Ibu, Aku Juga Anakmu

Ibu, Aku Juga Anakmu
Bab 10. Arya Aditama


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 10


Pelangi kini sudah duduk kelas 3 SMP, itu berarti dia harus mempersiapkan dirinya untuk ujian nasional dan melanjutkan ke SMA. Dia dan teman-temannya setiap hari mengadakan les di sekolah. Kebanyakan mereka berasal dari keluarga menengah ke bawah. Tidak punya uang untuk ikut les di tempat bimbel, sehingga Pelangi dan beberapa temannya melakukan belajar bersama dan meminta izin pada pihak sekolah untuk mengizinkan mereka menggunakan ruang kelas untuk belajar bersama. 


Andi akan memphoto copy soal-soal untuk dibagikan kepada teman-temannya dan Pelangi mengajari mereka cara menyelesaikan soal-soal itu. Awalnya hanya sekitar sepuluh orang, karena nilai mereka mengalami kenaikan yang sangat tajam, teman-teman yang lain pun ikut bergabung bersama. Guru pun akhirnya ikut berpartisipasi dengan kegiatan itu, sehingga kini banyak murid yang ikut kegiatan itu. Mereka tidak dipungut biaya, tidak dipaksa untuk ikut, dan dilakukan dengan suasana santai bahkan kadang mereka belajar di luar kelas.


Pelangi jadi sering pulang sore dan itu membuat Senja tidak suka. Pekerjaan rumah yang sering dilakukan oleh Pelangi jadi terbengkalai.


"Kan ada Kak Embun dan juga Lembayung, Bu," ucap Pelangi ketika dia mencuci piring setelah sampai ke rumah.


"Kamu tahu sendiri kalau Embun itu sibuk belajar juga. Lembayung … akan jatuh sakit jika kecapekan kerja," ujar Senja.


"Aku juga belajar di sekolah. Masa kak Embun tidak bisa hanya sekedar menyapu dan mengepel. Lembayung juga bisa menyapu halaman dan menyiram seperti biasanya," balas Pelangi karena dia juga kelelahan baru pulang belum makan, sudah di suguhi banyak pekerjaan di rumah.


"Sudahlah, kalau kamu nggak mau melakukan lagi pekerjaan rumah membantu ibu. Mulai besok tidak perlu melakukan apa-apa, biarkan saja semuanya ibu yang kerjakan. Paling juga nanti jatuh sakit karena kecapean dan akhirnya mati," tukas Senja dengan nada meninggi.


Pelangi sakit hatinya mendengar ucapan ibunya barusan. Dia merasa selalu dipojokan olehnya. Bukan dia tidak mau membantu, setidaknya saat ini dia sedang menyiapkan diri mau ujian, ibunya itu mengerti keadaannya. Selama ini dia selalu dituntut untuk mengerti keadaan saudaranya, tetapi sebaliknya hal serupa tidak dia dapatkan dari saudara-saudara.


Begitu selesai mencuci piring, Pelangi pun dengan cepat mengambil sapu untuk menyapu rumahnya. Namun, hal itu dihentikan oleh Senja.

__ADS_1


"Simpan sapunya, biar ibu saja yang lakukan. Bukannya kamu capek, sana tidur saja! Jangan lakukan pekerjaan rumah apapun," kata Senja dengan nada menyindir.


Pelangi menarik napasnya yang terasa berat. Dia merasa dadanya sangat sesak.


"Aku masih sanggup, kok," balas Pelangi.


Saat Pelangi baru saja mulai menyapu, Senja merebut sapu itu dan melemparkan ke arah pojok ruangan. Dia menatap nyalang kepada Pelangi.


"Kamu itu suka sekali jadi anak pembangkang, ya? Mau kamu apa, sih!" bentak Senja dan Pelangi hanya menunduk.


"Tadi kamu bilang capek saat ibu suruh bantu. Sekarang saat ibu suruh kamu istirahat kamu malah melakukan pekerjaan. Kamu senang sekali membuat ibu marah dan pusing. Seolah-olah kamu adalah anak yang dibabukan oleh ibu dan diperlakukan beda dengan saudara-saudara kamu yang lain. Nyatanya kamu sendiri yang suka membuat dirimu merasa tersiksa," hardik Senja.


Pelangi tidak tahu kenapa ibunya belakangan ini selalu berbuat dan berkata sesuatu yang seolah sedang menyindir dirinya. Dia tidak tahu sudah melakukan kesalahan apa yang membuat ibunya menjadi begitu.


Sementara itu, Senja merasa sakit hatinya karena Awan selalu menceramahi dirinya. Suaminya itu sering bilang jangan memperlakukan Pelangi berbeda dengan kedua saudaranya yang lain. Suaminya itu selalu membela Pelangi di depannya. Hal ini membuat Senja malah semakin tambah kesal pada Pelangi.


***


Untuk mengembalikan mood belajarnya Pelangi pergi ke toko buku yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Dia harus naik kendaraan umum ke sana. Pelangi menghabiskan waktu sampai siang hari di toko buku itu. 


Saat hendak pulang dia terserempet sepeda motor. Lutut dan lengannya terluka. Untungnya si pengendara membawanya dulu ke puskesmas yang dekat dari tempat kejadian.


"Adik rumahnya di mana? Biar saya antarkan pulang," tanya orang itu.

__ADS_1


"Tidak perlu, Kak. Aku bisa naik angkot," balas Pelangi menolak ajakan orang yang tidak dikenal olehnya.


"Tidak. Aku akan mengantarkan kamu pulang dan akan meminta maaf juga pada kedua orang tuamu, karena sudah menabrak putrinya ini," ucap pemuda itu bersikukuh.


"Baiklah," ucap Pelangi akhirnya mengalah.


Pelangi pun memberi tahu alamat rumahnya kepada laki-laki yang mengaku bernama Arya Aditama. Dia minta dipanggil Tama, karena orang-orang sering memanggilnya begitu.


Tama mengantarkan Pelangi pulang ke rumah dan menemui Senja, sedangkan Awan sedang berdagang. Dia menceritakan kejadian yang menimpa Pelangi.


"Tama orang mana? Ibu baru melihat kamu," tanya Senja.


"Aku bukan orang sini, Bu. Aku orang Jakarta, ke sini sedang melakukan PKL, tugas dari kampus," jawab Tama.


"Oh, terima kasih sudah mau mengantarkan Pelangi pulang ke rumah. Maaf sudah merepotkan kamu," ucap Senja.


"Tidak kok, Bu. Aku tidak merasa direpotkan. Pelangi, jika terjadi apa-apa bilang saja sama aku, ya. Kita bisa cek tubuh kamu nanti ke rumah sakit," ujar Tama kini perhatiannya pada gadis yang sejak tadi menundukkan kepalanya.


"Iya, Kak. Terima kasih atas perhatiannya," balas Pelangi.


Sementara itu, Embun diam-diam mengintip di balik pintu. Dia tadi sangat terkejut saat melihat ada pemuda yang berparas tampan datang bersama Pelangi. Embun yang sudah dalam masa puber merasa punya rasa ketertarikan pada Tama. Bisa dibilang dia jatuh cinta pada pandangan pertama pada Tama.


'Pelangi kenal sama laki-laki itu di mana, ya? Apa benar secara tidak sengaja?' Embun bertanya dalam hatinya.

__ADS_1


***


Kak Embun sudah mulai falling in love nih. Lalu, bagaimana dengan Pelangi dan Tama? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2