
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga dukungan dari kalian menjadi penyemangat aku untuk terus up.
***
Bab 50
Pelangi pun menuruti keinginan Senja untuk melakukan pengobatan di rumah sakit daerah saja. Tidak jadi ikut dengan Anindita dan Tama ke Jakarta. Meski dengan berat hati dia menyetujui hal ini.
"Pelangi, mulai sekarang ibu yang akan mengurus segala keperluan dirimu. Jadi, kamu tidak perlu ikut Tama ke Jakarta," kata Senja Pelangi pun mengangguk.
Terlihat kekecewaan di pancaran mata Anindita. Dia takutnya senja tidak benar-benar memperhatikan pengobatan dan keadaan Pelangi nantinya. Namun, apa daya dia bukan siapa-siapa bagi sang gadis saat ini.Â
'Kenapa, Pelangi? Kamu selalu menuruti ucapan ibumu itu.' (Anindita)
Senja pun mulai bertanya-tanya kepada banyak tim medis. Apa yang harus dilakukan untuk menangani kondisi Pelangi saat ini. Iya sudah kehilangan suami dan tidak ingin lagi kehilangan putrinya.
'Pak, aku berjanji akan merawat Pelangi dengan baik. Agar kamu merasa tenang di sana.' (Senja)
Selama Pelangi dirawat di rumah sakit, Senja pun setiap hari menunggunya di sana. Rasa takut kehilangan membuat dirinya banyak berubah. Wanita paruh baya itu juga selalu mengucapkan kata-kata yang lembut kepada putrinya.
"Setelah selesai mandi kamu makan dan minum obat, ya!" titah Senja kepada Pelangi, saat dia baru selesai memandikan putrinya itu. Pelangi hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Anindita yang setiap hari menunggui Pelangi, bisa melihat perubahan sikap Senja. Awalnya dia tidak percaya kalau wanita itu akan berubah dan mau mengurus Pelangi. Akan tetapi dugaannya itu salah, orang itu dengan cekatan dan telaten saat mengurus serta memperhatikan segala keperluan Pelangi.
'Syukurlah, Senja sudah banyak berubah dan ini bisa membantu proses kesembuhan Pelangi.' (Anindita)
***
__ADS_1
Sekarang adalah hari Sabtu, di mana Tama akan datang untuk menemui Pelangi. Hanya dua hari saja dia bisa bertemu dengan sang pujaan hati, ini sudah membuat dirinya senang.
Setelah mendengar ucapan maminya, Tama merasa kecewa karena Pelangi tidak akan ikut bersama dengannya ke Jakarta. Namun, di sisi lain dia juga merasa bahagia saat melihat wajah kekasihnya itu. raut muka Pelangi ini terlihat semakin bersinar karena sering tersenyum dengan lepas meski ada ibunya di sana.
"Aku akan selalu mendukung kamu, apapun pilihanmu itu," kata Tama dan mendapat usapan lembut di tangannya sebagai balasan dari Pelangi.
"Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku! Kapanpun itu!" pinta Tama dan Pelangi pun menyetujuinya.
***
Pelangi terpaksa harus mengambil cuti sekolahnya selama satu bulan atau selama di rawat di rumah sakit. Dia juga harus mendapatkan perawatan lainnya selama beberapa bulan ke depan. Namun, pelajaran sekolah dia masih mengikutinya. Teman-teman Pelangi banyak yang menjenguknya silih bergantian tiap hari.Â
Meski kepala Pelangi mengalami luka yang cukup parah, tetapi dia masih mampu berpikir dengan baik. Dia juga selalu mengerjakan tugas soal-soal yang diberi oleh gurunya. Senja selalu mengantarkan semua tugas-tugas itu kepada guru yang bersangkutan.
Sementara itu, Embun saat ini sudah kuliah di Jakarta. Dia punya niat ingin mendekati Tama. Namun, sayang sekali pemuda itu memilih tugas ke kantor yang ada Surabaya. Tentu saja hal ini membuat gadis itu sangat kecewa sekali.Â
^^^"Aku juga tidak tahu. Ini sudah di atur oleh atasan."^^^
"Lalu, sampai kapan Kak Tama akan berada di kantor cabang Surabaya?"
^^^"Entahlah. Aku tidak tahu. Sudah, ya. Aku lagi mau pergi kerja lagi."^^^
"Sekarang 'kan, sudah pukul enam sore. Kerja apalagi, dia?" Embun menggerutu sambil melihat ke layar handphone miliknya yang sudah mati.
***
Anindita pun saat ini tinggal di sekitar rumah Pelangi agar dia bisa memantau keadaan kekasih anaknya itu. Selain itu dia juga bisa menghabiskan waktu bersama dengan warga di sekitar sana. Ternyata kehidupan di desa sangat cocok dengan Anindita yang hidup sendirian.
__ADS_1
"Bu Anindita, mau ke mana sore-sore begini?" tanya salah seorang warga.
"Mau ke rumah Pelangi," jawab perempuan paruh baya itu dengan sopan.
"Nggak mau mampir dulu ke sini!" ajak wanita tua itu lagi.
"Terima kasih, Bu. Saya sudah ditunggu oleh Pelangi. Mari, Bu." Anindita pun pergi menuju rumah Senja yang tinggal tiga rumah lagi dari sana.
Setiap minggunya Pelangi melakukan terapi dan diantara oleh Senja atau Anindita secara bergantian. Hal ini membawa kemajuan yang pesat dalam kesehatan tubuh Pelangi selama dua bulan ini.
"Bagaimana hasil terapi kali ini?" tanya Anindita kepada Pelangi.
***
Bagaimana hasil dari terapi itu? Apakah Pelangi bisa bicara kembali atau tidak bisa? Tunggu kelanjutannya, ya.
Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk, baca juga karya aku yang lainnya.
"DZIKIR CINTA SANG PENDOSA"
Aulia, gadis belia yang jatuh pada pergaulan bebas, sampai hamil. Orang tua kekasihnya tidak memberikan restu dan malah menghinanya. Ayahnya yang punya penyakit jantung pun meninggal karena shock.
Aulia menolong seorang Kakek dan mengalami keguguran. Dia yang sebatang kara pun ikut Kakek itu dan mendalami ilmu agama. Setiap hari dia memohon ampunan kepada Allah atas dosa besar yang sudah dilakukan olehnya.
Di lingkungan pesantren itu Aulia dekat dengan Gus Fathir. Cinta pun hadir pada keduanya. Namun, saat akan khitbah, tersebar kisah masa lalu Aulia.
Akankah Aulia mendapatkan kebahagiaan, di tengah-tengah masa lalu yang selalu membayanginya?
__ADS_1