
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 15
"Kamu dapat handphone itu dari mana?" tanya Senja.
Pelangi terdiam karena dia tidak tahu harus menjawab apa. Sesaat dia melihat ada kalender yang menggantung di dinding.
"Itu … hadiah ulang tahun," jawab Pelangi dengan pelan.
Senja mengangkat kedua alisnya. Dia tidak percaya dengan ucapan Pelangi. Bagaimana mustahil seseorang memberikan sebuah handphone untuk hadiah ulang tahun.
"Siapa orang yang sudah memberikan handphone ini sebagai hadiah ulang tahun?" tanya Senja.
"Kak … Tama," jawab Pelangi.
Bagai disambar petir, Senja sangat terkejut mendengar pengakuan putrinya. Dia tidak yakin akan dugaannya, kalau pemuda itu suka kepada Pelangi. Sementara itu, Embun bilang kepadanya kalau dia suka kepada Tama dan perasaannya berbalas.
"Kamu masih kecil jangan pacaran!" Senja memberi peringatan kepada Pelangi.
"Kami tidak pacaran. Kata Kak Tama, aku bisa menggunakan handphone itu untuk membantu aku belajar," aku Pelangi jujur.
Senja menatap pada netra Pelangi. Dia mencari kebenaran atau kebohongan akan ucapan putrinya ini. Namun, dia tidak menemukan kebohongan dalam pancaran matanya.
"Ini ambil," kata Senja sambil menyerahkan benda pipih itu.
Pelangi mengambil handphone itu dengan perasaan senang. Belum juga dia beranjak dari sana, Embun membuatnya kesal lagi.
"Ibu, kalau Pelangi punya ponsel. Maka, aku juga ingin punya. Bahkan aku lebih membutuhkan benda itu dibandingkan Pelangi," ucap Embun.
"Kamu bisa meminjam pada Pelangi," balas Senja, lalu pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
Embun menatap ke arah adiknya, lalu dia mengulurkan tangan sambil berkata, "Ibu menyuruh kamu untuk meminjamkan ponsel itu padaku."
"Maaf, Kak. Aku sedang mau belajar buat ujian nasional, jadi ponselnya mau aku pakai. Aku juga akan berkomunikasi bersama teman-teman," balas Pelangi, lalu dia pun pergi ke kamarnya. Tidak peduli kalau kini Embun sedang mengepalkan kedua tangannya.Â
'Awas kamu Pelangi! Mentang-mentang sudah punya ponsel.'
Embun sangat penasaran akan akun sosial media milik Tama. Selain itu, dia juga ingin berbicara karena sudah lama tidak bertemu dengannya. Dalam hati dia sudah sangat rindu sekali. Ingin mendengar suaranya, melihat wajahnya yang selalu tertawa. Semua yang ada pada dirinya, sangat dirindukan oleh perempuan bersurai hitam ini.
Setelah mandi Pelangi langsung mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh gurunya tadi di sekolah. Dia menyelesaikan kegiatan belajar sekitar jam 20:00:00. Tepat saat Awan meminta izinnya untuk masuk ke kamar.
"Masuk saja, Pak!" titah Pelangi.
Awan masuk ke dalam kamar yang berukuran sedang dengan satu kasur dua meja belajar dan dua lemari pakaian berukuran kecil. Kamar yang sejak dulu dipakai oleh Pelangi dan Lembayung bersama.Â
"Bapak dengar kamu mendapatkan ponsel dari Tama?" tanya Awan langsung to the point.
Mendengar ucapan ayahnya yang tiba-tiba seperti ini membuat Pelangi agak terkejut. Dia yakin, kalau laki-laki paruh baya ini tahu semua itu dari ibu atau kakaknya yang mengadu.
"Iya, Pak," jawab Pelangi pasrah dan dia memilih menundukkan kepala takut melihat sorot mata kecewa dari bapaknya.
Pelangi paling tidak bisa berbohong kepada laki-laki yang selalu memberikan dukungan kepadanya ini. Dia pun menatap ke arah mata ayahnya untuk memastikan sedang tidak marah padanya saat ini.
"Kata Kak Tama, ponsel itu digunakan untuk membantu aku belajar dan juga bisa menjalin tali silaturahmi. Kami bisa bertukar kabar lewat sosial media atau telepon," jawab gadis berambut panjang bergelombang ini.
Awan tersenyum tipis. Tadi dia menerima laporan dari istrinya karena putri kedua mereka mendapatkan hadiah ulang tahun sebuah handphone dari Tama. Dia juga memberi tahu kalau anak kedua mereka diam-diam sedang berpacaran.
"Bapak harap kamu bisa menggunakan barang itu dengan bijak. Jangan sampai gara-gara asyik bermain sosial media, game, dan teleponan, membuat nilai sekolah kamu hancur. Manfaat barang ini sebaik-baiknya," kata Awan menasehati Pelangi.
"Iya, Pak. Aku juga memakainya saat mengerjakan tugas dan sedang istirahat setelah pulang sekolah. Itu juga paling 15 menit paling lama 30 menit," sahut gadis yang kini tumbuh semakin tinggi.
***
Gara-gara Pelangi punya handphone, Embun pun meminta kepada Senja untuk membelikan benda seperti itu untuknya. Tentu hal ini membuatnya marah.
__ADS_1
"Kakak tahu tidak kalau saat ini, pengeluaran keluarga kita itu sudah banyak," kata Senja di ruang dapur.
"Kakak punya sedikit uang, sisa kurangnya dari ibu," ucap Embun.
"Keperluan sekolah kamu dan Lembayung yang belum ibu bayar masih banyak. Seharusnya, kakak tahu itu. Sekarang pikirkan dulu mana yang lebih penting. Keperluan sekolah kamu atau ponsel?" tanya Senja dengan gusar.
"Ibu tidak tahu kalau kakak itu malu sama teman-teman karena tidak punya ponsel. Sedangkan mereka semua itu punya. Hanya kakak yang tidak punya," balas Embun sambil nangis.
Awan yang baru pulang dagang dikejutkan oleh putri sulungnya yang menangis tergugu. Dia pun menanyakan kenapa sampai bisa menangis.
"Ini gara-gara Pelangi punya ponsel, Pak. Kemarin-kemarin semua baik-baik saja saat tidak ada benda itu. Sekarang kakak minta juga," jelas Senja.
Awan merasa kasihan pada putrinya. Dia paham kalau sekarang ini anak-anak sekolahan sudah punya barang seperti itu.
"Kakak punya uang berapa? Lalu, kurangnya berapa?" tanya Awan yang kurang paham akan harga-harga sebuah handphone.
"Kakak punya tiga ratus ribu dan kurangnya satu juta tujuh ratus ribu rupiah," jawab Embun.
Awan baru tahu harga handphone itu sangat mahal. Dia tidak punya uang simpanan yang sebanyak.Â
"Apa tidak ada yang harganya satu juta?" tanya Awan dengan lirih. Dia merasa menyesal tidak bisa memenuhi keinginan putrinya.
"Itu handphone yang diperlukan oleh kakak. Agar bisa dipakai untuk belajar," balas Embun.
"Ada kok, Pak. Ponsel seharga satu juta. Tapi bukan dari merk terkenal. Isi memori, RAM, dan ROM juga lumayan besar. Jadi bisa menyimpan banyak file nanti," timpal Lembayung yang kebetulan beberapa saat lalu masuk ke dapur untuk minum.
"Benarkah?" Awan merasa kalau membeli barang seharga itu bisa menambah kekurangannya.
Embun memasang wajah kesal pada adik bungsunya itu. Tentu saja banyak handphone yang harganya murah, tapi bukan dari merk terkenal. Sementara itu, dia ingin barang yang bermerk seperti teman-temannya. Dia juga tidak mau jika barangnya nanti lebih jelek dari milik Pelangi.
'Dasar bocah tengil.'
***
__ADS_1
Akankah Awan membelikan ponsel sesuai keinginan Embun atau sesuai keuangannya? Tunggu kelanjutannya, ya!