
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan πππππ. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 63
"Bukannya dulu sudah aku peringatkan kamu. Jangan dekati Kak Tama! Karena aku menyukai dia," kata Embun dengan suara nyaring.
"Tapi, Kak Tama tidak menyukai kamu," balas Pelangi dan membalas tatapan tajam Embun.
PLAK!
Embun menampar pipi Pelangi dengan sangat keras. Dia tersinggung oleh ucapan adiknya itu.
"Tahu apa kamu tentang perasaan Kak Tama?" teriak Embun sambil menunjuk muka Pelangi.
"Karena Kak Tama sendiri bilang. Kalau dia itu sangat merasa terganggu oleh kakak yang selalu saja menghubunginya terus-menerus. Seharusnya kakak sadar dan tahu diri!" balas Pelangi sambil menepis tangan Embun yang menunjuk mukanya.
"Berani kau melawan aku!" bentak si sulung sambil mendorong kedua bahu Pelangi.
"Kenapa aku mesti takut sama kakak? Aku merasa tidak punya salah sama kakak. Tadi juga aku hanya mengingatkan Kakak saja!" Pelangi berhasil menahan dirinya untuk tidak jatuh karena dorongan kuat dari Embun.
"Dasar kurang a_jar!" Embun kembali melayangkan tangannya ke arah muka Pelangi.
Tangan Pelangi berhasil menangkis tangan kakaknya yang hendak menamparnya. Bahkan dia berhasil memerintil tangan Embun ke belakang punggungnya. Sampai dia mengadu kesakitan.
__ADS_1
"Aww, lepaskan, Pelangi! Gi_la kamu, ya!" teriak Embun kesakitan.
"Kakak yang memulai dulu," bantah Pelangi sambil gantian mendorong tubuh Embun.
"Pelangi!"
Terdengar teriakan Senja, dapat setelah Pelangi mendorong tubuh Embun. Langsung saja gadis itu mengalihkan perhatiannya ke arah pintu dapur. Ternyata di sana sudah ada Senja yang berdiri sambil membawa tumpukan kain lap.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa kau menyakiti Embun? Dia itu kakakmu," ucap Senja dengan nada keras dan tegas.
"Kak Embun yang memulai duluan, Bu. Aku hanya membela diri saja," sanggah Pelangi sambil menatap ke arah ibunya.
"Pelangi sudah menyakiti aku, Bu. Hatiku sakit karena dihina olehnya. Begitu juga dengan tubuhku yang didorong oleh dia, seperti barusan," ucap Embun sambil terisak menahan tangis.
"Bohong! Aku tidak pernah melakukan seperti yang kau tuduhkan tadi," bantah Pelangi.
"Bukannya ibu sendiri melihat tadi, Pelangi sudah mendorong tubuhku," ucapan Embun ini dibenarkan oleh Senja, karena dia menyaksikannya sendiri.
Senja menatap kedua putrinya. Dia masih saja sering dibuat pusing oleh mereka. Setiap bertemu selalu saja ada yang diributkan oleh keduanya.
"Sekarang apa lagi yang kalian ributkan?" tanya Senja kepada Pelangi dan Embun.
"Pelangi sering pergi berduaan dengan Kak Tama. Kemarin juga mereka liburan di rumah kakek, pergi ke berbagai tempat berfoto-foto di sana. Padahal dari dulu ayah dan ibu melarang kita dalam berpacaran. Tetapi, Pelangi malah marah sama aku. Orang yang mengingatkan kesalahan dia." Embun berdusta.
Embun merasa takut kalau Senja akan marah kepadanya. Dia tidak punya siapa-siapa lagi yang selalu membela dirinya di hadapan orang lain.
__ADS_1
"Benarkah itu, Pelangi?" tanya Senja dengan menatap curiga ke arah putri keduanya.
"Kemarin aku memang pergi liburan bersama kakek dan Paman Candra juga Kak Tama. Tapi kita pergi dengan banyak orang. Tanya saja sama mereka semua?" kata Pelangi.
"Wajar, 'lah, kalau memang di foto di tempat rekreasi, " kata Lembayung yang tadi datang ke dapur hampir bersamaan dengan Senja.
"Kita juga tidak melakukan apa-apa yangβ"
"Pelangi!" potong Senja dan gadis itu pun langsung terdiam.
"Sudah berulang kali ibu bilang, kalau kamu tidak boleh berpacaran!" bentak Senja.
"Aku dan Kak Tama hanya LDR -an, Bu. Kak Tama tak pernah mengganggu aku. Apalagi di saat sedang belajar," bantah Pelangi.
"Kamu mau nurut ibu atau tidak?" tantang Senja.
"Tapi, Buβ"
"Putuskan Tama sekarang juga dan blokir semua akun media kalian," potong Senja kembali.
Pelangi berlari ke kamarnya sambil menangis. Sementara itu, Embun tersenyum miring. Senja menatap marah kepada putri keduanya.
***
Akankah Pelangi memutuskan Tama? Tunggu kelanjutannya, ya! π₯±π΄πͺπ«π΅
__ADS_1