
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 54
Pelangi dan keluarganya menjalani hari-hari dengan bekerja keras banting tulang, untuk mengais rezeki. Kebutuhan sehari-hari mereka sudah sehemat mungkin agar bisa menabung untuk biaya kuliah nanti. Namun, hal itu tidak berlaku dengan Embun. Meski masih di tingkat satu gadis itu sering dimintai oleh dosen untuk menggantikan dirinya jika sedang ada halangan, atau istilahnya asisten dosen. Dia juga memberikan les di tempat bimbel untuk anak sekolah dasar.
Embun merasa kalau uang itu miliknya sendiri karena dia dapat dari hasil jerih payah dalam bekerja. Dia suka hidup dengan gaya anak kota seperti teman-temannya. Perempuan itu juga pergi jalan-jalan ke tempat-tempat yang sedang viral di kalangan anak muda.
Meski Lembayung sering menyindir kelakuan dan gaya hidup Kakaknya itu. Embun masa bodo, karena dia merasa tidak merugikan orang lain dan dia bersenang-senang juga memakai uangnya sendiri bukan uang pemberian ibunya. Dia lupa kalau dia kuliah pakai uang santunan milik Pelangi dari Jasa Raharja.
Pelangi juga mengingatkan kakaknya itu untuk menabungkan uangnya. Sebab, siapa yang tahu keadaan mereka di masa depan. Namun, Embun mengabaikan seolah kalau kedua saudaranya itu iri dengan apa yang dia punya.
"Kak Pelangi, lihat! Kak Embun jalan-jalan ke mall dan akan nonton bioskop," adu Lembayung kepada Pelangi yang sedang membuat adonan untuk bolu lapis legit.
"Biarkan saja, Dek. Kita sudah mengingatkan dan menasehatinya. Tapi, dia tidak mau mendengarkan dan lebih memilih menuruti napsunya," balas Pelangi.
__ADS_1
"Ya, kesal saja, aku itu. Kita semua di sini kerja dari pagi sampai malam untuk mencari uang. Dia malah enak-enak jalan-jalan sambil tertawa tidak ada beban sama sekali," gerutu gadis yang kini duduk di kelas IX.
"Embun pakai uang sendiri dari hasil les di tempat bimbel. Gajinya lumayan besar, dia pastinya sudah memperhitungkan itu semua," bela Senja terhadap putri sulungnya.
"Kalau dia dapat uang yang banyak begitu, seharusnya sudah tidak minta uang bulanan pada Ibu. Telah kirim saja ngomelnya nggak berhenti-henti sampai uang itu di tangannya," ujar Lembayung dengan kesal.
"Benar, Dek. Kita saja yang jualan bisa dapat keuntungan ratusan ribu perhari tetap saja jajan tidak lebih dari lima ribu," pungkas Pelangi.
"Iya. Karena kita sadar diri, kalau cari uang itu sulit. Jadi, menggunakan sebisa mungkin untuk yang bermanfaat dan kebutuhan pokok dahulu, bukan untuk terlihat gaya di depan orang lain," tutur Lembayung yang kini memulai membuat adonan untuk kue pai susu.
"Sudahlah, kalian jangan iri sama saudara sendiri," ucap Senja.
"Perasaan ini bukan iri. Tapi, mengungkapkan kekecewaan kita pada orang yang boros. Sudah tahu kita orang miskin, tapi hidup kayak orang kaya," balas Lembayung.
Pelangi hanya tersenyum simpul. Dia sudah tidak mood menanggapi adiknya itu. Sebab, dia tahu ibunya akan selalu membela putri kebanggaannya.
***
__ADS_1
Selain sibuk membantu ibunya Lembayung juga harus mempersiapkan diri untuk ujian nasional. Panggilan untuk acara kesenian juga semakin ramai, meski dia hanya akan ikut di tempat yang dekat-dekat saja. Sampai Lembayung jatuh sakit karena kelelahan. Dia harus dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang intensif.
"Apa kata kakak bilang. Kamu jangan ambil job menari dan menyanyi. Jadinya, kamu kelelahan seperti ini. Sudah tahu kalau tubuh kamu lemah, tetap saja keras kepala," ucap Pelangi yang menemani adiknya di rumah sakit.
"Kan, lumayan uangnya, Kak," balas Lembayung sambil menyeringai.
"Kesehatan itu sangat mahal, Dek. Jangan kamu abaikan itu," ucap Pelangi menasehati adiknya.
***
Senja juga sebenarnya kelelahan baik fisik maupun mental. Beban pikiran memikirkan masa depan ketiga putrinya, yang memecut dia untuk terus bekerja keras mencari uang. Dia hanya mengungkapkan keluh kesahnya pada foto Awan. Dia tidak punya orang yang bisa menjadi tempat sandaran.
"Pak, apakah aku akan bisa mewujudkan impian kamu. Anak-anak sendiri kini mulai sering membantah dan berkelakuan seenaknya sendiri. Kata ibu (Dewi, ibu mertua) aku akan bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anak. Tapi, sepertinya tidak. Rasanya ingin menyerah saja. Aku lelah, Pak."
***
Apakah Senja akan menyerah menjadi seorang ibu? Atau akan semakin berjuang keras? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1