Ibu, Aku Juga Anakmu

Ibu, Aku Juga Anakmu
Bab 8. Cekcok


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih Bunga, Kopi, Vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 8


Pelangi dan Lembayung akan menghadapi hari ujian mereka masih menyempatkan diri untuk membantu ibunya pengurus rumah dan membuat dagangan. Hanya saja waktu tidak sebanyak biasanya karena harus belajar.


"Sudah sana kalian belajar saja bukannya besok akan ada ujian," titah Senja pada kedua putrinya.


"Kakak Embun, kakak 'kan sudah bebas saat ini. Bantu Ibu, dong!" ucap Pelangi yang mau tidak mau membuat Embun membantu ibunya meski dengan terpaksa.


Pelangi dan Lembayung menyeringai saat melihat ekspresi wajah kakaknya. Keduanya pun pergi belajar mempersiapkan diri untuk ujian esok hari.


Embun yang sudah duduk di kelas 3 SMP dan saat ini sedang menunggu hasil kelulusan ujian nasional. Sehari-harinya dia disibukan dengan menonton televisi dan membaca komik. Bahkan dia enggan membantu memasak dengan alasan tidak bisa. Pekerjaan yang dia lakukan dalam membantu ibunya hanya menyapu dan mengepel saja. Sisanya akan dilakukan oleh Pelangi saat dia pulang sekolah.


***


Embun pun lulus dengan hasil yang sangat memuaskan. Dia mendapat nilai tertinggi di sekolah sampai ke tingkat provinsi seperti waktu SD dahulu. Tentu saja ingin membuat bangga dirinya dan juga kedua orang tuanya.


Bahkan Senja memberitahu kepada para tetangganya kalau Embun mendapatkan nilai tertinggi. Selain itu dia juga mendapat beasiswa untuk melanjutkan di sekolah bergengsi itu lagi.


"Embun itu memang anak yang jenius, ya!" puji para tetangga dan membuat Senja bangga.


"Tentu saja, dia itu sejak masih kecil sudah terlihat kecerdasannya. Makanya aku selalu mendukung semua keinginannya itu. Apapun itu untuk bisa menjadi nomor satu," balas Senja.


Ada muncul rasa iri di dalam hati Pelangi. Dia berkata dalam hatinya, 'Bagaimana mungkin aku bisa mengalahkan kakak jika tidak mendapatkan fasilitas dan dukungan yang sama dengannya dari lbu.'

__ADS_1


Lembayung juga merupakan anak yang cerdas, hanya saja dia memiliki tubuh yang lemah tidak bisa melakukan pekerjaan yang berat. Dia selalu menjadi juara 1 di kelasnya dan aktif dalam kesenian. Dari sinilah yang membawa Lembayung sampai ke tingkat Internasional untuk memperkenalkan kebudayaan daerahnya.


Senja tentu saja bangga memiliki tiga orang putri yang cerdas dan aktif. Terlihat sekali banyak piala di rumahnya, bahkan Awan sengaja membuatkan lemari kaca untuk piala-piala dan medali putrinya itu.


***


Pelangi naik kelas dengan mendapatkan juara ke 1 dan umum di sekolahnya. Dia mendapatkan sejumlah uang sebesar satu juta rupiah dan sertifikat dari sekolah. Tentu saja dia merasa senang dapat uang yang menurutnya sangat banyak itu.


"Bu, aku dapat uang dari sekolah," kata Pelangi sambil memberikan amplop panjang yang berwarna kopi.


"Ini buat beli keperluan sekolah untuk ajaran tahun depan," kata Senja dengan senang hati menerima uang itu.


"Apa Teman-teman kamu bodoh. Masa kamu yang punya nilai seperti itu bisa jadi juara umum. Di sekolah aku dengan nilai segini ini tidak akan masuk rangking sepuluh besar. Untung saja kamu nggak masuk ke sekolahan aku dulu. Bisa-bisa kamu malu punya kakak yang langganan juara 1 dan murid teladan, sedangkan nilai kamu cuma segitu," ucap Embun dengan sinis.


Pelangi tidak terima dengan ucapan kakaknya itu. Itu sama saja sudah merendahkan dia dan teman-temannya. Selain itu secara tidak langsung sudah merendahkan sekolahnya tempat mencari ilmu.


"Kenapa? Kakak iri karena tidak pernah dapat uang dari juara 1 dan umum," balas Pelangi.


"Aku juga sama dapat beasiswa penuh dari pemerintah. Sampai-sampai Ibu dan bapak tidak perlu mengeluarkan biaya pendidikan untuk aku bersekolah di sana. Tidak ada tuh minta uang untuk ini dan itu," sindir Pelangi karena Embun masih saja memerlukan banyak uang untuk membeli buku atau alat praktikum lainnya yang harganya sangat mahal.


"Pantas saja kamu bodoh, tidak bisa membedakan sekolah swasta dan negeri. Segala keperluan murid swasta itu ditanggung sendiri, beda sama sekolah negeri yang ditanggung oleh pemerintah. Semua buku kamu itu pinjaman yang diberikan oleh pemerintah. Bukan hak milik pribadi," balas Embun sewot.


"Tidak masalah meski itu buku pinjaman, yang penting aku tidak menyusahkan orang tua hanya untuk membeli buku," balas Pelangi.


"Berisik!" teriak Senja yang tidak tahan oleh ocehan kedua putrinya itu.


"Bisa tidak kalian itu jangan berantem dan cekcok terus. Ibu heran sama kalian ini, setiap hari ada saja yang jadi perdebatan kalian. Seharusnya kalian ini rukun sesama saudara. Bukannya saling menjatuhkan dan menghina. Kakak, kamu jangan usil jadi orang. Pelangi kamu juga jangan mudah tersulut emosi," ujar Senja yang sering merasa pusing jika mendengar kedua anaknya ini adu mulut.

__ADS_1


***


Pelangi kini sudah duduk di tingkat kelas 2 SMP, Embun kelas 1 SMA, dan Lembayung kelas 6 SD. Hal yang membuat Pelangi dan Lembayung tertawa sinis pada Embun adalah merengek minta dibelikan tas dan sepatu baru, di mana Senja membeli itu dari uang yang di dapat Pelangi dari juara umum saat kenaikan kelas dulu.


Senja menggunakan semua uang dari Pelangi untuk membeli sepatu, tas, dan perlengkapan tulis menulis lainnya. Dia hanya menambahkan sedikit uang untuk keperluan sekolah ketiga putrinya. Paling mengeluarkan uang daftar ulang dan uang SPP saat mereka masuk sekolah. Untungnya Embun dapat beasiswa penuh, karena uang daftar masuk ke SMA swasta itu sangat mahal bahkan sama dengan biaya masuk ke universitas.


***


"Pelangi, Ibu dengar kalau kamu pacaran dengan Andi. Apa itu benar?" tanya Senja saat mereka semua berkumpul bersama di malam hari.


Pelangi terhenyak mendengar perkataan ibunya barusan. Dia tidak tahu dari mana ibunya dapat kabar seperti itu.


"Tidak. Kami hanya berteman saja. Aku juga berteman baik dengan semua murid di sekolahan aku," balas Pelangi.


"Lalu, kenapa kamu sering diantarkan pulang olehnya?" tanya Senja.


"Itu karena Andi mau mengambil buku yang aku pinjam," jawab Pelangi.


Memang Pelangi sering meminjam buku milik Andi. Materi buku yang dimiliki oleh temannya itu sangat lengkap isi dan pembahasannya. Ini sangat memudahkan Pelangi dalam memahami pelajarannya. Andi membeli buku itu dari ibu kota yang kebetulan sepupunya itu sekolah di yayasan yang memiliki sekolah super mahal dan didukung oleh fasilitas lengkap. Guru-gurunya juga lulus universitas terbaik baik di dalam negeri maupun luar negeri. Buku-buku yang digunakan di sekolahan itu khusus buatan sekolah itu. Jadi, tidak ada di toko buku manapun.


"Alasan," gumam Embun.


"Kakak jangan mulai!" Senja mengingatkan.


"Bapak juga tidak mau kalau kalian ketiga itu berpacaran," lanjut Awan.


"Iya, Pak," balas ketiga.

__ADS_1


***


Apakah mereka tidak akan mengalami yang namanya pacaran saat di sekolah? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2