Ibu, Aku Juga Anakmu

Ibu, Aku Juga Anakmu
Bab 6. Luka Yang Berbekas


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih Bunga, Kopi, Vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 6


"Dan pemenang juara pertama adalah," pembawa acara terdiam dan tersenyum kepada hadirin yang duduk dengan harap-harap cemas.


"Embun! Selamat untuk Embun," lanjut pembaca acara itu.


Para penonton pun bertepuk tangan dengan dengan meriah. Embun pun tersenyum lebar, dia sangat senang karena mendapatkan juara pertama. Dia akan mendapatkan uang, piala, dan sertifikat.


"Selamat, ya. Kamu sudah membuat sebuah puisi tentang ibu yang sangat begitu menyentuh hati para juri di sini," kata pembawa acara.


"Terima kasih. Puisi itu persembahkan untuk ibuku yang kini sedang duduk di sana," ucap Embun sambil menunjuk ke arah Senja.


"Wah, kamu pasti anak baik yang begitu sayang sama ibumu," timpal laki-laki yang sejak awal membawakan acara perlombaan ini.


"Aku merasa belum menjadi anak yang baik. Tapi, setiap hari berusaha untuk menjadi anak yang bisa dibanggakan dan membahagiakan orang tuaku," balas Embun.


"Wah, Embun ini bisa jadi sosok yang pantas dicontoh oleh anak-anak yang lainnya," tukas laki-laki itu lagi.


"Kakak terlalu memuji. Aku ini bukan orang seperti itu," kata Embun sambil tersenyum malu-malu.


Hati Pelangi sangat sakit melihat kakaknya tersenyum lebar dengan perasaan bahagia. Dia tahu kalau Embun itu orangnya ambisius dan berobsesi untuk menjadi nomor satu dalam hal apapun dan di mana pun.


'Apa kamu sesenang itu, Kak. Kamu sudah bahagia di atas penderitaan orang lain,' batin Pelangi.


Embun pulang dengan membawa piala yang lumayan besar. Dia senang saat perhatian orang-orang mengarah kepadanya.

__ADS_1


"Kak Embun pasti senang, ya?" tanya Lembayung.


"Ya, tentu saja senang. Masa jadi juara tidak senang," jawab Embun.


"Kalau begitu, kakak harus berterima kasih kepada Kak Pelangi. Jika, lembar formulir tidak kakak ganti, maka kakak tidak akan pernah jadi pemenang," ucap Lembayung.


"Kalau Pelangi yang ikut belum tentu dia juga akan menang," balas Embun dengan kesal.


Pelangi yang sejak tadi menata hatinya yang terluka, kini terasa di siram sama air garam oleh Embun. Dia melirik ke kanan dan kiri, orang tuanya berjalan agak jauh di belakang mereka bertiga.


"Iya, apa yang Kakak ucapkan barusan itu bisa juga terjadi. Tapi, kalau aku tidak akan pernah bahagia dan bangga dengan kemenangan dengan kecurangan. Aku lebih bangga jika semua perjuangan yang aku lakukan itu dengan cara jujur. Dengan begitu, aku akan merasa bahagia," tukas Pelangi.


Embun sangat marah dan itu terlihat ekspresi wajah yang keras dan urat-urat dibagian wajah dan lehernya terlihat menonjol. Dia tidak terima dengan ucapan Pelangi yang menyindirnya. Lalu, dia pun melemparkan semua hadiah ke arah Pelangi. Ujung piala mengenai kepala Pelangi sampai robek di bagian pelipisnya dan mengeluarkan banyak darah.


"Nih, jika kamu merasa lebih berhak!" teriak Embun.


"A-aaaakkkkh!" teriak pelangi sambil memegangi bagian kepalanya yang sakit.


"Ada apa lagi ini?" tanya Awan sambil menghampiri ketiga putrinya.


Awan melihat ada darah keluar dari sela-sela jemari tangan Pelangi. Dia pun lantas memegang tangan itu untuk melihat lukanya.


"Pelangi, bagaimana kamu bisa terluka seperti ini?" tanya Awan pada putrinya yang kini menangis sambil menutup keningnya yang berdarah.


Embun terlihat ketakutan, tetapi emosi masih menguasai dirinya. Dia menangis dalam pelukan ibunya.


"Kenapa? Ada apa ini?" tanya Senja sambil mencoba menenangkan putri sulungnya.


"Pelangi tidak terima kalau kakak memenangkan lomba tadi," jawab Embun.

__ADS_1


Orang-orang pada berkerumun menyaksikan drama keluarga ini. Merasa malu sudah dilihat banyak orang, maka Senja meminta semua keluarganya pergi dari sana.


***


Awan membawa Pelangi ke rumah sakit, di sana langsung mendapatkan perawatan. Kening Pelangi yang sobek tepat di tengah-tengah harus mendapat lima jahitan. Hal yang akan menjadi cacat di wajah seumur hidupnya, karena jahitan itu berbekas.


Sudah jatuh tertimpa tangga ditambah genteng pula, itulah pribahasa yang cocok dirasakan oleh Pelangi saat ini. Sudah merasa dicurangi sama kakaknya. Wajahnya menjadi cacat, dan kemarahan Senja yang bikin hatinya sakit.


"Apa sih, yang ada di dalam otak kamu itu! Apa kamu sudah puas sekarang! Mempermalukan keluarga di depan umum. Selamanya kamu tidak akan pernah hidup bahagia, Pelangi! Kamu itu senang sekali memelihara penyakit hati. Iri dengan kebahagiaan orang lain, suka berkata dan berbuat seenaknya sendiri. Sebenarnya hati kamu itu terbuat dari apa?" teriak Senja dengan penuh emosi saat mereka sudah pulang ke rumah.


Air mata Pelangi luruh membasahi pipinya yang mulus. Dia tidak mengira kalau ibunya akan berkata demikian. 


"Aku tidak seperti itu, Bu," lirih Pelangi dengan suaranya yang bergetar menahan tangisannya agar tidak ikut lolos keluar dari mulutnya.


"Lalu, seperti apa? Kamu itu anak manusia bukan anak setan!" Senja melotot kepada Pelangi.


Akhirnya suara tangis Pelangi pun lolos. Dia meraung kesakitan. Sangat sakit hati dia, saat dibilang begitu.


Awan yang baru saja pulang karena habis dari apotek dikejutkan oleh suara tangisan putrinya. Dia pun bergegas lari masuk ke dalam rumah. Terlihat kalau Pelangi duduk di lantai sambil menangis dengan tangan yang memegang dadanya.


"Pelangi! Ada apa lagi, Bu?" tanya Awan sambil merangkul tubuh kurus Pelangi.


Senja menatap penuh emosi dengan napas yang memburu. Bahkan tubuhnya sampai terlihat bergerak dari efek napasnya.


"Ibu, menyerah mendidik Pelangi, Pak. Mulai sekarang terserah dia mau melakukan apapun sesukanya," balas Senja sambil beranjak dari kursi, lalu di pergi ke ruang dapur.


Pelangi menangis dalam pelukan ayahnya. Dia merasa hidupnya sudah tidak berarti.


'Apa keberadaan aku sudah tidak diharapkan oleh ibu?'

__ADS_1


***


Apakah benar kalau Senja sudah tidak peduli kepada Pelangi? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2