Ibu, Aku Juga Anakmu

Ibu, Aku Juga Anakmu
Bab 57. Kepulangan Embun


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 57


Senja memperhatikan Pelangi yang sedang membantu membuat adonan untuk kue ulang tahun pesanan. Wanita paruh baya itu melihat putrinya sedang berbahagia. Hal ini terlihat jelas dari sorot matanya dan sesekali senyuman terukir di wajahnya.


"Apa kamu sudah menemui Tama?" tanya Senja pada Pelangi.


Pertanyaan dari ibunya barusan membuat Pelangi terdiam. Dia menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengaduk adonan. Kini perhatiannya terarah kepada sang ibu.


"Kenapa Ibu punya pikiran seperti itu? Pelangi balik bertanya.


"Perasaan seorang ibu itu peka terhadap anaknya. Dan ibu merasa kalau kamu sedang menjalin hubungan dengan Tama," jawab Senja.


Jantung Pelangi serasa berhenti berdetak. Dia takut hubungan dengan Tama diketahui oleh ibunya dan diminta untuk memutuskan hubungan itu.


"Ingat apa pesan bapakmu dulu. Kalian semua tidak boleh berpacaran selama sekolah," lanjut Senja dengan tatapan masih mengarah kepada putri keduanya.


Pelangi tahu akan perkataan ayahnya ini. Namun, perasaan dia tidak bisa dipungkiri. Dan gadis itu juga tidak melakukan hal-hal yang melanggar norma. Dirinya tahu batasan apa yang bisa dia lakukan dan tidak boleh dilakukan.


Senja tahu kalau saat ini Pelangi sedang menjalin hubungan dengan Tama. Dia tidak tahu saya jauh mana hubungan mereka berdua. Namun ada perasaan takut terselip dalam hatinya jika Pelangi dan Tama sudah banyak hubungan yang sangat jauh.


"Jangan sampai kamu menghancurkan masa depan kamu sendiri," ucap Senja.


Pelangi merasa sesak dadanya mendengar perkataan ini. Ini menunjukkan kalau sang ibu tidak mempercayai dirinya.


"Aku tahu apa yang harus aku lakukan dan aku tidak mau merusak masa depanku sendiri," balas Pelangi dengan suara yang bergetar.


Sebisa mungkin dia menahan air matanya jangan sampai jatuh. Dia ini menunjukkan kepada ibunya kalau hubungan dia dengan Tama itu murni dan tulus, bukan untuk bersenang-senang saja.


Setelah selesai membantu membuat bolu pesanan, Pelangi pun bergegas pergi ke kamarnya. Dia merasa tidak nyaman pada ibunya.


***


Begitu Pelangi masuk kamar dia melihat kebayang sedang menelepon seseorang. Ternyata orang yang dihubungi olehnya itu adalah Tama.


"Kak Tama, tahu tidak kalau kau pelangi hari ini sudah bertemu dengan seorang cowok."


^^^"Benarkah itu?"^^^


Lembayung melirik ke arah Pelangi sambil tersenyum licik. Dia akan memanasi kedua sejoli ini.

__ADS_1


"Iya dia tadi pulang sambil tersenyum-senyum dan bernyanyi riang. Sudah jelas dia bertemu dengan seorang laki-laki. Apalagi Kak Pelangi berdandan cantik dengan memakai baju yang bagus."


^^^"Apa? Mana Pelanginya? Mau kakak omeli!"^^^


Senyum puas terukir di wajah Lembayung. Dia ingin melihat reaksi kakaknya saat dimarahi oleh laki-laki yang disukainya.


"Kak Tama marah, loh, Kak!" Lembayung menyerahkan handphone miliknya pada Pelangi sambil tertawa cekikikan.


Perempuan itu pun menerima benda berbentuk pipih panjang itu dengan senang hati. Jantung Pelangi terasa deg-degan saat ini.


"Halo."


^^^"Sayang, aku kangen! Padahal baru saja berpisah beberapa jam yang lalu,"^^^


"Iya, benar. Aku juga sama."


Pelangi bicara dengan pelan sambil lirik ke arah Lembayung yang masih memperhatikan dirinya. Pelangi menduga kalau sang adik saat ini berpikir dirinya sedang dimarahi oleh Tama. Terlihat senyum jahil masih menghiasi wajahnya.


^^^"Apa Ibu memarahi kamu?"^^^


"Tidak. Hanya saja …."


Tama atau maksud ucapan dari Pelangi. Maka dia pun mau minta maaf dan menghiburnya.


"Terima kasih Kak Tama untuk pengertiannya."


^^^"Sama-sama, Sayang. Aku Baru saja sampai ke rumah dan langsung tertawa mau baca pesan dari Lembayung. Makanya aku cepat-cepat menelepon dia ini modus agar aku bisa bicara dengan kamu lagi.^^^


Pelangi pun bisa tertawa dan hilang kesedihan di hatinya. Mereka mengakhiri pembicaraan karena Lembayung mulai melotot ke arahnya.


"Gimana kak Tama marah, 'kan?" tanya Lembayung sambil menyeringai.


Pelangi pun membalas hanya dengan menyeringai. Lalu, dia pun segera pergi tidur karena besok harus masuk sekolah.


"Pasti kena marah." Lembayung pun ikut tidur.


***


Hari ujian semester pun tiba, Pelangi dan Lembayung menyembuhkan diri dengan belajar. Untuk sementara waktu pesanan lewat online dihentikan. Senja hanya menerima pesanan orang yang datang ke rumahnya.


Saat itu ada Embun pulang ke rumah. Tentu saja membuat keadaan menjadi ramai kembali.


"Aku pulang ke rumah untuk liburan dan menenangkan diri. Kenapa semua pekerjaan rumah ditembakkan kepada aku? Ini tidak adil!" ucap Embun yang disuruh oleh Senja untuk membersihkan rumah, karena dia sedang sibuk membuat pesanan Bu RT untuk acara arisan dan kue ulang tahun untuk anaknya ibu Ella.

__ADS_1


"Kali-kali, Kak. Kan, tidak setiap hari Kakak disuruh membersihkan rumah oleh ibu," balas Lembayung dalam hatinya dia bersorak gembira.


"Kamu juga bantu, dong! Tu, sapu halaman depan dan siram tanaman," ujar Embun sambil bertolak pinggang di depan Lembayung yang sedang mengerjakan soal-soal.


"Aku sedang sibuk belajar!" balas Lembayung menggunakan kata-kata yang dulu sering diucapkan oleh Embun kepadanya. 


Dalam hati gadis itu kembali bersorak. Betapa puasnya hati dia saat bisa mengembalikan kata-kata yang dulu sering diucapkan oleh Embun ketika dimintai tolong untuk membantu pekerjaan rumah.


'Rasakan!' (Lembayung)


Pelangi yang baru masuk ke rumah setelah mengantarkan pesanan ke tetangga, langsung disodorkan sapu oleh Embun. Dia hanya planga plongo tidak mengerti kenapa begitu masuk ke rumah langsung dikasih sapu.


"Ini apa maksudnya, Kak?" tanya Pelangi.


"Ya, tentu saja kamu sapu-sapu," jawab Embun.


Pelangi pun mengerti saat Lembayung menggeleng dari arah belakang Embun. Maka dia pun menarik kembali tangan kakaknya itu dan memberikan sapu itu ke genggaman tangannya.


"Kakak saja yang menyapu, aku masih banyak pekerjaan lainnya," balas Pelangi. 


Lalu dia pergi ke belakang dan mencuci wadah bekas membuat adonan kue tadi. Terlihat jelas wajah Embun yang kesal.


Selamat Embun liburan di rumah ada saja yang membuat dia bertegang dengan kedua adiknya itu. Kebanyakan karena dia tidak mau banyak mengerjakan pekerjaan rumah. Dia maunya mencuci saja, padahal itu cuma dimasukkan ke dalam mesin cuci.


"Hari ujian sudah selesai. Kenapa kalian masih tidak mau membantu aku dalam mengerjakan pekerjaan rumah?" Embun bersungut-sungut di depan kedua adiknya yang sedang membantu senja membuat pesanan.


"Apakah kakak tidak lihat, kalau kami semua sedang sibuk membuat dagangan!" kata Pelangi dengan kesal.


"Setidaknya salah seorang dari kalian membantu aku," balas Embun.


"Gini saja, deh. Aku kerjakan semua pekerjaan rumah, tapi Kakak bantu Ibu buat pesanan semua ini sampai selesai. Bagaimana? Mau tidak?" tantang Lembayung.


Embun tahu kalau mereka semua bekerja sampai larut malam. Tentu saja dia tidak mau. Apalagi dia tidak bisa membuat makanan itu. 


"Kakak pekerjaan membereskan rumah itu tidak banyak hanya menyapu mengepel. Bahkan mencuci piring pun Pelangi yang lakukan," ucap Senja.


***


Akhirnya, rumah pun kembali ramai setelah kedatangan Embun. Memang Embun bawa suasana ramai di manapun di berada 😆. Bagaimana kegaduhan mereka saat bersama? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya aku ini. Lumayan nggak bikin spaneng 🤭. Ning Annisa dikasih cover baru sama NT 😒


__ADS_1


__ADS_2