Ibu, Aku Juga Anakmu

Ibu, Aku Juga Anakmu
Bab 40. Kepergian Awan


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 40


Senja terbangun dari tidurnya yang sekejap. Dia terbangun saat mendengar bunyi denting keras dan melihat monitor alat deteksi detak jantung milik Awan bergaris lurus.


"Tidak. Tidak, Awan. Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku tidak mau ditinggal oleh kamu juga." Senja menangis histeris sambil memeluk tubuh suaminya. Tatapannya mengarah kepada lelaki yang sudah bersama dengannya sejak mereka masih remaja.


"Kenapa kamu tega meninggalkan aku? Bawa aku juga bersama dengan kamu." 


Senja pun jatuh pingsan masih dalam memeluk tubuh suaminya.


Perawat yang ke luar ruangan itu sebentar, dibuat terkejut oleh suara teriakan Senja. Begitu dia masuk ke dalam ruangan itu, terlihat kalau jangung pasien sudah tidak terdeteksi detakkannya dan juga istri pasien tidak sadarkan diri. Dia pun menekan tombol darurat untuk memanggil dokter dan perawat lainnya.


Beberapa saat kemudian, dokter yang bertanggung jawab menangani Awan datang. Dia memeriksa beberapa organ milik pasien. Namun, semua sudah tidak ada yang menunjukkan aktivitas kerja organ itu.


"Pukul 13:30:30 pasien bernama Awan telah menghembuskan napas terakhirnya," ucap Dokter itu dengan mata yang berkaca-kaca. Dia teringat dengan pesan pasien saat dia datang ke ruang UGD tadi.


'Dokter tolong selamatkan saja putriku. Dia juga terluka. Aku mohon, selamatkan dia dahulu!'

__ADS_1


Itu adalah ucapan Awan yang dia dengar di sela rintihan rasa sakitnya. Dia yakin kalau laki-laki ini sangat sayang kepada putrinya. Di saat dia merasakan kesakitan, masih mengingat keadaan putrinya. Serta, meminta untuk menolong orang yang berharga baginya.


'Tuan, aku tidak tahu siapa Anda sebenarnya. Tetapi, Anda sudah mengajarkan kepada saya, pengorbanan seorang Ayah, yang lebih mementingkan keadaan putrinya agar bisa tetap hidup. Terima kasih, Tuan.' (Pak Dokter)


Senja yang pingsan dibaringkan di atas brankar di ruang lainnya. Pak RT dan beberapa warga yang datang lebih awal tadi untuk mencari informasi, kini mereka disibukan dengan mengurus biaya administrasi rumah sakit.


Sementara itu, di kamar rawat Pelangi, Lembayung dan Embun menangis histeris setelah Bu RT memberi tahu kalau Awan sudah meninggal. Mereka belum bisa menerima kenyataan ini.


Pelangi juga hanya bisa menangis tanpa suara. Dia ingin berteriak mengeluarkan rasa sakit di dadanya. Orang yang selalu memberikan mendukungan di setiap hal, apa yang ingin dilakukan oleh dirinya, kini telah tiada. Dia juga rasanya ingin berlari ke tempat bapaknya berada sekarang, tetapi tidak bisa menggerakkan badannya sama sekali. Semua terasa sakit. Mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala.


***


Lembayung dan Embun pergi mendatangi ruang rawat bapaknya tadi. Lembayung merasa penyesalan yang sangat besar. Dia belum sempat menemui bapaknya karena mendatangi ruang milik Pelangi terlebih dahulu.


"Bapak … bukannya Bapak ingin melihat kita semua menjadi orang yang sukses dan hidup bahagia. Kita semua baru saja mulai menapaki jalan itu. Lalu, kenapa Bapak malah pergi terlebih dahulu," kata Embun yang kini memeluk lengan laki-laki yang dulu sering menggendong dirinya.


Suara isak tangis keluarga Awan saling bersahutan. Bertambah ramai ketika Senja sudah sadar dan dia tidak terima dengan kematian suaminya.


"Pak RT aku ingin kecelakaan ini di usut dan pelaku itu diberi hukuman yang seberat-beratnya. Aku ingin melaporkan hal ini kepada polisi," ucap Senja dengan menahan kesakitan dalam hatinya.


"Itu sudah kami lakukan, Bu Senja. Sudah ada orang yang mengurus itu. Mereka membantu para polisi olah TKP. Juga banyak saksi mata di sana saat terjadinya kecelakaan," balas Pak RT.

__ADS_1


Polisi tadi langsung datang ke lokasi kejadian, tidak lama setelah kecelakaan itu terjadi. Banyaknya saksi mata yang menyatakan kesalahan ada di pihak orang yang menabrak Awan dan Pelangi. Orang itu sudah melanggar arah laju kendaraan, menggemudikan motor dengan laju yang sangat kencang.


***


Jenazah Awan pun dibawa pulang ke rumah. Hanya Pelangi seorang diri di rumah sakit. Dia merasa sedih, terluka hatinya, dan kesepian. Selain itu, dia juga tidak bisa apa-apa. Disinilah dia banyak merenung. Banyaknya kejadian yang menimpanya secara bertubi-tubi dalam satu hari ini membuat dia semakin kuat dan ingin mandiri. Seperti sekarang ini, dia sendirian. Tidak ada orang lain yang berada di sampingnya.


'Ya, benar. Aku harus mandiri mulai sekarang. Jangan terlalu berharap kepada orang lain. Lebih baik sekuat tenaga dengan kekuatan dan kemampuan sendiri.' (Pelangi)


***


Apakah kehidupan Pelangi akan mengalami banyak perubahan? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya aku yang lainnya.


Blurb:


Allura, seorang karyawan di perusahaan milik Xavier. Akibat dari sebuah insiden ciuman tidak sengaja dengan sang atasan, dia dipaksa menikah dengannya. Tentu saja hal ini disambut gembira oleh Allura yang sudah jatuh cinta pada Xavier sejak dulu. Tanpa dia tahu kalau laki-laki itu adalah seorang vampir.


Xavier menikahi Allura karena darah langka yang dimiliki oleh wanita itu. Darah yang bisa menyembuhkan sebuah luka parah dan menambah kekuatan pada tubuh. Dia membutuhkan Allura untuk bisa melawan dan menghabisi kelompok musuhnya, Vampir Shadow.


Bagaimana reaksi Allura saat tahu bahwa dia hanya dimanfaatkan oleh Xavier karena butuh darahnya?

__ADS_1


Akankah dia bertahan atau pergi saat tahu kalau suaminya itu adalah seorang vampir?



__ADS_2