
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 20
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Lembayung datang ke samping halaman, tepatnya di dekat dapur.
Pelangi dan Tama merasa sangat malu, karena sudah kepergok oleh gadis yang baru beranjak remaja. Keduanya pun cepat-cepat saling menjauh.
"Kita sedang tidak melakuakan yang aneh-aneh. Tadi kakak hanya melihat tangan Pelangi, takut terkena abu api saat membalikkan satenya," balas Tama.
Mereka mengerjakan semua itu dengan cepat, karena dibantu oleh Lembayung. Tidak sampai 1 jam sate dan lontong itu sudah siap dimakan bersama.
"Mami, coba ini masakan buatan Pelangi, loh!" pinta Tama pada ibunya sambil memberikan satu piring sate lontong.
"Wah, sepertinya ini enak sekali. Tampilannya sangat cantik dan baunya juga wangi. Bikin mami ngiler," ucap Anindita saat menerima piring itu.
Embun merasa tidak senang saat mendengar ucapan maminya Tama. Dia merasa kalau Pelangi sedang mencuri perhatian dari ibu laki-laki itu.
'Dia itu licik, pastinya ingin terlihat hebat di depan maminya kak Tama.'
"Pelangi adalah anak yang pintar dalam memasak," puji Awan kepada putri keduanya.
"Perempuan itu harus pandai memasak agar nanti saat sudah membina kehidupan rumah tangga, bisa menyediakan makanan untuk suami dan anaknya," kata Anindita dengan senyum lebarnya.
"Itulah, kenapa saya selalu mengajarkan kepada anak-anak untuk bisa memasak," lanjut Senja dengan senyum tipisnya.
__ADS_1
Sebenarnya dia selalu menekan dan menyuruh Pelangi untuk membantunya memasak. Sementara itu, kepada Embun dan Lembayung, dia tidak pernah menyuruh untuk melakukan hal itu. Jadinya, kedua anak gadis itu tidak bisa memasak. Mereka hanya bisa masak mie instan dan telur mata sapi.
"Wah, Anda sangat hebat sekali dalam mendidik mereka bertiga ya, Bu Senja." Anindita memuji perempuan yang duduk di depan.
Pelangi ada diam saja, karena dia tahu kalau ibunya tidak mau menjatuhkan harga diri anak pertama. Namun, sekarang dia merasa bersyukur karena hanya dia yang selalu dipaksa untuk bisa memasak. Satu hal yang besar bisa dia lakukan dan tidak bisa dilakukan oleh Embun.
"Enak sekali masakan Pelangi ini. Ibu juga suka Sukri dan Mustafa buatan Pelangi," kata Anindita saat menghabiskan sate lontongnya.
"Aku sudah buatkan Sukri dan Mustofa lagi untuk Mami bawa pulang nanti," ujar Pelangi dengan senyum tipis.
Mendengar hal ini membuat Anindita merasa sangat senang. Akhirnya dia bisa merasakan makanan kesukaannya lagi. Makanan sederhana yang tahan lama dan memiliki rasa yang kuat dan begitu enak.
Tama dan Anindita Naruto di rumah Awan sampai sore hari. Setelah itu, mereka pamit pulang dengan perasaan bahagia. Apalagi Anindita yang membawa dua wadah makanan yang khusus dibuat oleh Pelangi untuk dirinya.
***
Embun terus menyindir Pelangi yang sedang berusaha mencuri perhatian dari Anindita. Yaitu, dengan cara membuatkan makanan kesukaannya.
"Terserah aku mau melakukan apapun itu. Toh, aku tidak merugikan kakak," balas Pelangi.
"Kalau Kakak ini disebut hebat dan dipuji oleh maminya kak Tama, maka harus pintar dulu memasak," ejek Lembayung dengan seringai jahilnya.
"Ya, itu benar. Menggoreng tempe tahu saja tidak bisa, apalagi membuat Sukri dan Mustofa?" lanjut Pelangi.
Ketiga anak gadis itu sedang berkumpul di ruang keluarga sambil menonton televisi. Niat awalnya seperti itu, tetapi sekarang malah saling mengejek.
Sejak kecil Pelangi selalu mengalah kepada Embun. Dia tidak bisa membantah atau melawannya karena selalu dibela oleh Senja. Kini setelah dia remaja dan beranjak dewasa, mulai memberikan perlawanan untuk membela hak dirinya sendiri. Apalagi dia sudah merasa muak dengan perlakuan yang tidak adil terhadap dirinya.
__ADS_1
***
Ternyata Tama belum pulang ke kota Jakarta, dia sama maminya menginap di hotel yang ada di kota itu. Keesokan harinya dia mengajak Pelangi untuk pergi jalan-jalan berdua seperti dulu. Betapa senangnya dia saat gadis itu menyambut gembira ajakannya itu. Mereka pun janjian untuk bertemu di halte bus.
"Kak Tama," panggil Pelangi pada laki-laki yang menaiki sepeda motor.
"Ini pakai helmnya. Kita akan keliling kota untuk wisata kuliner hari ini," kata Tama dengan senyum tipis yang menawan di mata Pelangi.
Mereka pun berkeliling kota mencari tempat makan yang enak. Tentu saja ini bisa diketahui oleh mereka melalui sosial media, yang membuat satu grup tentang wisata kuliner di kota ini.
"Apa kamu merasa senang, Pelangi?" tanya Tama saat mereka selesai makan nasi goreng seafood yang ada di pinggir jalan.
"Ya tentu saja aku merasa sangat senang, apalagi bisa menghabiskan waktu bersama dengan Kak Tama," jawab Pelangi sambil mengangguk untuk lebih meyakinkan.
"Aku sedang bisa berkencan denganmu seperti ini," aku Tama jujur.
Pipi Pelangi langsung merona saat mendengar pengakuan dari laki-laki yang sekarang sudah menempati salah satu sudut di dalam hatinya. Entah sejak kapan, tetapi dia mulai menyukai Tama karena memahami dirinya dan selalu memberikan dukungan untuknya.
"Loh, Pelangi! Kamu sedang apa di sini?"
Betapa kagetnya Pelangi saat melihat sosok orang yang dia kenali dan menyapa dirinya. Dia bingung harus menjawab apa.
***
Siapakah orang yang sudah menyapa Pelangi itu? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya aku yang lainnya.
__ADS_1