
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 53
Pelangi pun menghubungi Tama. Dia menanyakan kamu keberadaan laki-laki itu.
"Apa Kak Tama masih di Jakarta?"
^^^"Tidak. Aku dan Mami sedang tidak berada di Jakarta sekarang. Ada apa?"^^^
"Tadinya aku mau minta tolong bantu ibu. Kak Embun terkena masalah saat ini di Jakarta."
^^^"Masalah apa?"^^^
"Kak Embun menabrak seorang anak kecil dan saat ini keadaannya sedang kritis."
^^^"Ya Tuhan. Bagaimana hal itu bisa terjadi?"^^^
"Yang aku dengar dia kesiangan dan meminjam motor milik temannya untuk pergi ke kampus. Saat dalam perjalanan ada seorang anak kecil yang bermain bola tanpa sengaja tertabrak oleh Kak Embun. Orang tuanya menuntut dan melaporkan kepada pihak yang berwajib."
^^^"Jika itu sudah terjadi aku akan meminta pengacara kenalanku untuk membantu ibu."^^^
"Terima kasih Kak. Aku dan semua keluarga di sini tadinya merasa bingung. Untungnya Kakak mau membantu."
^^^"Aku melakukan semua ini bukan karena Embun, tetapi karena kamu. Aku tidak mau kamu bersedih dan terlalu banyak pikiran.^^^
"Maafkan aku, Kak Tama. Jika aku selalu merebutkan kakak."
^^^"Aku merasa tidak direpotkan untuk calon masa depanku."^^^
Pelangi tersenyum senang dan hatinya merasa berbunga-bunga. Jika mendengar pengakuan dari lelaki yang disukainya. Meski ini bukan yang pertama bahkan hampir setiap hari Tama mengakui perasaan yang terdapat Pelangi. Tetap saja bagi dia selalu membuatnya berdebar-debar dan bahagia.
"I love you."
^^^"Apa? Kamu bicara apa aku tidak mendengarnya!"^^^
Pelangi merasa malu. Kini pipinya juga sudah merona.
__ADS_1
"I love you, Kak Tama."
^^^"Sekali lagi!"^^^
Kini Pelangi sadar kalau saat ini sedang dijahili oleh kekasihnya. Dia malu, kesal, tapi senang.
"Kak Tama, I love you full!" Pelangi menuruti keinginan kekasihnya itu.
Terdengar suara tawa nyaring di seberang sana. Hal ini membuktikan kalau Tama sedang sangat berbahagia.
^^^"I love you more and more everyday."^^^
Pelangi tersenyum malu-malu karena mendengar ucapan kekasihnya barusan. Tanpa dia sadar kalau Senja sudah berada di sana sejak tadi.
***
Akhirnya Senja pun pergi ke Jakarta seorang diri. Di sana dia akan dibantu oleh pengacara yang di kenalkan oleh Tama.Â
Kini di rumah Pelangi dan Lembayung begadang membuat kue pesanan. Dia tidak mau merepotkan Hana, pegawai yang dipekerjakan oleh Senja. Pelangi menyuruh Hana besok pagi kerjanya, karena perempuan itu punya keluarga yang harus diurus dan diutamakan.
"Kak Pelangi, kue sus sudah selesai aku buat. Capek juga membuat 500 biji ini." Lembayung memukul-mukul pelan kedua lengannya silih bergantian.
"Lalu, Kak?" tanya Lembayung.
"Akan buat kue ulang tahun pesanan Bu Bidan dan yang pesan online," jawab Pelangi.
"Tapi ini sudah malam, Kak. Sebaiknya aku ikut bantu juga. Biar cepat selesai," ucap Lembayung.
"Tidak perlu. Sana kamu tidur!"
Lembayung pun pergi ke kamar. Benar saja, belum sampai tiga menit dia berbaring, gadis itu sudah terlelap tidur.
Sementara itu, Pelangi menyelesaikan dua buah kue ulang tahun sampai pukul 03:00 dini hari. Setelah itu baru dia tidur dan memasang alarm pukul 05:00.
Semua pesanan hari itu dapat mereka selesaikan bersamaan. Meski Pelangi dan Lembayung sampai lupa waktu makan siang, karena mereka terlalu fokus untuk membuat pesanan.
"Lapar!" ucap Lembayung yang kini sedang tepar.
"Mau makan apa, Dek? Kita pesan saja, ya." Pelangi ikut rebahan di atas karpet karena merasakan badannya terasa remuk.
__ADS_1
"Apa saja, Kak, yang penting cepat. Lapar sekali!"
Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 sore, sedangkan mereka tadi sarapan pukul 07.00 pagi. Belum lagi ditambah pesanan yang sangat banyak.
"Pelangi, pesanan terakhir sudah di ambil oleh tukang ojek," kata Hana.
"Iya, Kak Hana. Terima kasih. Kalau mau pulang, silakan! Biarkan saja cucian wadah itu, nanti aku yang membersihkannya," balas Pelangi.
"Aku akan pulang setelah selesai mencuci semua wadah yang kotor ini," ujar wanita yang seumuran Embun.
"Kasihan suami Kakak, jika saat pulang ke rumah istrinya nggak ada," goda Lembayung.
"Biasanya juga seperti itu setiap hari. Mas Jaka tidak mempermasalahkan," balas Hana yang kini mulai mencuci perlengkapan membuat kue.
"Aku sudah pesankan makanan. Punya Kak Hana bisa di bawa pulang nanti," ucap Pelangi.
"Padahal aku sudah makan siang tadi," pungkas perempuan yang menikah muda itu.
"Bisa dimakan bersama dengan pak suami nanti di rumah," goda Lembayung lagi.
"Sambil suap-suapan, biar romantis," lanjut gadis yang suka sekali menggod orang lain.
"Dek, kamu itu tidak sopan menggoda orang yang lebih tua," tukas Pelangi sambil memukul pelan pantat yang mengarah padanya.
Meski Senja tidak ada di rumah, Pelangi dan Lembayung bisa mengerjakan semua pesanan yang sudah terlanjur diterima oleh ibunya itu. Meski mengorbankan waktu istirahat mereka. Untuk sementara waktu Pelangi menutup pesanan online-nya selama Senja di Jakarta.Â
***
Sudah hampir satu minggu Senja berada di Jakarta. Dia mengatakan kalau pembicaraan dengan keluarga anak itu berjalan dengan lancar atas bantuan pengacara. Senja harus menanggung semua biaya rumah sakit anak itu dan juga memberikan uang kompensasi sebesar 50 juta. Tentu saja hal ini sangat memberatkan dirinya. Hidup dia yang pas-pasan dan banyaknya pengeluaran untuk keperluan sekolah anak-anaknya. Membuat dia mau tidak mau harus menjual lahan warisan dari neneknya.
Embun terlihat sangat kurus. Mungkin karena dia merasa stress atas kejadian yang menimpa dirinya.
"Kakak jangan terlalu banyak pikiran. Sekarang fokus saja pada kuliah. Ingat apa kata ayah, jadilah kamu orang dan berguna bagi orang lain."
"Kenapa kak Tama tidak datang untuk membantu?" tanya Embun.
***
Si Embun tidak tahu malu 😒 Sudah berbuat ulah, malah ingin cari perhatian.
__ADS_1
Bagaimana kisah Pelangi untuk menggapai kehidupannya yang bahagia? Tunggu kelanjutannya, ya!