseorang yang sedang berusaha menghadapi trauma yang begitu mendalam.
“Kakak, ada apa denganmu? Apa yang terjadi?”
Hinata melepas pelukannya dan langsung bertanya. Meski dia baru bertemu, dia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Bai Wei Xiang saat ini.
Dia berpikir dalam hatinya untuk menghukum orang yang telah membuat Bai Wei Xiang seperti sekarang.
Melihat tidak ada tanggapan dari Bai Wei Xiang, Ao Xue berdiri dan mendekat ke arah Qi Lan Xia. Dia menyentuh kulit Qi Lan Xia dan reaksi yang ditunjukkan oleh Qi Lan Xia lebih parah bahkan sampai muntah.
Reaksi yang keduanya tunjukkan seolah mereka pernah dilecehkan dan itu membuat trauma yang begitu membekas. Tentu saja melihat keadaan keduanya, membuat Hinata dan Ao Xue marah besar, tapi mereka berusaha menahan amarah mereka.
“katakan! Siapa yang membuat kalian seperti ini. Aku akan membuat mereka merasakan kematian sangat berharga bagi mereka.”
__ADS_1
“Ya, beritahu kami, kami akan membuat orang itu merasakan apa itu trauma yang sesungguhnya.”
Hinata sangat marah, dia ingin membuat orang yang melecehkan kakak perempuannya merasakan siksaannya. Bahkan Ao Xue juga sangat marah dan ingin memberikan trauma yang mendalam untuk orang yang telah memberikan trauma pada keduanya.