Ibu, Aku Juga Anakmu

Ibu, Aku Juga Anakmu
Bab 32. Nasehat Awan


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 32


Embun menarik kasar buku catatan yang ada di tangan Pelangi. Lalu, memukulkan dapat badan adiknya itu.


"Dasar tidak tahu sopan santun. Akhlak kamu jelek banget jadi orang. Ngapain kamu baca-baca catatan milik orang lain," hardik Embun pada gadis yang kini berdiri di depannya.


"Bukannya Kakak juga sering membuka-buka buku catatan milik aku dan Lembayung juga. Kenapa sekarang kamu marah saat aku melakukan hal yang sama pada dirimu?" balas Pelangi dengan nada sinis tidak mau kalah.


"Tentu saja beda. Buku yang aku buka itu buku catatan pelajaran. Bukan buka catatan pribadi!" bentak gadis bersurai lurus hitam legam.


"Mana aku tahu itu buku catatan pelajaran atau catatan pribadi. Aku hanya baca bagian depannya saja," ujar Pelangi sambil mendorong tubuh Embun dan meneruskan menyapunya.


Embun sangat marah dan rasanya dia ingin memakan hidup-hidup adiknya itu. Sejak dulu dia selalu memeriksa buku-buku adiknya hanya ingin tahu nilai-nilai yang di dapat oleh mereka. Dia tidak mau kalau sampai kalah saing dengan saudaranya. Apalagi sejak ada Tama dia antara dirinya dan Pelangi. Dia selalu curiga kalau Pelangi diam-diam menyukai laki-laki itu.


Rasa amarah Embun dilampiaskan pada pintu kamarnya. Dia menutup pintu kamar dengan membantingnya dengan keras sampai membuat bunyi sangat keras dan rumah terasa bergetar.


"Embun, ada apa?" teriak Senja begitu mendengar suara pintu dibanting tadi. 


Pelangi tahu kakaknya sedang marah saat ini. Namun, dia membiarkannya karena dia belum menyelesaikan pekerjaan yang disuruh oleh ibunya tadi.


"Kak Embun, stres kali, ya! Aku sampai terbangun saking kagetnya," gerutu Lembayung sambil berjalan lesu ke kamar mandi.


Lembayung yang sedang membaca tadi sempat tertidur. Akan tetapi, dia langsung terbangun ketika Embun membanting pintu.


Senja pun mendatangi kamar putri sulungnya. Dia mencoba menenangkan anak gadisnya itu.


'Apa pernah ibu mendatangi aku saat marah atau sedih? Sebenarnya aku ini anak ibu atau bukan?' (Pelangi)


Ada rasa sesak di dada Pelangi jika mengingat hal ini. Secara fisik gadis itu condong mirip Awan. Hanya mata dan rambut bergelombang saja yang mirip Senja. Selain itu, golongan darah mereka berdua sama. 


Sementara kedua saudara lainnya sama dengan Awan. Bahkan rambut lurus dan hitam legam itu turunan dari Awan. Wajah Embun dan Lembayung didominasi oleh wajah yang mirip Senja. Hanya hidung semua anak gadis itu mancung seperti Awan.


***


Malam harinya Awan memberi nasehat untuk putri-putrinya. Terutama kepada Embun yang akan hidup mandiri di ibu kota. Ketiganya hanya diam mendengarkan petuah dari bapak mereka.

__ADS_1


"Jaga kepercayaan yang bapak dan ibu berikan kepada kalian. Jangan sampai terbawa arus negatif dari lingkungan kita. Meski kita mendapat ejekan dan hinaan dari orang-orang. Jangan pedulikan hal itu. Kita harus punya prinsip dalam hidup kita. Agar semuanya terarah dan berjalan dalam kebaikan," ucap Awan.


Pelangi meresapi semua ucapan ayahnya, begitu juga dengan Lembayung. Meski mereka masih tinggal di rumah bersama orang tua, tidak ada salahnya mendengarkan nasehat berharga ini.


Embun merasa bosan karena bapak dan ibunya terus saja mengulang-ulang nasehatnya itu. Rasanya kepala dia mau pecah karena terlalu sering mendengar ucapan ini.


"Iya, Pak. Akan kakak ingat selamanya nasehat dari Bapak ini," balas Embun yang ingin segera mengakhiri pembicaraan mereka.


Embun melirik kepada Senja. Dia seakan berkata lewat tatapan matanya, minta bantuan untuk menghentikan pembicaraan ini.


"Ini sudah malam. Kalian cepat tidur! Terutama kamu Embun, besok kamu akan berangkat pagi-pagi. Jangan sampai bangun ke siangan," kata Senja dan disoraki kegembiraan dalam hati Embun.


"Ini baru jam setengah sembilan malam. Belum ada jam sembilan, Bu," ucap Awan yang masih belum puas memberikan nasehat untuk ketiga putrinya.


"Mereka harus istirahat, Pak. Jangan sampai besok kesiangan, nanti malah berabe untuk semua orang. Apa kata teman-teman Embun nanti jika dia bangun kesiangan," balas Senja.


Awan pun akhirnya mengalah. Dia juga tidak mau kalau orang lain menanggung kerugian akibat dirinya atau keluarganya. Dia pun menyuruh ketiga putrinya untuk cepat pergi tidur dan mematikan televisi.


Pelangi dan Lembayung pergi ke kamar mereka. Namun, bukannya langsung tidur. Mereka malah membuka yutub dan mencari film yang seru untuk mereka tonton. Biasanya mereka tidur jam 21:00:00 atau 22:00:00. Jadi, saat ini mereka belum merasakan kantuk.


Begitu juga dengan Embun, dia malah sibuk bermain sosial media di handphonenya. Apalagi dia bersemangat saat tahu Tama sedang online. Dia memberikan berbagai komentar atas unggahan dari laki-laki yang menjadi cinta pertama baginya.


^^^Di Jakarta^^^


Oh. Nanti ajak aku ke sana juga, ya!


^^^Kalau ada waktu senggang.^^^


Rasanya aku juga ingin mengunjungi tempat ini.


Tidak ada balasan lagi dari Tama dan itu membuat perasaan Embun yang tadi berbunga-bunga kini menjadi kesal.


Ternyata Tama kini sedang bermain di igeh. Embun pun memberi tanda hati dan memberikan komentar pada unggah laki-laki itu.


Ini di mana lagi, Kak?


^^^Masih di Jakarta.^^^


Oh, iya. Jembatan yang sedang viral itu, 'kan?

__ADS_1


^^^Iya.^^^


Kak Tama terlihat keren dan ganteng banget.


Sudah beberapa lama Embun tidak mendapatkan balasan dari Tama. Tentu saja ini membuat dia gusar.


"Akan aku buat Kak Tama jatuh cinta sama aku. Jika dia sudah bucin, akan aku buat dia merasakan perasaan aku seperti saat ini. Dia sampai tidak mau lepas dari diriku," gumam Embun.


***


Pagi harinya suasana di rumah Awan sudah sibuk dengan hiruk pikuk para penghuni rumah. Mereka semua ikut sibuk menyiapkan keperluan keperluan Embun.


"Sarapan dulu, Kak!" titah Awan pada putri sulungnya.


"Nggak, Pak. Takut mabuk di perjalanan nanti," tolak Embun.


"Minum obatnya, biar tidak mabuk," lanjut Senja yang menata nasi goreng di meja makan.


Maka mau tidak mau, Embun pun memakan sarapannya. Lalu, dia juga memakan obat anti mabuk perjalanan.


Sekitar pukul 06:00:00 ada sebuah mobil yang datang untuk menjemput Embun. Terlihat ada Dina turun dari mobil itu.


"Embun, ayo! Keburu macet nanti dijalan jika terlalu siang," ujar gadis bertubuh pendek itu.


"Iya, aku sudah siap!" balas Embun sambil menggendong tas miliknya. Selain itu ada tas besar yang di jinjing olehnya.


Embun pun berpamitan kepada semua penghuni rumah. Awan juga meminta kepada orang tua Dina untuk menjaganya. Kalau ada apa-apa minta menghubungi nomor milik Pelangi.


"Pak, kakak berangkat dulu." Embun memeluk tubuh bapaknya.


"Hati-hati, ya, Kak. Kalau ada apa-apa cepat hubungi kami," ucap Awan.


"Iya, Pak." 


Embun pun pergi dengan dihantar oleh lambaian tangan keluarganya. Meski Embun itu sering berbuat menyebalkan pada kedua adiknya. Pelangi merasakan ada yang hilang saat mobil yang ditumpangi kakaknya sudah tidak terlihat lagi.


"Handphone milik Kak Embun tertinggal!"


***

__ADS_1


Apa yang akan dilakukan oleh Pelangi? Akankah di mengejar Embun? Atau membiarkannya begitu saja? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2