Ibu, Aku Juga Anakmu

Ibu, Aku Juga Anakmu
Bab 42. Setitik Cahaya


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 42


Terlihat jelas sekali kalau Tama saat ini begitu mengkhawatirkan keadaan Pelangi. Pemuda itu tahu jika sang kekasih mengalami banyak luka di sekujur tubuhnya.


"Pelangi apa ada yang sakit? Mau aku panggilkan dokter?" tanya Tama dengan penuh perhatian.


Pelangi hanya menggelengkan kepalanya. Dia belum memberi tahu kalau saat ini sudah tidak bisa bicara.


Tama pun hanya tersenyum lembut. Dia ingin membuat pujaan hatinya itu merasa tenang dengan kehadirannya di sana.


"Mami, panggilkan dokter dulu untuk memeriksa keadaanmu, ya, Sayang!" Anandita pun menekan tombol panggilan untuk perawat dan dokter.


Tidak lama kemudian muncul seorang dokter dan diikuti oleh seorang perawat. Mereka datang dengan berlari tergopoh-gopoh. Takut kejadian hal serupa seperti tadi. Setelah apa yang terjadi pada Awan.


Dokter dan perawat itu pun langsung melakukan pengecekan terhadap kondisi tubuh Pelangi. Untungnya semua organ vital bekerja dengan baik.

__ADS_1


"Kami takut terjadi seperti Pak Awan. Tapi untunglah kondisi tubuh Pelangi tidak dalam keadaan kritis. Paling suaranya tidak keluar akibat dari shock atas kejadian kecelakaan itu. Semoga saja dia secepatnya bisa bicara lagi," jelas laki-laki yang memakai jas berwarna putih.


"Apa maksud dokter barusan? Apa Pelangi sekarang tidak bisa bicara?" tanya Tama dengan tatapan getir sekaligus terkejut.


"Iya. Saat ini Nona Pelangi tidak bisa bicara. Namun, hal itu bisa diobati dengan pengobatan yang tepat," jawab dokter yang sudah memeriksanya.


Bagaikan tersambar petir, Tama mengasihani hidup Pelangi yang selalu saja dalam kesedihan dan penderitaan. Dia tidak tahu harus bicara apa, yang jelas dia ingin selalu menjadi kekuatan bagi gadis itu selama hidupnya.


'Jadi yang dikatakan oleh Lembayung itu beneran. Bukan bohongan.' (Tama)


Tama mengenal diri Lembayung yang suka usil dan bercanda. Tadi menganggap obrolannya itu bohongan, karena suka menjahili dirinya agar panik. Ternyata dia tadi sedang serius.


Anindita pun menggenggam sebelah tangan Pelangi yang lainnya dengan lembut. Dia ingin memberikan kekuatan pada gadis itu, kalau dirinya akan selalu berada di sisinya.


"Pelangi, kamu jangan bersedih. Aku dan Mami akan selalu berada di sisimu dan menjagamu," ucap Tama dan Pelangi pun menangis sambil menganggukkan kepalanya.


'Syukurlah, Kak Tama dan Mami masih menyayangi dan menerima aku apa adanya.' (Pelangi)


"Itu benar. Selamanya Mama tidak akan pernah membuang dirimu. Hanya karena kekuranganmu yang satu ini. Lagian ini juga habis masih bisa diobati," lanjut Anindita.

__ADS_1


Pelangi pun tersenyum bahagia, lalu dia mengambil kedua tangan orang itu dan menciumnya satu persatu. Sebagai tanda ucapan terima kasih. Ternyata masih ada titik cahaya dalam hidupnya.


***


Senja, Embun, dan Lembayung, ketiganya kini sedang menatap gundukan tanah merah. Tempat di mana Awan sudah dikebumikan. Tangis pilu masih membasahi pipi mereka. Pada pelayat sudah banyak yang pulang dan hanya tinggal beberapa orang saja yang masih bertahan di sana.


"Bu Senja, aku berharap Ibu bisa kuat dan berlapang dada menerima takdir ini," kata Bu RT sambil memeluk tubuh wanita beranak tiga itu.


"Terima kasih, Bu RT. Bagaimanapun juga aku sekarang harus menjadi orang yang lebih kuat lagi, seperti keinginan Awan," balas Senja yang kini matanya sudah bengkak.


Embun dan Lembayung hanya diam mematung sambil mengusap pipi yang basah oleh air mata mereka. Kedua gadis itu masih belum bisa menerima kenyataan ini.


'Ini semua tidak akan terjadi jika bapak tidak pergi mengantarkan handphone milik Kak Embun.' (Lembayung)


'Bukan salah aku atas segala hal yang sudah menimpa kepada bapak dan Pelangi, hari ini.' (Embun)


'Bapak, aku akan mewujudkan impian milik kamu untuk keluarga kita.' (Senja)


***

__ADS_1


Bagaimana kisah kehidupan di rumah Pelangi setelah tidak adanya awan? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2