
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 37
"Dok, apakah ini bisa disembuhkan?" tanya Embun.
"Bisa," jawab dokter itu.
Mendengar itu Embun merasa senang karena adiknya bisa bicara lagi. Bagaimanapun juga mereka adalah keluarga yang memiliki hubungan darah. Seburuk apapun hubungan mereka, tetap saja kalau mereka itu saudara kandung tidak bisa dipungkiri.
Dokter meminta Pelangi jangan terlalu banyak pikiran negatif. Pria itu juga selalu memberikan dukungan kepada para pasiennya agar bisa cepat sembuh. Dia juga meminta Embun untuk memberikan dukungan kepada Pelangi agar bisa bicara lagi.
Bagi Pelangi sendiri akan sulit untuk melupakan kejadian tadi. Bagaimana dia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat tubuh bapaknya terseret di jalanan aspal yang panas. Bahkan dia melihat kepala yang tidak terlindungi oleh helm karena terlepas dan membentur jalan dengan kuat sehingga tercipta jejak darah sepanjang tubuh lelaki itu terseret.
Saat itu dia ingin berteriak dengan kencang memanggil nama bapaknya. Namun, yang dia rasakan adalah kegelapan. Sampai dia tersadar sudah berada di rumah sakit. Berada di tempat yang dikelilingi oleh tirai. Ternyata dia sedang berada di ruang UGD.
"Dok, apa adik aku sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap. Di sini terlalu ramai banyak orang," kata Embun.
Dokter itu pun, meminta salah seorang perawat untuk membantu Embun mengurus pemindahan Pelangi ke ruang rawat inap.
***
Kini Senja dan Lembayung sudah sampai ke rumah sakit. Mereka pun bergegas mencari informasi tentang pasien yang mengalami kecelakaan tadi pagi. Sebab, Pelangi sudah tidak ada di ruang UGD. Kalau Awan dia memang di ruang isolasi yang khusus pasien yang sakit parah.
"Dek, kamu ke ruangan Pelangi. Ibu mau ke ruangan bapak dulu," kata Senja menyuruh putri bungsunya.
"Baik, Bu." Lembayung pun pergi bersama Bu RT ke ruangan tempat Pelangi berada sekarang.
__ADS_1
Sementara itu, Senja mendatangi ruang di mana Awan di rawat. Pak RT juga ikut bersama dengannya untuk memastikan keadaan laki-laki yang dikenal ramah dan selalu berbuat baik kepada tetangganya itu.
"Sepertinya ini ruangan tempat Pak Awan dirawat sekarang," kata Pak RT.
Senja ingin sekali masuk ke dalam, tetapi pasti tidak akan diizinkan tanpa persetujuan dokter. Dia pun mencari dokter yang bertanggung jawab atas kondisi suaminya.
"Anda adalah istri pasien?" tanya Dokter itu ketika mereka bertemu di depan pintu ruangan isolasi.
"Iya, Pak Dokter. Bagaimana keadaan suami saya saat ini?" tanya Senja dengan wajahnya yang semakin pucat.
"Sebaiknya kita bicara di ruangan saya," jawab laki-laki berjas putih.
Ruangan dokter itu terlihat sangat rapi dan cukup luas dan nyaman bagi pemiliknya. Namun, bagi Senja berada di ruangan itu terasa sesak dan menyiksa.
"Suami Ibu mengalami luka yang parah di bagian tulang tengkorak yang di bagian kanan kepala, tulang di tangan, kaki, dan beberapa tulang rusuknya patah dan mengenai organ paru-paru. Meski dilakukan operasi kemungkinan selamat adalah 1% dan pasien tidak akan normal seperti sedia kala," jelas Dokter itu.
"Aku ingin suamiku bisa bertahan hidup. Aku tidak mau kehilangan dia, Dok. Buat suamiku bisa seperti dulu lagi," ucap Senja diiringi tangisan pilu.
"Maaf, Bu. Sebaiknya kita berserah diri pada Tuhan. Dia tahu yang terbaik buat pak Awan," balas sang Dokter.
"Jadi, apa yang harus saya lakukan saat ini, Dok?" tanya Senja.
Dokter itu terdiam sejenak, lalu berbicara, "Kami tim medis sudah memberikan pertolongan pertama, tadi putri Anda meminta kami langsung saja mengoperasi pak Awan. Namun, kondisi tubuhnya tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu. Kita lihat dulu perkembangannya sampai nanti sore."
Senja merasa semua energi di dalam tubuhnya ada yang menarik, sehingga dia merasa saat ini tidak ada tenaga sama sekali. Untuk menggerakkan mengedipkan matanya saja, terasa berat.
***
Ruangan putih berukuran sedang yang terdapat dua buah brankar dan salah satunya diisi oleh Pelangi. Gadis itu sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri karena baru saja tidur setelah minum obat.
__ADS_1
Lembayung dan Bu RT menatap sendu padaperempuan yang dibalut perban kepalanya dan ada luka-luka lecet di wajahnya. Kedua wanita itu mendekati tempat berbaringnya Pelangi.
"Kak Pelangi, ini aku, Lembayung." Sang adik menahan isak tangis karena takut mengganggu Pelangi yang sedang beristirahat. Saat dia hendak memeluk tubuh Kakaknya, Embun menahan agar jangan melakukan hal itu.
"Kenapa?" tanya Lembayung.
"Itu, karena ...."
Embun pun menjelaskan kondisi Pelangi saat ini. Semua luka di bagian tubuh mana saja dan kemampuan Pelangi untuk berbicara yang hilang.
Lembayung menangis histeris saat mengetahhi keadaan Pelangi. Apalagi setelah Embun bilang kalau Pelangi tidak bisa bicara saat ini.
"Kenapa Kak Pelangi harus mengalami hal ini? Kenapa selalu saja Kak Pelangi yang merasakan sakit?" Lembayung ingin memeluk kakaknya, tetapi dilarang karena Pelangi akan merasakan kesakitan.
Saat Embun pertama kali memeluk Pelangi di ruang UGD, dia merasa biasa saja. Namun, beberapa setelahnya, saat di peluk dia menampilkan ekspresi kesakitan. Kata Dokter efek dari obat pereda rasa sakitnya sudah hilang reaksinya.
"Ini sudah takdir Pelangi, Dek," ucap Embun sambil mengusap kelapa Lembayung.
Gadis yang baru beranjak remaja itu kini mengalihkan perhatiannya kepada Embun. Dia melotot dengan penuh amarah kepada kakak sulungnya itu.
"Semua ini tidak akan terjadi jika bapak dan Kak Pelangi tidak mengantarkan handphone milik Kak Embun. Ini semua salah Kak Embun!" hardik Lembayung menuding gadis di depan matanya.
***
Bagaimana reaksi Embun atas tudingan dari Lembayung? Apakah Pelangi akan cepat sembuh? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya aku yang lainnya juga.
__ADS_1