
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan πππππ. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 33
"Pak, kakak berangkat dulu." Embun memeluk tubuh bapaknya.
"Hati-hati, ya, Kak. Kalau ada apa-apa cepat hubungi kami," ucap Awan.
"Iya, Pak."Β
"Semoga selamat sampai tujuan, Kak." Senja menangis tergugu sambil memeluk tubuh putrinya.
"Ibu juga baik-baik di rumah," ucap Embun sambil terisak menahan tangisnya.
Setelah kepergian Embun semua orang masuk ke dalam rumah. Saat itu Pelangi melihat ada handphone miliknya Embun tertinggal di meja makan. Sepertinya gadis itu lupa memasukan benda pipih itu ke dalam saku atau tasnya.
"Pak β¦ Bu! Handphone milik Kak Embun tertinggal," teriak Pelangi.
"Apa?" Awan dan Senja saling menatap cemas.
Pelangi tahu apa yang dirasakan oleh kedua orang tuanya. Maka dia pun berinisiatif untuk menyusul kakaknya itu.
"Biar aku menyusul pakai sepeda. Pasti mereka belum jauh," kata Pelangi dan bersiap-siap mengeluarkan sepeda bututnya.
"Tidak akan tersusul, Kak!" sergah Lembayung.
"Kalau begitu aku akan meneleβ" ucapan Pelangi terhenti saat handphone milik Embun berbunyi. Ada nama Dina di layar itu. Lalu, tanpa menunggu lama, Pelangi menggeser tombol hijau dan panggilan itu pun tersambung. Ternyata yang berbicara di seberang sana itu adalah Embun.
^^^"Pelangi antarkan handphone milik aku ke dekat pom bensin!" Terdengar suara Embun memerintah.^^^
"Pom bensin?" Pelangi mengulangi ucapan kakaknya.
^^^"Iya, cepat! Jangan lelet! Kami menunggu di sini." Embun terdengar sangat kesal.^^^
"Iya, aku ke sana sekarang," balas Pelangi.
Pelangi mematikan panggilan itu. Lalu, dia melihat ke arah kedua orang tuanya yang masih mencemaskan keadaan Embun.
__ADS_1
"Kak Embun meminta aku untuk mengantarkan handphone miliknya ini ke pom bensin," kata Pelangi.
"Apa? Itu kan sudah jauh. Sudah lebih dari tujuh kilometer. Tidak akan keburu kalau pakai sepeda," ujar Senja dengan wajahnya yang sudah pucat.
Jarak dari rumah ke pom bensin terdekat itu sekitar tujuh kilometer. Sekarang Pelangi harus mengantarkan benda tipis itu ke sana.
"Biar bapak yang antarkan ke sana dengan naik motor," ucap Awan.
"Tapi, bapak akan berangkat dagang," timpal Lembayung.
"Ini cuma sebentar," balas pria paruh baya itu.
"Kak Embun itu suka sekali buat kita sibuk akibat ulahnya," gerutu si anak bungsu.
Lagi-lagi terdengar suara dering telepon dari handphone milik Embun. Pelangi pun mengangkat kembali panggilannya itu.
^^^"Kamu sudah berangkat belum?"^^^
"Ini lagi mau berangkat."
^^^"Lama banget! Cepat kita semua sudah bosan menunggu!"^^^
Akhirnya Awan dan Pelangi mengantarkan handphone milik Embun ke pom bensin itu. Keduanya mengendarai dengan cepat biar Embun dan yang lainnya tidak menunggu terlalu lama.
Sekitar 15 menit kemudian, Awan dan Pelangi sampai ke pom bensin itu. Terlihat kalau mereka sedang duduk-duduk sambil memakan cemilan. Tawa canda terlihat dari keakraban mereka semua. Tidak hanya anak muda, para orang tua pun juga terlihat akrab.
Awan pun membelokan motornya ke area pom bensin dan mendekati kumpulan orang-orang itu. Terlihat ada Embun sedang tertawa bahagia karena kelakuan Dina.
Ada empat mobil yang berjajar di sana. Semua kendaraan itu adalah milik orang tua temannya Embun. Awan pun sadar kenapa Embun tidak mau di antar olehnya. Sebab, dari segi penampilan saja, dia dengan orang tua temannya Embun sungguh jauh berbeda. Apalagi profesi mereka, pastinya punya jabatan tinggi, karena mereka itu orang kaya dan punya mobil bagus.
Pelangi turun dari motor dan berlari ke arah Embun. Dia pun menyerahkan handphone milik kakaknya itu.
"Ini. Lain kali periksa dulu semua barang bawaan sebelum pergi!" kata Pelangi.
"Iya." Embun membalas dengan nada menyebalkan.
"Ini adik kamu, Mbun?" tanya Hani salah satu teman Embun.
"Iya," balas Embun.
__ADS_1
"Baik banget mau antarkan barang milik kakak kamu yang tertinggal. Bahkan harus diantarkan oleh tukang ojek," lanjut Hani.
Hati Pelangi sangat sakit mendengar ucapan temannya Embun yang mengira bapaknya tukang ojek. Pelangi akui kalau bapaknya itu sudah tua dan berkulit sawo matang karena sering tergarang oleh panasnya sengatan sinar matahari langsung ketika sedang berdagang.
"Dia bukan tukang ojek, Kak. Tapi, bapak kandung saya sama Kak Embun," balas Pelangi.
Terlihat kalau Hani dan beberapa teman Embun lainnya terkejut mendengar ucapan dari Pelangi. Mereka pun saling melirik.
"Maaf, ya. Bukan niat aku menghina tadi. Beneran aku tidak punya niatan untuk itu. Karena ini pertama kalinya kita bertemu," sanggah Hani agar mereka semua tidak salah paham.
"Tidak apa-apa, Kak. Aku mengerti kok. Karena bapak itu pergi dagang dari pagi sampai petang atau kadang malam hari," jelas Pelangi.
Mereka pun terdiam dalam suasana yang kaku dan tidak nyaman. Ada rasa bersalah dan tidak enak hati dalam diri Hani pada Pelangi.
"Sudah sana kamu pulang!" desis Embun di telinga adiknya.
Embun tidak pernah menceritakan profesi kedua orang tuanya. Setiap temannya ingin mengunjungi rumahnya, dia selalu beralasan kalau rumahnya terlalu ramai dan tidak kondusif untuk kegiatan kerja kelompok.Dia selalu menjadikan Pelangi dan Lembayung sebagai biang kerok kegaduhan di rumah.
"Kalau begitu, aku permisi dulu," ucap Pelangi dan membalikan badannya setelah pamitan.
"Sudah?" tanya Awan saat Pelangi menaiki motor.
"Sudah, Pak. Kita pulang sekarang," ajak Pelangi.
Awan pun tersenyum ke arah para orang tua temannya Embun. Lalu, dia melajukan motornya untuk meninggalkan area pom bensin.
Saat Awan keluar dari sana, tiba-tiba ada motor yang melaju dengan ugal-ugalan dan melawan arah. Tabrakkan pun tidak bisa dihindari oleh Awan dan pengendara motor itu.
"Kya-aaa!"
Motor Awan terseret belasan meter beserta orangnya, sedangkan Pelangi sudah terlempar ke arah taman kecil yang ada di dekat pom bensin itu. Orang-orang shock melihat kecelakaan di depan mata mereka.
"Tidak!" teriak Embun saat melihat dengan jelas tubuh Pelangi melayang di udara sebelum jatuh ke taman bunga.
Orang-orang di sana berlari saling berhamburan untuk memberikan pertolongan pada korban tabrakan. Si penabrak juga ikut terseret oleh kendaraan miliknya sendiri.
***
Bagaimana keadaan Pelangi dan Awan setelah kejadian kecelakaan ini? Apakah Embun jadi berangkat ke Jakarta atau tidak? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1