Ibu, Aku Juga Anakmu

Ibu, Aku Juga Anakmu
Bab 41. Kedatangan Tama


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 41


Pemakaman Awan akan dilangsungkan hari itu juga. Para tetangga sudah datang melayat pada laki-laki yang dikenal ramah dan baik oleh para tetangga.


Senja masih bersedih dan terus menangis, kadang sesekali pingsan. Untungnya kerabat dia cepat berdatangan setelah mendengar kecelakaan yang menimpa Awan. Meski saat mereka sampai ke sana, lelaki itu sudah terbujur kaku. Mereka juga menangisi kepergian Awan yang selalu membantu mereka jika mengalami kesulitan. 


"Awan itu orang baik. Pastinya akan ditempatkan yang baik juga di sisi Tuhan," kata salah seorang kerabat Awan yang datang melayat.


Banyak sekali orang-orang yang datang ke sana dan saling bergantian saat mengucapkan rasa bela sungkawa. Hanya Embun dan Lembayung yang masih sanggup menerima tamu yang datang ke rumah.


***


Tama dan maminya mendatangi rumah sakit. Mereka sangat terkejut saat mendengar kalau Awan sudah meninggal dunia. Bahkan jenazahnya juga sudah dibawa pulang.


"Bagaimana ini, Tama?" tanya Anindita ketika baru mengetahui kabar duka ini.


"Kita temui Pelangi dulu, Mi," jawab Tama.

__ADS_1


Mereka berdua pun pergi ke lantai atas menuju ruang rawat Pelangi.


Begitu mereka masuk ke ruangan itu terlihat kalau gadis itu sedang berbaring tidak berdaya. Tama dan Anindita terasa sedih melihat keadaan kepala Pelangi yang dibalut perban.


Tangan Tama terulur menyentuh wajahnya. Dia pun mencium lembut kening yang terhalang oleh kain kasa itu. Air mata kesedihan mengalir di pipinya. Padahal beberapa hari yang lalu dia masih bisa melihat gadisnya ini tertawa bahagia saat menghabiskan waktu liburan bersama.


"Pelangi, ini aku. Bukalah matamu," bisik Tama dengan lembut.


"Aku dan Mami datang ke sini untuk menemui kamu," lanjut Tama yang membiarkan air mata terus mengalir di pipinya..


"Melihat kamu dalam keadaan seperti ini membuat aku ikut merasakan sakit," aku laki-laki yang kini terlihat kacau. Berbeda dari biasanya yang selalu terlihat rapi.


Pelangi merasa ada yang memanggil namanya. Dia juga bisa merasakan seseorang mencium jemari tangannya.


Pelangi kini tahu kalau ada Tama sedang menjenguknya. Gadis itu bingung harus berbuat apa sekarang. Dia kini tidak bisa bicara. Dalam dirinya muncul rasa minder dan takut akan penolakan yang Tama lakukan kepadanya.


'Apa yang harus aku lakukan sekarang?'


'Apa Kak Tama masih mau menerima diriku yang sudah cacat ini?'


'Aku belum siap jika harus kehilangan Kak Tama juga.' (Pelangi)

__ADS_1


Batin Pelangi berkecamuk antara ingin membuka mata dan melihat sosok laki-laki yang dicintainya. Atau masih pura-pura tidak sadarkan diri.


"Kamu, jangan punya pikiran aku akan meninggalkan dirimu setelah ini. Justru dengan begini aku semakin menginginkan dirimu untuk terus bersama denganku. Aku yang akan menjaga dan melindungi kamu untuk menggantikan tugas bapak. Apapun keadaan kamu sekarang aku akan terima semua itu," tukas Tama dan membuat hati Pelangi merasa sangat bahagia karena dirinya masih dianggap berharga oleh kekasihnya.


Pelangi pun membuka matanya. Meski dia masih belum siap jika dicampakkan oleh si pencuri hatinya. 


Mereka pun saling beradu pandang. Senyum lebar langsung terukir di wajah milik Tama. Begitu juga dengan Pelangi, dia menampilkan senyum tipis dan terlihat pancaran kesedihan di sorot matanya.


"Akhirnya, kamu bisa membuka matamu juga," kata Tama sambil mencium tangan Pelangi sebagai rasa syukur dan bahagia dirinya.


Tama merasa ada yang aneh karena Pelangi tidak membalas ucapannya. Gadis itu hanya tersenyum dan air matanya meleleh.


"Pelangi apa ada yang sakit? Mau aku panggilkan dokter?" tanya Tama dengan penuh perhatian.


Pelangi hanya menggelengkan kepalanya. Dia belum memberi tahu kalau saat ini sudah tidak bisa bicara.


***


Bagaimana reaksi Tama saat tahu Pelangi tidak bisa bicara? Akankah cinta mereka masih bisa menguatkan hubungan itu? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya aku yang lainnya juga.

__ADS_1



__ADS_2