
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 18
Pelangi melanjutkan lagi kegiatan PASKIBRA saat di SMA. Selain itu, dia juga aktif di PRAMUKA. Semakin hitam saja kulit muka Pelangi. Tentunya itu membuatnya semakin terlihat kusam.
"Pelangi, kamu ini anak gadis. Harus bisa merawat diri sendiri," ucap Senja saat melihat muka Pelangi menghitam lagi.
"Bu, saat ini aku sedang banyak aktivitas di luar dan panas-panasan dibawah sinar matahari langsung. Jadi, wajar kalau muka aku hitam lagi. Aku masih sering pakai pencuci wajah dan pelembab, kok," balas Pelangi.
"Lagian kenapa juga kamu ikutan kegiatan seperti itu? Lebih baik ikut kegiatan yang menambah ilmu kamu," lanjut Senja.
'Kegiatan ini juga 'kan banyak menambah pengalaman, teman, dan kedisiplinan.'
Pelangi memilih diam daripada berseteru dengan ibunya. Dia juga kini memakai handbody yang melindungi dan mencerahkan kulitnya. Meski begitu, masih tetap saja kulitnya menjadi hitam. Dia selalu kebagian menjadi pasukan pengibar bendera di acara hari kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan dari kegiatannya ini dia juga bisa dapat uang.
***
Sesuai janji, Tama dan mami-nya datang ke rumah orang tua Pelangi. Saat itu hari Sabtu dan bertepatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia.
Tama dan ibunya ikut melihat kegiatan upacara bendera yang di adakan di alun-alun kecamatan. Mereka mencari keberadaan Pelangi yang akan membawa bendera merah putih.
"Mami, lihat! Itu Pelangi yang membawa bendera," kata Tama sambil merekam kegiatan pengibaran bendera merah putih.
Tama merasa bangga melihat gadis yang terlihat semakin dewasa. Selama merekam kegiatan itu, dia terus tersenyum senang.
"Sudah mingkem! Jangan terus tersenyum," kata mami usil.
"Apaan, sih, Mami! Ganggu kesenangan orang lain saja," balas Tama.
__ADS_1
Bagi Pelangi melakukan pengibaran bendera itu bukan hal aneh. Ini sudah menjadi kegiatannya selama 3 tahun terakhir. Postur tubuh yang tinggi dan tegap membuat dirinya selalu ditunjuk sebagai pasukan pengibar bendera.
***
"Pelangi!" panggil Tama dengan senyum tampannya.
"Kak Tama!" Pelangi melambaikan tangan karena dia masih bersama kerumunan teman-temannya.
Tama pun mengambil video saat Pelangi sedang bersenda gurau bersama rekan paskibra. Terlihat jelas tawa lepas yang diukir oleh bibir gadis bersurai hitam dan kini dipotong pendek.
Kedua orang tua pelangi juga ikut hadir di sana. Kebetulan mereka duluan yang melihat Tama dan menghampirinya.
"Nak Tama?" Awan memanggil pemuda berbaju kemeja warna maroon.
"Bapak," balas Tama dan bersalaman dengannya.
"Ibu, apa kabar?" Kali ini Tama menyalami Senja.
"Kamu sendiri, bagaimana keadaannya?" lanjutnya lagi.
"Baik juga, Pak." Tama tersenyum sopan.
"Ini siapa?" tanya Senja pada wanita cantik dan anggun.
"Kenalkan, ini Maminya Tama. Namanya Anindia," jawab Tama dan mereka pun bersalaman.
"Senang bisa bertemu dengan Anda, Bu," ucap Senja.
"Saya juga senang bisa bertemu dengan kedua orang tua Pelangi," balas Anindia dengan ramah.
Ketiga orang tua itu pun berbincang basa-basi. Sementara itu, Tama melanjutkan merekam Pelangi yang sedang tertawa lepas bersama teman-temannya. Mereka merayakan keberhasilan pengibaran bendera hari ini. Terlihat wajah-wajah bahagia dan terdengar tawa ceria dari anak-anak remaja berseragam putih-putih.
__ADS_1
"Sebaiknya kita bicara di rumah. Di sana lebih nyaman dibandingkan di sini," ajak Senja.
***
Lewat tengah hari Pelangi baru bisa pulang dan jalan kaki bersama dengan Tama. Maminya Tama di ajak bersama Awan dan Senja naik angkot untuk pulang duluan ke rumah.
"Kamu semakin cantik dan terlihat dewasa," kata Tama yang kini sedang berjalan kaki sambil menggandeng tangan Pelangi.
Hati Pelangi terasa hangat dan jantungnya tiba-tiba saja berdebar dengan cepat. Pujian dari laki-laki itu malah membuat Pelangi malu, tetapi melambungkan perasaannya.
"Bukannya aku kelihatan dekil karena kulit aku menghitam?" Pelangi melirik ke arah pemuda yang sejak tadi terus melihat ke arahnya.
"Kata siapa? Kamu itu semakin cantik memesona degan warna kulit yang eksotis," ujar Tama.
"Kata orang-orang," balas Pelangi sambil tersenyum jahil.
Tama tertawa dan mengacak-acak rambut Pelangi karena gemas melihat wajahnya. Tentu saja ini membuat pelangi berteriak kesal.
"Berarti yang mengatakan itu harus pakai kacamata. Biar bisa melihat dengan jelas kecantikan yang dipancarkan oleh paras kamu," ucap Tama dan mendapat sambutan tawa dari Pelangi.
Saat keduanya berjalan sambil asyik berbicara segala hal, sayup-sayup terdengar seseorang memanggil. Maka, Pelangi dan Tama membalikan badan mereka dan melihat ke arah belakang.
"Kak Tama!" panggilnya lagi.
***
Kayaknya kalian sudah bisa menebak siapa itu 😁. Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru. Masih baru lagi anget-angetnya. Cus meluncur ke novelnya.
__ADS_1