Ibu, Aku Juga Anakmu

Ibu, Aku Juga Anakmu
Bab 17. Paket


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 17


"Selamat siang. Ada paket untuk Pelangi!" ucap kurir.


"Paket apaan, tuh?"


"Dari siapa?"


Pelangi menerima paket yang dikirim untuknya. Dilihat mana pengirim adalah sebuah nama majalah terkenal dikalangan anak muda.


"Yey, asyik! Aku dapat hadiahnya," ucap Pelangi bahagia karena mendapatkan hadiah undian menjawab teka-teki silang yang 2 bulan lalu, dia ikuti.


"Hadiah apa, Kak?" tanya Lembayung penasaran.


"Katanya hadiah bebas kita ingin pilih apa. Kakak kebetulan pilih sepatu. Coba kita lihat sepatu seperti apa yang mereka kirim," jawab Pelangi.


Sepatu milik Pelangi sudah aus bagian bawahnya. Maklum saja itu sepatu sudah 3 tahun. Saat masuk SMP dia dibelikan sepatu itu dan dulu ukurannya agak kebesaran, kini sudah sesak. Mau beli tanggung karena sebentar lagi akan lulus SMP. Niatnya, Pelangi akan membeli sepatu setelah masuk ke SMA saja nanti.


Pelangi membuka paket itu dengan perasaan deg-degan. Begitu dus paket dibuka, ternyata di dalam itu isinya adalah sepasang sepatu olahraga dan sepatu pantofel. Pelangi mendapatkan dua pasang sepatu dengan merk terkenal dan tentu dengan kwalitas terbaik. Seumur-umur dia baru punya sepatu sebagus itu.


"Wah, Kak Pelangi ini sepatu bagus banget. Ini sepatu merk terkenal yang selalu ada di majalah dan iklan televisi," ucap Lembayung senang.


"Ini ukuran sepatu kebesaran nggak?" tanya Senja sambil memeriksa sepatu olahraga.


"Aku ambil satu nomor lebih besar, ternyata pas di kaki," jawab Pelangi sambil menggerakkan kaki kanan yang memakai sepatu baru itu.


"Kak, nanti kalau ada pelajaran olahraga, aku boleh pinjam, ya?" Lembayung mencoba sepatu olahraga yang longgar di kakinya karena kaki Pelangi jauh lebih besar dan panjang dibandingkan kakinya.


"Sepatu ini pas di kaki kakak," kata Embun yang sedang mencoba sepatu pantofel.

__ADS_1


"Masa? Ukuran kaki Kak Embun lebih kecil dari aku," ujar Pelangi merasa sangsi.


"Lihat sendiri," kata Embun sambil mencoba sepatu pantofel dan berjalan ke sana kemari.


"Longgar Kak, itu sepatu," ujar Pelangi.


"Kalau pakai kaos kaki akan pas," balas Embun.


Gara-gara paket sepatu yang didapat oleh Pelangi, Senja harus membeli sepatu baru untuk Embun dan Lembayung. Kebetulan sebentar lagi kenaikan kelas dan sebelum harga keperluan sekolah naik, dia harus membeli keperluan sekolah anak-anaknya.


Embun dan Lembayung mendapatkan sepatu baru sesuai keinginan mereka, yang diberikan oleh Senja. Namun, saat Pelangi minta dibelikan tas baru, ibunya itu menolak dengan alasan uang habis dipakai untuk daftar sekolah Pelangi ke SMA.


"Masa Ibu tidak membelikan aku apa-apa?" Pelangi bertanya dengan lirih.


"Kamu itu jangan iri jadi orang. Kamu sudah dapat dua sepatu, masih saja iri sama saudara kamu," balas Senja.


Pelangi sudah sering dibuat kecewa oleh ibunya itu. Diperlakukan berbeda dengan saudara-saudaranya, membuatnya harus berusaha sendiri.


***


"Pak, kalau semua anak kita masuk sekolahan itu, pastinya akan banyak sekali uang yang akan kita keluarkan tiap bulannya. Apa bapak tahu harga buku-buku, biaya praktek, dan segala keperluan lainnya sangat mahal di sekolahan itu," jawab Senja.


Dia harus pintar-pintar mengatur uang karena kebutuhan sekolah Embun jauh lebih mahal dibandingkan dengan keperluan Pelangi. Perbandingannya sekitar seperlima dari uang yang dikeluarkan untuk keperluan sekolah. Belum lagi Lembayung juga sama karena sekolah di SMP swasta.


"Bukannya bapak tiap hari memberikan uang yang lumayan banyak sama ibu tiap hari. Apalagi, sekarang kita sudah semakin menghemat biaya makan. Bapak kira Ibu melakukan hal itu untuk biaya Pelangi masuk ke sekolah swasta," ujar Awan yang salah duga.


"Tahun depan Embun masuk kuliah. Kita harus mengumpulkan uang sejak jauh-jauh hari," balas Senja.


Kedua orang itu tidak tahu kalau Pelangi mencuri dengar di balik pintu. Dia kebetulan ingin minum dan melewati kamar orang tuanya.


'Jadi, alasan ibu melarang aku masuk ke sekolahan favorit itu karena uangnya ditabung untuk kuliah Kak Embun? Lagi-lagi aku yang dikorbankan demi kesuksesan Kak Embun.'


Hati Pelangi tentunya merasa sangat sakit. Dia selalu menjadi tumbal untuk kesuksesan kedua saudaranya.

__ADS_1


'Tidak apa-apa Pelangi. Kamu juga bisa menjadi orang yang sukses meski di sekolah umum dengan minim pasilitas.'


***


Pelangi melanjutkan sekolah di SMA negeri yang dekat rumahnya, tidak jauh dari SMP-nya dulu. Banyak orang mengira Pelangi itu anak yang berbeda dengan kedua saudaranya yang sekolah di sekolahan elit yang terkenal dengan anak-anak pintar.


Meski ada rasa sakit hati karena merasa direndahkan dan dibandingkan dengan kedua saudaranya, Pelangi tidak mau jatuh terpuruk. Tama selalu mengatakan, jangan pedulikan omongan negatif orang lain, apalagi mereka tidak mengenal kita dengan baik.


"Kak Tama, katanya mau main ke sini?"


^^^"Iya. Mungkin akhir pekan nanti. Sudah rindu sama kalian semua."^^^


"Aku akan buatkan sate lontong, kesukaan Kakak."


^^^"Benar, loh, ya! Akan aku tagih saat sampai sana."^^^


"Siap! Aku akan buat spesial untuk Kakak, pokoknya."


^^^"Mami juga ingin ikut main ke sana. Katanya mau bertemu sama kamu langsung."^^^


"Mami mau ikut ke sini?"


^^^"Iya. Dia penasaran dengan masakan kamu. Sukri dan Mustofa yang dulu kamu kirimkan juga habis oleh mami."^^^


"Kenapa Kakak tidak bilang kalau mami suka Sukri dan Mustofa. Kalau tahu begitu aku akan buat yang banyak."


^^^"Tapi, katanya, mami mau ketemu sama kamu langsung."^^^


***


Apakah Pelangi akan bertemu dengan Tama? Bagaimana reaksi Maminya Tama saat bertemu dengan keluarga Pelangi? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh. Cus ke novelnya.

__ADS_1



__ADS_2