
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan πππππ. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 23
"Jadi seperti ini kalian di belakang kami?" tanya Senja dan membuat Pelangi menegang tubuhnya.
Pelangi sangat terkejut saat melihat ada ibunya sudah berdiri di kamar. Dia bahkan lupa menutup sambungan telepon dengan Tama. Hal ini justru membuat laki-laki itu bisa mendengar semua pembicaraan dia dengan Senja.
"Bukannya kamu sudah berjanji kepada kami tidak akan berpacaran dengan Tama!" bentak Senja.
"Kami hanya berbicara menanyakan kabar dan obrolan-obrolan lainnya," jawab Pelangi.
"Bohong. Ibu dengar sendiri kalau kamu ingin bertemu dengannya lagi karena sangat merindukannya. Ini, 'kan? Jawab?" tanya Senja.
Pelangi langsung diam. Dia tidak bohong dengan ucapannya tadi. Meski apa yang diucapkan oleh ibunya itu juga benar.
"Aku tidak bohong, Bu. Dan benar juga kalau aku rindu sama Kak Tama. Tapi, kami tidak berpacaran. Aku sudah janji kepada Bapak kalau tidak akan berpacaran saat masih sekolah. Apa salah jika aku bilang rindu dan berbincang-bincang dengan Kak Tama?" tanya Pelangi dengan lirih.
Mata Pelangi sudah terasa panas. Air mata dia sudah bertumpuk, seandainya dia berkedip maka air mata itu akan jatuh meluncur. Namun, Pelangi memilih tidak mengedipkan matanya agar air mata itu tidak luruh dan memperlihatkan kesedihannya.Β
"Mulai sekarang kamu fokus pada sekolah. Kalau masih punya waktu untuk teleponan, lebih baik belajar yang lebih giat lagi. Contoh Kakakmu, Embun. Dia tidak suka membuang-buang waktu dengan hal yang tidak berguna," cecar Senja kepada putri keduanya.
Pelangi terperangah sakit terkejutnya. Senja tidak tahu kalau Embun justru orang yang paling banyak menghabiskan waktu dengan hal yang sia-sia. Putri sulung keluarga ini suka sekali membaca komik dan main sosial media. Hanya saja, dia punya otak yang cerdas
__ADS_1
Β Hanya sekali membaca dia langsung paham dan tahu karena punya daya ingat yang kuat. Selain itu, Embun juga pintar main playing victim.Β
"Ibu, tidak tahu apa yang sudah dilakukan Kak Embun sehari-hari di belakang ibu. Dia itu suka pura-pura sibuk belajar agar tidak disuruh mengerjakan pekerjaan rumah," kata Pelangi.
"Pelangi! Ibu tidak pernah mengajari kamu untuk memfitnah atau menjelek-jelekkan orang lain. Apalagi ini kakak kamu sendiri!" bentak Senja.
Akhirnya, air mata itu luluh juga dan membasahi pipi Pelangi. Gadis itu menangis dalam diam. Tangisannya pecah setelah Senja keluar dari kamarnya.
Di tempat lain, Tama yang masih tersambung saluran telepon dengan Pelangi, ikut merasa sedih. Terlebih saat suara tangisan Pelangi yang begitu jelas, rasa sakit yang teramat sangat. Dia tahu kalau Pelangi tidak akan melakukan hal yang seperti itu.
Mengetahui kondisi Pelangi saat ini terjadi karena tadi dia duluan yang meneleponnya, membuat Tama merasa bersalah. Dia sangat menyesal sudah membuat Pelangi kesusahan gara-gara dirinya.
***
Setelah kejadian itu Pelangi dan Tama menjaga jarak. Keduanya tidak lagi saling menelepon seperti dulu. Mereka bertukar kabar lewat sosial media milik mereka, itu juga hanya sesekali dan secara diam-diam.Β
"Bapak dan Ibu doakan semoga kakak bisa lulus dengan nilai tertinggi lagi," kata Awan memberikan dukungan kepada putri sulung mereka.
"Terima kasih, bapak," balas Embun senang. Apalagi Awan membelikan peralatan menulis baru tadi siang untuk dirinya.
Pelangi dan Lembayung duduk dilantai sambil bermain Ludo. Keduanya tidak mau melibatkan diri dengan Embun yang selalu ingin mendapatkan perhatian penuh dari kedua orang tua mereka.
"Pak, kalau kakak lulus ujian Nasional dengan nilai tertinggi, mau minta dibelikan laptop. Karena nanti saat kuliah sangat diperlukan untuk mengerjakan tugas," kata Embun merayu Awan.
Awan tahu kalau laptop itu harganya lebih mahal dari harga handphone yang belum satu tahun yang lalu dia beli untuk Embun. Gerobak saja belum di ganti sama yang baru.
__ADS_1
"Pak," panggil Embun.
"Kalau Kakak bisa jadi peringkat pertama tingkat provinsi, maka akan dibelikan laptop," balas Senja.
"Yey, benar, ya, Bu. Awas kalau bohong!" ancam Embun dengan hati yang bahagia.
Pelangi dan Lembayung hanya mencibir dalam hati mereka. Selama ini saat kedua berprestasi tidak ada acara minta hadiah kepada orang tua.
'Apa Kak Embun tidak punya perasaan simpati kepada Bapak? Gerobak dagangannya belum juga diganti. Lagi-lagi uangnya harus dipakai untuk memenuhi keinginan Kak Embun.' (Pelangi)
'Dasar Kak Embun, belum juga genap satu tahun saat beli ponsel. Sekarang minta dibelikan laptop. Katanya cerdas ... murid jenius, tapi tidak punya hati!' (Lembayung)
"Apa? Kalian iri! Makanya, jadi anak yang berprestasi tinggi dan bisa membanggakan orang tua. Bukan menjadi beban keluarga," ujar Embun sambil menatap kedua adiknya.
"Siapa juga yang iri sama orang seperti Kak Embun. Bukan manusia yang pantas jadi tempat orang iri," balas Pelangi.
"Ya. Nggak banget aku iri atau ingin meniru Kak Embun," lanjut Lembayung.
Terlihat sorot mata Embun yang marah kepada kedua adiknya. Dia dan mereka itu sering bersitegang. Embun merasa kalau kedua adiknya itu selalu iri kepadanya.
***
Apa yang akan dilakukan oleh Embun terhadap kedua adiknya yang selalu dirasa iri kepadanya? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan menarik, loh. Kepoin novelnya, cus meluncur ke karyanya.
__ADS_1