
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 61
"Kamu harus mempersiapkan hati jika terjadi hal terburuk," ucap Bagaskara.
DEG!
Jantung Tama terasa mau copot. Dia memikirkan hal terburuk apa yang akan dia temui dalam menjalin hubungan dengan Pelangi nanti.Â
"Hal apa yang menyebabkan hubungan aku dan Pelangi bisa memburuk?" tanya Tama sambil menatap ke arah pemuda yang tinggi badannya menyamai dirinya.
Bagaskara tersenyum tipis. Dia ingin menguji ketulusan perasaan Tama kepada adik sepupunya itu.
"Bagaimana seandainya Pelangi menjadi seorang gadis yang tidak punya titel gelar sarjana? Atau dia bukan wanita karir? Atau dia gadis yang tidak bisa berdandan? Apa kamu masih mau dengannya?" tanya Bagaskara.
"Tentu saja. Karena bukan itu yang suka darinya," jawab Tama langsung dan Bagaskara tersenyum.
"Lalu, seandainya Embun menyukai kamu dan jatuh cinta padamu. Apa yang akan kamu lakukan?"Â
"Tentu saja menjauhinya. Seperti yang sekarang aku lakukan."
"Wah, jadi si Embun gadis perfeksionis, itu bisa juga jatuh cinta padamu." Bagaskara tertawa renyah.
"Memangnya aku kenapa? Banyak gadis yang menyukai aku. Tapi, hanya Pelangi yang aku sukai," tanya Tama tersinggung.
"Si Embun itu tipe orang yang pantang menyerah dan berani melakukan apa saja demi mencapai tujuannya."
Tama membenarkan ucapan Bagaskara. Tidak perlu diberi tahu pun hal itu sudah jelas.
__ADS_1
"Jika, saat itu terjadi. Aku yakin Pelangi pasti akan mengalah setelah ibunya yang meminta. Dan kamu akan jatuh pada pelukan Embun."
Tama yang kesal mendengar ucapan pemuda itu, memukul kepalanya memakai jagung bakar yang ada di tangannya. Sampai Bagaskara memekik.
"Jika itu terjadi. Aku akan menculik Pelangi dan membawanya kabur ke tempat yang sangat jauh, sampai tidak ada yang bisa menemukan kami," balas Tama.
Bagaskara menggerutu karena rambut rapinya yang memakai pomade, kini kotor oleh olesan margarin yang ada pada jagung bakar tadi. Dia pun membersihkan karena ada kotoran arang yang menempel.
"Jika, hal itu terjadi, bilang-bilang sama aku. Nanti aku bantu kalian kabur," jelas Bagaskara.
Ternyata obrolan kedua pemuda itu didengarkan oleh Kakek Indra. Kini telinga keduanya ditarik oleh lelaki tua itu.
"Mau dibawa ke mana cucuku!"
"Ampun, Kek!" teriak Tama dan Bagaskara.
'Ini gara-gara dia!' (Tama & Bagaskara)
***
Di kota itu banyak wisata alam yang bisa dikunjungi. Selain tempatnya indah udara di sana juga sangat bersih dan segar.
"Pose yang lebih mesra, dong!" teriak Bagaskara saat akan memotret pasangan Pelangi dan Tama.
Sebenarnya Pelangi agak malu karena ada orang lain. Beda kalau tidak ada orang lain.
Tama pun semakin menempelkan tubuh mereka. Dia memeluk Pelangi dari belakang dan mengarahkan wajah mereka agar saling menatap.
"Yap, bagus!" Terdengar suara Bagaskara.
"Mau ambil pose ciuman, kayaknya bagus, deh," kata Bagaskara menggoda pasangan itu.
__ADS_1
Pelangi melotot ke arah kakak sepupunya itu. Lalu, mengangkat kepala tangan padanya.
"Pura-pura malu dan marah begitu. Semalam saja aku melihat kalian berciuman beberapa kali," gerutu Bagaskara.
Tentu saja hal itu tidak diketahui oleh Pelangi dan Tama. Sebab, semalam mereka mengira sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sana. Tama yang suka sekali menyosor, tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Sementara itu, Bagaskara yang mau mengambil handphone miliknya yang tertinggal di kursi halaman belakang berniat untuk mengambilnya. Namun, saat di sana dia melihat bagaimana kedua sejoli itu sedang berciuman mesra dalam waktu yang cukup lama.Â
Tempat yang mereka kunjungi adalah kawasan air terjun yang berundak-undak dan memiliki air yang jernih. Ada taman bunga liar yang terus bermekaran sepanjang tahun, dan ada hamparan rumput hijau sangat luas. Angin di sana terus bertiup semilir tiada hentinya. Banyak orang-orang yang menggelar tikar di sama. Mau itu duduk berselonjoran, tiduran, atau makan bersama.
"Kita makan siang di sini!" ajak Mega dan Candra pun menggelar tikar yang dibantu oleh Pelangi.
Anindita dan Mega menata makanan yang tadi dibawa oleh Tama dan Bagaskara dari mobil. Sementara itu, Kakek Indra duduk di akar pohon yang di dekatnya.
Ketujuh orang itu menikmati waktu liburan di hari pekan. Tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk liburan kali ini.
"Setelah berenang di sungai air terjun tadi, kini perut terasa lapar. Apalagi wangi makanan ini begitu menggugah selera, makin mantap saja," ucap Bagaskara sambil mengambil potongan ayam kecap pedas, sambal, dan lalapan.
"Kakek, makan dengan sayur buatan Pelangi," kata Kakek Indra.
"Aku juga," lanjut Tama.
Semua makan dengan lahap sampai bekal itu habis tidak bersisa. Setelah itu mereka tiduran di tikar dan bernaung di bawah pohon besar.
***
Kesalahan yang dilakukan oleh Bagaskara adalah meng-upload liburan mereka di sosial media miliknya. Jadinya, bisa dilihat oleh orang banyak, salah satunya adalah Embun.
"Apa-apaan ini!" pekik Embun sambil menatap layar handphone miliknya. Wajah di berubah menjadi merah.
***
__ADS_1
😆😆 Ada yang kebakaran jenggot, eh, apa ya yang cocok untuk cewek? Kira-kira foto apa yang membuat Embun marah? Tunggu kelanjutannya, ya!