Iblis Wanita Jenius

Iblis Wanita Jenius
Keajaiban Kehidupan


__ADS_3

Ao Xue keluar dari ruang kerja milik Kaisar. Ada senyum kecil menghiasi bibirnya, ia mengira jika dia tidak ingin menjadi Jenderal, dia harus berdebat dengan Kaisar. Siapa sangka, Kaisar tidak memaksanya dan lebih mengutamakan kebahagiaannya.


"Aah, sungguh ayah idaman." Bahkan dia tidak sadar jika dia berteriak, membuat Kaisar terkekeh geli.


Selama perjalanan dari ruang kerja Kaisar, setiap pelayan yang dia temui menunduk dan menyapanya.


Ao Xue memberi mereka senyum tipis dan anggukan. Dia terus berjalan menuju Istana bulan, di mana semua kakaknya telah menunggu.


Baru saja memasuki ruangan, dia segera digempur dengan banyak pertanyaan.


"Bagaimana? Apakah kau telah menjadi Jenderal?"


"Berapa banyak prajurit yang menjadi bawahanmu?"


"Apakah Chichi-ue benar-benar menjadikanmu seorang Jenderal?"


Ao Xue bingung ingin menjawab yang mana. Dia hanya memberi senyum pada kelima kakak laki-lakinya itu. Meskipun itu senyum manis, tapi kelima pemuda tertentu merasakan firasat buruk


"Bisakah kalian bertanya satu persatu?"


"Sabar Xue sabar."


Hinata berusaha menenangkan Ao Xue hingga Ao Xue hanya bisa menghela napas, dia melangkah dan duduk di kursi kosong.


"Ayah memang mengangkatku menjadi Jenderal. Namun, aku Menolaknya. Kalian semua tahu, aku masih harus mencari siapa sebenarnya ayahku."


Kelima pangeran akhirnya mengerti, mereka juga tahu masalah adik ketujuh mereka. Mereka juga yakin, jika ayah mereka tidak akan memaksakan kehendak pada anak-anak yang disayanginya.


"Oh ya, kalian kapan Kembali ke sekte?"


"Mungkin besok." Ji Hui menjawab pertanyaan Ao Xue. Memang mereka sudah sebulan tidak berada di sekte, karena masalah pemberontakan yang dilakukan Jenderal Ning.


Ao Xue mengeluarkan 5 senjata api dengan ratusan stok peluru untuk setiap senjata.


"Ini untuk kalian, gunakan jika kalian dalam keadaan terdesak.”


Kelima pangeran menilai senjata api yang diberikan oleh Ao Xue. Samar-samar mereka bisa membaca karakter di gagang senjata api itu.


*HuaYunXue 004*


HuaYunXue 004 memang dibuat khusus untuk kelima pangeran.

__ADS_1


"Bagaimana menggunakan mereka?"


Hinata tersenyum dan mengeluarkan senjata api miliknya. Dia mengajarkan kelima kakaknya tentang senjata api. Mulai dari mengisi peluru hingga cara memegang.


Beberapa jam kemudian, kelima pangeran mulai terbiasa.


"Untuk membidik sasaran, caranya sama dengan memanah. Meski pun sama, tapi kecepatan anak panah dan peluru ini berbeda, apalagi jika ditambahkan dengan Qi."


Mereka kembali mengingat pasukan kedua adiknya yang juga menggunakan senjata serupa, tapi modelnya agak berbeda.


Senjata Sniper, Hinata dan Ao Xue memberi nama dengan HuaYunXue 005, sedangkan yang dipakai sisa prajurit mereka adalah HuaYunXue 006.


Senjata untuk anggota Death Flower sendiri menggunakan HuaYunXue 007 dan 008.


Jika di dunia modern HuaYunXue 004 sama dengan Glock 45 GAP, 005 mirip dengan Barrett M107A1, 006 sama dengan AK-47, 007 sendiri mirip dengan McMillan TAC 50, dan untuk 008 dia mirip dengan Raging Bull 454.


"Jika kalian kehabisan peluru datang ke Rumah Harta."


Ao Xue memberikan mereka masing-masing token pengenal. Kelima pangeran tentunya tidak tahu tentang apa itu Rumah Harta.


"Rumah Harta? Apa itu?"


"Tenanglah Aniki, nanti kalian juga akan tahu."


"Calon Putri Mahkota adalah Putri Sah Pardana Menteri Kiri, Liu Yue. Jika aku telah menemukan 2 gadis lagi, aku akan meminta Chichi-ue membuat pesta perjamuan."


Keempat pangeran serta Hinata dan Ao Xue ternganga dengan apa yang dikatakan oleh kakak pertama mereka.


Hinata dan Ao Xue mengerutkan dahi, kenapa harus tiga gadis.


"Jadi, jika semua telah pasti dan disetujui oleh Chichi-ue. Dage akan menikahi mereka bertiga di hari yang sama?" Ji Chen akhirnya mengerti. Dia mengangguk, karena ayah mereka juga sama.


Ada peraturan untuk keluarga Kerajaan, setiap pewaris takhta hanya boleh menikahi 3 gadis. Jika lebih dari itu, maka gadis terakhir akan mengalami kecelakaan saat akan melahirkan.


"Baiklah, kami akan menatap Liu Yue ini. Apakah dia cocok untuk menjadi permaisuri masa depan atau tidak."


Ao Xue mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Hinata. Putra Mahkota tersenyum, dia dan para pangeran segera meninggalkan Istana bulan.


...


Di pinggiran gunung kabut, Seorang wanita sedang duduk di sebuah Ayunan, di mana talinya memiliki bunga yang mempercantik tampilan ayunan itu.

__ADS_1


Wanita itu mengelus perutnya yang saat ini tengah memasuki bulan kedelapan.


Dia tersenyum lembut seraya memandangi langit.


"Sebulan lagi, aku akan menjadi seorang ibu." Jantungnya berdegup kencang karena kegembiraan


Dia selalu merasa mengalami kehamilan adalah keajaiban, keajaiban karena ada kehidupan yang tumbuh di dalam diri setiap Wanita yang akan menjadi ibu.


Namun, dia terkadang heran, mengapa di dunia asalnya dulu. Banyak wanita yang tidak menginginkan keajaiban ini.


"Yun'er ayo masuk, ini sudah hampir gelap dan kau tidak boleh terkena angin dingin." Wanita itu yang merupakan Mu Liu Yun aka Naruto mengangkat kepalanya, dia tersenyum mendapati pemuda yang amat dicintainya.


"Baik." baru saja Naruto akan berdiri, Hongli telah menggendongnya dan memasuki kediaman.


"Semua perlengkapan bayi sudah siap. Selama sebulan ini, aku akan menemanimu hingga kau melahirkan anak kita.”


Naruto merasa hangat di hatinya. Entah mengapa menjadi seorang perempuan juga tidak buruk. Malah dia lebih bahagia ketimbang menjadi seorang pemuda.


Zhao Hongli juga mengirim pelayan wanita untuk melayani keperluan Naruto. Jadi selama ini, Naruto tidak pernah merasa terbebani jika sedang mengalami ngidam. Beruntung bukan dia yang mengalami mual-mual.


Zhao Hongli menurunkan Naruto ketika mereka telah berada di kamar.


"Jadi, kapan aku bisa bertemu sahabatku dan saudari yang lainnya?"


"Mungkin 1 setengah tahun lagi."


"Itu terlalu lama. Aku ingin saat kita menikah setelah aku melahirkan, kalian membawa mereka untuk menghadiri acara pernikahan kita."


Zhao Hongli tersenyum lembut, ia mengangguk menyetujui keinginan Naruto.


"Aku janji, tapi aku harus membicarakannya dulu dengan 4 sahabatku."


"Baik."


Zhao Hongli menemani Naruto, berbincang sambil bermain catur. Tangan Zhao Hongli juga tidak pernah lepas dari mengelus perut Naruto yang besar.


Dia juga kadang terkekeh pelan saat bayi di dalam kandungan Naruto merespon.


"Ah, apakah ini perasaan akan menjadi seorang ayah."


Keduanya tampak terlarut dalam kebahagiaan yang mereka ciptakan di dunia mereka sendiri.

__ADS_1


Keduanya juga tidak sabar menunggu buah hati mereka menghirup udara dunia. Zhao Hongli berjanji, akan memberi yang terbaik untuk anaknya nanti.


*Aska


__ADS_2