Ibu, Aku Juga Anakmu

Ibu, Aku Juga Anakmu
Bab 47. Masa Lalu (2)


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku, dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 47


Saat Senja terjaga dari tidurnya, dia baru menyadari kalau Embun sudah tidak ada bersamanya. Lalu, dia pun mencari keberadaan putrinya itu.


"Embun! Embun! Kamu di mana, Nak?" Senja berjalan ke luar kamar dan mencari keberadaan Embun.


Senja menelusuri hampir di semua ruangan yang ada di rumahnya. Dia mencari keberadaan putrinya dengan teliti. Namun, dia belum juga menemukan keberadaan balita itu. Dia pun meminta bantuan kepada tetangganya untuk mencari keberadaan Embun.


"Memang tadi Embun sedang berada di mana?" tanya Bu Eli sambil ikut berkeliling di halaman rumah Senja yang banyak ditumbuhi oleh pohon berbagai jenis buah-buahan.


"Tadi, kami sedang tidur. Ketika aku bangun, Embun sudah tidak ada di dalam dekapan aku," jawab Senja dengan berderai air mata.


"Kita coba cari lagi di dalam rumah. Siapa tahu itu anak terselip di lemari atau tempat tidur," kata Bu Ela.


Mereka bertiga pun memasuki rumah dan memeriksa kembali seluruh ruangan yang ada di dalam rumah. Sekarang mereka lebih teliti lagi dalam mencari. Wadah-wadah yang kemungkinan bisa menjadi tempat bersembunyi dan kain-kain lebar mereka singkat berharap bocah mungil itu ada di sana.


Sudah 10 menit berlalu sejak mereka memulai mencari Embun. Namun, sosok bayi perempuan yang aktif itu belum juga kelihatan batang hidungnya.


Senja mengalihkan pandangannya ke arah kamar mandi. Meski dirasa mustahil berada di sana, kakinya menuntun dia masuk ke ruangan berukuran 2 X 2 meter. Mata Senja membulat saat melihat Embun sedang berada di dalam bak jolang (tempat penampungan air).


"Embun!" teriak Senja dengan histeris dan meraih tubuh putrinya yang tidak sadarkan diri.


"Embun sudah ketemu?" tanya Bu Ela dan Bu Eli bersamaan berlari ke arah pojok rumah dan bersisian dengan ruangan dapur dan tempat makan.

__ADS_1


Senja ke luar dari kamar mandi sambil menggendong Embun yang basah kuyup dan dalam tidak sadarkan diri. Perempuan yang sedang hamil itu menangis histeris.


"Tolong anakku!"


"Kita bawa ke rumah sakit!"


"Aku cari orang yang bisa mengantarkan kita ke rumah sakit.


Kematian Surya kini terbayang-bayang kembali di pelupuk mata Senja. Dia ketakutan kalau anaknya akan meninggal lagi di saat usia satu tahun dan sedang asyiknya berjalan ke sana kemari, meski kadang terjatuh.


"Nak, buka mata kamu," ucap Senja sambil menciumi pipi Embun.


Tidak lama kemudian datang Pak RT bersama Bu Ela. Mereka sudah menyiapkan kendaraan untuk membawa Embun dan Senja ke rumah sakit.


"Baju Embun buka saja. Jangan sampai bayi itu terkena hipotemia," kata Bu Eli yang duduk di kursi depan.


Senja pun langsung membuka semua baju yang dipakai oleh Embun. Untungnya ada jaket milik Pak RT yang bisa dipakai untuk menyelimuti badan Embun.


***


"Pak, aku tidak mau harus kehilangan Embun juga." 


Senja menangis dalam pelukan suaminya. Sejak menemukan Embun, dia merutuki dirinya sendiri karena malah jatuh tidur, bahkan sangat pulas. Perempuan itu menyalahkan kembali kehamilannya yang membuat dia jadi mudah tidur sekarang ini.


"Aku akan melakukan apapun untuk Embun," balas Awan sambil mengusap kepala istrinya.


"Tuhan, jika Engkau tidak mengambil Embun dari kita. Aku berjanji akan melakukan apapun untuk kebagian dia. Aku akan mengurus dia lebih baik lagi dan mengabulkan segala keinginan dia, selama itu baik untuknya." Senja berdoa dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Setelah dirawat beberapa hari, kondisi Embun pun membaik. Kakek Indra dan Nenek Dewi sampai tidak jadi ikut acara pesta pernikahan keponakannya itu. Mereka langsung kembali hari itu juga setelah mendengar berita tentang Embun.


Lagi-lagi Senja menyalahkan kehamilannya saat tidak bisa menunggui Embun di malam hari. Dia hanya bisa menjenguk Embun sebentar karena dia mengalami muntah-muntah jika mencium bau khas rumah sakit.


"Kenapa bayi ini selalu menyiksa aku? Apa salah aku kepadamu?" Senja memaki sambil melihat ke arah perutnya yang sudah terlihat membesar.


"Kamu tidak boleh seperti itu. Mungkin saja kelak bayi ini yang akan membawa cahaya kebahagiaan keluarga kalian," ujar Nenek Dewi sambil menyentuh perut sang menantu.


"Nak, jadilah orang yang baik dan membawa kebahagiaan bagi orang-orang di sekelilingmu. Jadilah, anak yang bisa membanggakan kedua orang tuamu. Semoga kamu menjadi perempuan yang sangat tangguh dan pantang berputus asa," kata Nenek Dewi mendoakan cucu yang masih di dalam perut.


***


Embun sudah sehat dan aktif kembali. Bocah itu tumbuh menjadi anak yang cerdas dan aktif, juga jarang rewel.


Kemalang Senja menimpa kembali dirinya. Saat kehamilan dia memasuki usia 6 bulan, nenek yang sudah membesarkan dan mengurus dia dan adiknya, meninggal dunia. Hatinya terasa teriris ketika dia tidak bisa menjenguk neneknya yang kebetulan di rawat di rumah sakit terlebih dahulu, sebelum menghembuskan napas terakhirnya.


Setiap Senja menginjakkan kakinya di rumah sakit, dia selalu muntah-muntah. Serta merasakan pusing dan menggigil kedinginan. Hal ini adalah penyesalan seumur hidup Senja dan membuat semakin benci pada bayi yang ada di dalam perutnya ini.


***


Waktu pun terus bergulir Kakek Indra dan Nenek Dewi masih tinggal di rumah Awan. Selain mereka ada juga adiknya Senja yang bernama Lembayung yang usianya jauh terpaut dari sang kakak. Usia dia sekarang berumur 10 tahun. Adik kesayangan Embun yang tidak pernah melihat wajah kedua orang tuanya.


Adanya Lembayung di rumah Senja membuat Embun senang karena punya teman bermain. Dia yang sering mengasuh Embun.


Apalagi saat Senja melahirkan dan dia mengalami baby blues syndrom pasca melahirkan. Sampai dia tidak mau memberikan ASI pada bayinya. Orang-orang di rumah itu selalu memberikan dukungan dan perhatian kepada Senja, sehingga mau menyusui bayinya.


Senja sangat berterima kasih kepada adiknya yang mau mengasuh Embun, sehingga tidak rewel. Dia juga ikut membantu Nenek Dewi mengurus rumah.

__ADS_1


***


Bagaimana nasib Lembayung adiknya Senja? Baca Part berikutnya 😫. Double up 😆. Makanya kasih Vote, mumpung baru masuk votenya.


__ADS_2