
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan πππππ. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 39
Suara keras dari Lembayung membuat Pelangi terbangun dari tidurnya. Meski rasa kantuknya masih kuat Namun, dia tidak bisa tidur kembali.
Cekcok kedua saudaranya itu membuat dia merasa sangat kesal bercampur marah. Banyak hal-hal yang mereka teriakan akan kebenaran selama ini yang selalu dia anggap cuma praduga dia saja.
Akan tetapi, apa yang Pelangi dengar dari pembicaraan mereka berdua membuat dirinya merasa sakit hati. Semakin terluka saja perasaannya. Meski dia dulu sempat berpikir seperti itu. Namun, dia tidak berani menuduh orang lain jadi membiarkannya saja.
Rasanya Pelangi ingin merelai kedua saudaranya itu. Sebab, kejadian yang sudah berlalu, tidak akan bisa kembali lagi. Kita hanya bisa memperbaikinya untuk masa yang akan datang.
Telepon milik Embun pun berbunyi. Terlihat nama Tama di layar itu. Tentu saja ini membuat gadis itu merasa senang. Dia pun pergi ke luar ruangan dan mengabaikan teriakan Lembayung.
"Halo, Kak Tama."
^^^"Halo. Embun, kamu masih di mana sekarang? Aku sudah bosan menunggu. Masih banyak hal yang perlu aku kerjakan juga."^^^
"Maaf, Kak Tama. Aku sekarang sedang berada di rumah sakit. Bapak mengalami kecelakaan dan sekarang sedang koma."
^^^"Apa? Bapak ... bagaimana bisa itu terjadi?"^^^
"Ada pengendara motor yang ngebut dan menabrak Bapak."
^^^"Ya Tuhan. Aku harap bapak bisa secepatnya sembuh."^^^
Panggilan dari Tama pun berakhir. Sebenarnya Embun masih ingin berbincang-bincang dengan lelaki itu. Bicara dengannya membuat mood dia cepat pulih. Apalagi gara-gara pertengkaran dengan Lembayung membuat dia semakin emosi.
***
Ternyata Tama menghubungi nomor handphone milik Pelangi. Lembayung yang memegang handphone milik Pelangi saat ini, terkejut atas panggilan dengan nama di layar "My Hero". Dia tidak tahu siapa pemilik nomor ini. Maka, dengan hati-hati dia mengangkat panggilan itu.
^^^"Halo, Pelangi."^^^
"Ini seperti suara Kak Tama?"
^^^"Pelangi?"^^^
__ADS_1
"Ini dengan Kak Tama, 'kan?"
^^^"Iya. Ini dengan Tama. Ini Lembayung?"^^^
"Iya, Kak. Ini aku Lembayung. Ada apa? Kenapa Kak Tama menghubungi nomor Kak Pelang"
Pelangi yang sedang berbaring di atas brankar dan mendengar ucapan Lembayung merasa ketar-ketir takut hubungannya dengan lelaki itu terbongkar.
'Kenapa Kak Tama menghubungi aku di saat seperti ini?' (Pelangi)
Lembayung duduk di dekat Pelangi yang masih pura-pura tidur. Gadis itu bicara dengan bisik-bisik karena takut membangunkan Pelangi.
^^^"Aku dengar bapak mengalami kecelakaan?"^^^
Lembayung malah menangis tergugu sambil menganggukkan kepalanya. Pastinya tidak akan terlihat oleh Tama.
^^^"Lembayung, jadi benar bapak tadi kecelakaan dan saat ini sedang koma?"^^^
"Iya, Kak. Bapak dan Kak Pelangi tadi pagi mengalami kecelakaan dan sekarang sedang berada di rumah sakit."
^^^"Apa? Pelangi juga ikut mengalami kecelakaan itu? Bagaimana ceritanya?"^^^
^^^"Ja-di, Pelangi saat i-ni tidak bi-sa bi-cara?"^^^
Lembayung mendengar suara Tama yang menjadi gagap. Bahkan helaan napas dan isak tangis yang ditahan bisa dia dengar.
"Iya, Kak. Saat ini Kak Pelangi menjadi bisu. Dokter menduga ini akibat shock. Sehingga membuat Kak Pelangi tidak bisa bicara untuk sementara waktu. Katanya bisa bicara lagi jika melakukan pengobatan yang benar."
^^^"Sekarang kalian ada di rumah sakit mana?"^^^
"Rumah sakit pemerintah yang ada di kota."
^^^"Semoga semuanya segera membaik."^^^
***
Senja ingin menemui Awan secara langsung. Dokter pun meminta perawat untuk menemaninya dan menjelaskan apa yang kiranya terjadi pada lelaki malang itu.
Tubuh Awan terpasang banyak kabel, selang, dan juga alat bantu pernapasan. Ruangan yang hanya terdengar suara tit-tit dari alat medis, membuat hati Senja terasa disayat-sayat. Dia teringat kembali orang-orang yang disayangi dan dicintai olehnya, selalu pergi dan tidak pernah kembali lagi jika sudah terpasang alat deteksi denyut jantung itu.
__ADS_1
'Pak, aku mohon sadarlah kembali. Aku tidak akan sanggup jika harus kehilangan bapak secepat ini. Bagaimana dengan Embun, Pelangi, dan Lembayung? Mereka bertiga masih butuh sosok ayah. Hanya bapak yang bisa memberikan kebahagiaan bagi mereka. Aku tidak mau kalau bapak juga meninggalkan aku. Sudah 25 tahun kita menjalin biduk rumah tangga. Aku pasti tidak akan sanggup jika nanti harus menjaga dan mengurusi putri-putri kita itu.' (Senja)
Air mata Senja masih saja mengalir tiada henti dari matanya yang belo. Dia itu tipe perempuan yang galak, tapi mudah menangis. Namun, hanya di depan Awan dia bisa luruh kekerasan kepalaan dan selalu menurut padanya. Kesabaran dan kebaikan Awan yang membuat seorang Senja bisa jatuh cinta kepadanya.
'Pak, katanya ingin melihat anak-anak kita sukses. Bapak jangan dulu pergi sebelum mereka benar-benar menjadi orang yang bisa dibanggakan.' (Senja)
Senja duduk di samping Awan sambil memegang jemari tangan dan menggenggam tangan itu. Dia menciumi tangan kasar yang selama ini selalu banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
***
"Bu, sedang apa di sini?" tanya Awan.
"Bapak? Akhirnya Bapak sadar juga. Aku sudah sangat ketakutan sekali kalau sampai kehilangan Bapak saat ini." Senja memeluk tubuh Awan.
Awan pun membalas pelukan itu dan mencium kening Senja. Wanita yang sudah memberinya kebahagiaan dan anak-anak yang hebat dan membanggakan.
"Kenapa? Ibu adalah wanita yang hebat. Pasti tanpa adanya bapak pun, ibu akan selalu bisa memberikan pengertian dan bimbingan kepada putri-putri kita," ujar Awan.
"Tidak. Aku tidak akan mampu melakukan, seperti apa yang bapak lakukan."
"Pak, Ayo!"
Terdengar suara orang lain di sana. Senja baru sadar kalau saat ini dia bukan berada di rumah sakit. Namun, sebuah taman yang indah dan baru pertama kali dia melihatnya.
"Bapak yakin ibu pasti bisa. Bapak titip anak-anak, ya, Bu. Bantu Embun, Pelangi, dan Lembayung menjadi orang yang berguna dan bisa memberi manfaat untuk orang lain," kata Awan sambil menangkup wajah istrinya.
"Ibu, pulang dulu sana. Kasihan ketiga adikku sedang menunggu. Biar Bapak bersama dengan Surya. Dengan begini Bapak juga tidak akan merasakan kesakitan lagi. Surya titip adik-adik, ya, Bu! Sampaikan salam dari abang mereka yang belum pernah mereka temui. Surya yakin kita suatu saat nanti akan berkumpul kembali."
Senja diam mematung menatap seorang pemuda yang mirip dengan Awan saat masih muda. Dia punya seorang putra bernama Surya, yang meninggal saat bayi itu baru berumur satu tahun. Surya anak pertama Awan dan Senja yang terlahir dua tahun saat usia pernikahan mereka. Putra kesayangannya itu meninggal karena mengalami demam tinggi.
Sepeninggalan Surya, Senja mengalami depresi selama bertahun-tahun karena merasa menjadi ibu yang tidak mampu menjaga dan merawat anak mereka. Seiring dengan berjalannya waktu, Senja bisa menerima takdir yang menimpa Surya. Setelah itu dia dan Awan pun melakukan program kehamilan dan terlahirlah Embun.
***
Aduh lumayan sesak napas aku. π₯Ίππ«
Jadi, kita bisa tahu kenapa Senja sering berbuat angin-anginan kepada Pelangi dan ketakutan saat dulu Pelangi sakit parah.
Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya aku yang lainnya. Ini season 2 di Duda VS Anak Perawan. Seru loh Ceritanya, tidak bikin sesak dada atau sakit kepala.
__ADS_1