Ibu, Aku Juga Anakmu

Ibu, Aku Juga Anakmu
Bab 35. Tolong Bapakku!


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 35


"Kenapa kamu tidak beritahu keadaan mereka kepada ibumu?"


"Aku takut, Om. Kalau nanti Ibu akan menyalahkan aku atas semua yang terjadi dari kejadian hari ini, kepadaku," aku Embun dengan diiringi isak tangis.


Embun pun menghubungi nomor telepon milik Pelangi, karena dia tahu kalau handphonenya ditinggalkan di rumah. Tangan dia bergetar hebat saat mencari nomor kontak milik adiknya. Rasa takut akan amarah ibunya, sudah terbayang dalam pikirannya.


Deringan pertama, kedua, ketiga, tidak ada juga yang mengangkat. Sampai bunyi deringan itu mati pun, tidak ada yang mengangkatnya.


Embun menghela napasnya dan mencoba menghubungi kembali nomor adiknya itu. Kali ini baru deringan pertama, panggilan itu langsung tersambung.


^^^"Hallo, Kak." Terdengar suara Lembayung di seberang sana.^^^


"Ha-lo …."


^^^"Kak Embun? Ini Kak Embun, 'kan?"^^^


"I-ya."


^^^"Syukurlah, ternyata handphonenya sudah sampai ke tangan Kakak. Bapak dan Kak Pelangi, kok, belum juga sampai rumah, ya?"^^^


Mendengar ucapan Lembayung, membuat tangis Embun kembali pecah. Dia menangis tergugu dan tidak menjawab pertanyaan dari Lembayung.


^^^"Kak Embun ada apa? Kenapa Kakak menangis? Apa sudah terjadi sesuatu pada Kakak?"^^^


Bukannya menjawab, Embun malah mematikan panggilan teleponnya. Dia belum sanggup mengatakan kejadian yang sudah menimpa bapak dan adiknya itu.


Melihat Embun menangis tergugu seperti itu membuat Dina dan keluarganya merasa kasihan. Tidak lama kemudian, Lembayung balik menghubungi Embun. Namun, gadis itu belum bisa bicara, jadi dia menyerahkan handphone itu kepada ayahnya Dina.


Laki-laki paruh baya itu tahu maksud dari Embun, kalau dia disuruh untuk bicara kepada keluarganya. Maka, dia pun mengangkat panggilan itu.

__ADS_1


"Halo," sapa ayahnya Dina.


^^^"Kok, jadi suara laki-laki?"^^^


"Ini ayahnya Dina, temannya Embun."


^^^"Oh, maaf, Om. Kak Embunnya, ada?"^^^


"Ada, tapi dia sedang menangis."


^^^"Apa? Kenapa Kak Embun menangis?"^^^


"Bapak dan adiknya mengalami kecelakaan. Saat ini kami sedang berada di rumah sakit kota."


^^^"Apa? Maksudnya bapak dan kak Pelangi mengalami kecelakaan dan terluka parah, sehingga dibawa ke rumah sakit?"^^^


"Iya. Apalagi kondisi Pak Awan saat ini sangat kritis dan perlu tindakan untuk operasi secepatnya. Tolong beri tahu ibumu, karena ini sangat mendesak."


^^^"Tidak. Bapak … kak Pelangi. Kenapa harus terjadi seperti ini?"^^^


***


Senja yang baru saja selesai memasak mendatangi Lembayung yang sedang menangis sambil menelungkup di meja belajarnya. Wanita paruh baya itu merasa heran karena tadi putri bungsunya ini sedang bernyanyi-nyanyi riang, tetapi kini berubah menangis tergugu.


"Ada apa?" tanya Senja sambil membelai rambut putrinya.


"Bapak dan Kak Pelangi …, Bu!" Lembayung terisak menahan tangisnya.


"O-iya, mereka belum kembali juga."


Senja bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa kedua orang itu belum juga pulang. Padahal mereka sudah pergi lama.


"Mereka mengalami kecelakaan," kata itu akhirnya ke luar juga dari mulut gadis remaja yang baru berusia 14 tahun.


"Apa?" 

__ADS_1


Senja merasa bagai di sambar petir di siang bolong. Tiada hujan atau angin, dia mendapat kabar yang sangat mengejutkan ini. Tiba-tiba saja tubuh dia merasa lemas seakan tidak ada tulang yang menyangganya.


"Siapa yang bilang seperti itu?" tanya Senja dengan histeris dan air mata yang sudah meluncur tanpa permisi di pipinya.


Lembayung yang tubuhnya digoncang-goncangkan oleh sang ibu, merasa semakin bertambah rasa sakit yang dia rasakan. Dia pun langsung menjawab, "Ayahnya Kak Dina."


Senja melepaskan cengkraman pada tubuh putri bungsunya itu. Dia pun mundur beberapa langkah kebelakang dan menabrak lemari baju.


"Katanya mereka saat ini sedang kritis dan harus di operasi secepatnya. Kita di suruh ke sana."


Wanita paruh baya itu berharap kalau semua ini adalah sebuah mimpi saja. Dia berharap semua itu tidak terjadi terhadap suami dan anaknya.


"Tidak ... tidak! Bapak ... Pelangi."


Senja merasa semua menjadi gelap di sekelilingnya. Dia tidak bisa melihat apapun atau merasakan apapun lagi.


***


Sudah satu jam lebih Senja dalam tidak sadarkan diri. Tadi Lembayung meminta bantuan kepada para tetangganya. Mereka kini sedang bermusyawarah untuk mendatangi rumah sakit dan mencari tahu keadaan Awan dan Pelangi saat ini. Mereka juga berpatungan untuk membantu meringankan beban biaya operasi.


Bu RT terus membalurkan minyak kayu putih ke tengkuk dan dadanya Senja agar bisa cepat sadar. Sementara itu, Lembayung masih saja terisak dalam menahan tangisannya.


"Sabar, ya. Semua pasti akan segera membaik," kata Bu RT kepada Lembayung.


"Pak RT, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang ini. Keadaan Pak Awan sudah tidak ada harapan lagi," bisik salah seorang warga.


"Maksudnya?" Wajah Pak RT kini mendadak pucat.


"Barusan orang yang pergi ke sana bilang, kalau dokter sudah angkat tangan," lanjut warga tadi.


Lembayung yang mendengar itu kembali menangis dengan histeris. Dia tidak mau kalau harus kehilangan sosok ayahnya itu.


"Bapak! Bapak! Tolong bapak aku."


***

__ADS_1


Apakah Awan akan selamat atau meninggal? Lalu, bagaimana dengan keadaan Pelangi? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2