Ibu, Aku Juga Anakmu

Ibu, Aku Juga Anakmu
Bab 24. Pergi Liburan (1)


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 24


Tidak terasa hari kelulusan Embun pun tiba. Ternyata dia mendapatkan nilai tertinggi se-Provinsi, sehingga kedua orang tuanya harus memenuhi janji mereka untuk memberikan dia laptop. Tentu saja hari ini membuat Embun bahagia.


Pelangi dan Lembayung hanya bisa saling melirik, saat ayah dan ibu mereka menghitung uang untuk membeli laptop. Keduanya tahu kalau keadaan ekonomi saat ini sedang sulit. Belum lagi biaya pendaftaran kuliah Embun ke universitas negeri yang ada di Jakarta.


"Bu, cukupkan uangnya?" tanya Awan.


"Iya, ibu rasa sudah cukup," jawab Senja.


Terlihat binar dari mata Embun, akhirnya dia bisa mempunyai laptop juga seperti temannya di sekolah. Dulu dia sering meminjam punya salah satu teman yang untuk mengerjakan tugas.


"Bu, besok kakak ikut, ya. Ingin memilih sendiri," kata Embun.


"Iya," balas Senja.


***


Keesokan harinya Embun datang sambil menenteng sebuah tas berisi laptop dengan wajahnya yang penuh dengan senyuman. Ternyata dia memilih laptop yang harganya lebih mahal dari uang yang disediakan oleh kedua orang tuanya. Jadinya, Embun harus menambah sendiri sisa kekurangan dari harga laptop itu.


"Wah, bagus nih, laptopnya! Pasti mahal?" tanya Lembayung saat melihat laptop bermerk milik Embun yang kini sedang berada dalam pangkuannya.


"Tentu, dong. Biar awet dan tahan lama," balasnya sambil tetap memainkan jari-jarinya di atas keyboard.


Pelangi dan Lembayung hanya diam sambil melihat kakaknya yang bermain laptop. Ada rasa iri dari keduanya, karena semua keinginan kakak mereka itu selalu bisa terpenuhi.


'Eh, ngapain juga aku iri padanya. Rezeki itu sudah ada yang mengatur.' (Pelangi)


'Enak banget Kak Embun ini. Apa-apa tinggal minta sama bapak dan ibu dengan jaminan nilai yang baik. Apa aku juga harus seperti dia? Minta sesuatu sebagai hadiah dari prestasi yang aku dapatkan.' (Lembayung)


***

__ADS_1


Sekarang kerjaannya Embun setiap hari adalah bermain laptop bukan lagi membaca novel atau komik. Tentu saja hal ini selalu memancing pertengkaran ketiga anak gadis itu.


"Kak, bisa nggak bantu kita mengerjakan pekerjaan rumah. Jangan terus main laptop seharian. Aku dan Kak Pelangi mau ujian akhir semester. Kita juga perlu waktu untuk belajar!" sindir Lembayung di hari Sabtu, dua hari sebelum ujian di mulai.


Embun menatap sangar ke arah Lembayung. Dia tidak suka kalau kegiatannya diganggu.


"Iya, nanti akan kakak kerjakan. Ini sedang tanggung," balas Embun dengan nyolot.


"Apaan sih, wajahnya itu. Bukannya membantu orang tua, ini malah sibuk bermain laptop," gerutu Lembayung sambil berlalu keluar dari kamar Embun.


Pelangi yang lewat di depan kamar Embun, sempat melirik arah kakaknya itu. Ternyata dia sedang menonton sebuah film lewat laptop.


"Bukannya dipakai belajar, ini malah nonton film," gumam Pelangi sambil berlalu.


***


Gara-gara Embun dulu minta hadiah sebagai prestasi dirinya, maka Pelangi dan Lembayung pun meminta hal yang sama kepada kedua orang tua mereka. Namun, bukan laptop yang mereka minta.


"Apa yang ingin kalian minta?" tanya Awan.


"Ingin beli handphone," ucap Lembayung dan membuat kedua orang tuanya melotot. Sebab, uang mereka sudah habis untuk beli laptop, Embun.


"Yang benar saja permintaan kalian ini!" Senja bicara dengan nada tinggi.


"Aku tidak minta uang sama bapak dan ibu. Hanya minta izin saja pergi bersama teman-teman selama 3 atau 4 hari," ujar Pelangi.


"Masa cuma aku yang tidak punya handphone. Aku tidak minta harus yang bermerk. Merk apa saja asal aku punya benda itu," tukas Lembayung.


Akhirnya Awan dan Senja mengabulkan keinginan mereka. Tentu ini membuat kedua gadis remaja itu sangat bahagia.


Sebenarnya, Pelangi akan pergi ke wisata air panas bersama teman-teman sekolahnya hanya dua hari, tetapi untuk antisipasi katanya Tama dan ibunya ingin bertemu. Keduanya janjian bertemu di tempat wisata itu. Namun, Pelangi tidak terlalu berharap karena melihat kegiatan laki-laki itu yang sering terlihat sibuk dari unggahan foto di sosial media miliknya.


***


Hari libur pun tiba. Pelangi dan teman-teman sekolahnya menyewa sebuah penginapan untuk dua hari satu malam. Semua biaya itu dikeluarkan oleh orang tua salah seorang teman Pelangi. Orang tua temannya itu bekerja di luar kota dan sesekali ingin mengajak liburan bersama teman baik anaknya. Jadi, mereka liburan dalam pengawasan.

__ADS_1


"Kita berendam di sungai atau mau berenang di kolam?" tanya Rima, orang yang sudah mengajak Pelangi dan yang lainnya liburan.


"Berendam di sungai!" kompak mereka dengan semangat.


Handphone Pelangi berbunyi. Dia melihat ke layar, ternyata ada pesan masuk dari Tama.


^^^Pelangi, kamu di mana? Aku dan Mami sudah sampai di parkiran.^^^


Betapa bahagia Pelangi mendapat pesan ini. Lalu dia pun membalas dengan cepat.


Aku mau berendam di sungai air panas bersama teman-teman.


^^^Kalau begitu kami akan ke penginapan dulu. Semoga kita bisa secepatnya bertemu.^^^


"Teman-teman aku ada perlu sebentar. Nanti menyusul ke sana, ya!" ucap Pelangi.


"Oke. Hati-hati! Kalau ada apa-apa tanya saja pada petugas di sini," kata Rima dan Pelangi mengiyakan.


***


Rasa ingin bertemu dengan Tama, membuat Pelangi bertekad untuk menemui laki-laki itu. Jiwa muda yang selalu menuruti ego kini sedang menguasai diri Pelangi.


Senyum lebar kini terlukis di wajah gadis yang tumbuh semakin cantik meski ada bekas luka di keningnya. Pelangi sangat senang saat melihat ada Tama dan maminya sedang berjalan ke arah ruang kolam khusus privat yang bisa di sewa, agar tidak bercampur dengan orang lain yang tidak dikenal. Sebelum mereka naik ke bagian atas tempat penginapan berada.


"Pelangi!" Tama memeluk Pelangi dengan sangat erat. Menyalurkan rasa rindu yang begitu besar karena selama ini dia pendam.


"Kak, malu," bisik Pelangi saat Indira melihat ke arah mereka sambil tersenyum.


"Mami mengerti, kok. Akhirnya, aku bisa melihatmu secara langsung," bisik Tama.


'Dasar anak muda. Tidak tahu tempat. Untung sedang tidak ada orang lain.' (Anindita)


***


Bagaimana kisah liburan Pelangi di sana? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2