
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
Bab 66
Saat terjadi perdebatan kecil di waktu sarapan, terdengar suara bel pintu depan. Selain itu ada seorang yang memanggil namanya.
"Pelangi!" Suara dari arah depan rumah.
"Tuh, ada tamu!" ucap Senja. Dia meminta Pelangi melihat siapa tamu yang datang ke rumah pagi-pagi sekali.
"Siapa, Kak?" tanya Lembayung.
"Tidak tahu. Perasaan kakak tidak pernah buat janji untuk datang pagi-pagi," jawab Pelangi.
"Dasar tamu tidak tahu diri. Pagi-pagi sudah datang ke rumah orang lain. Tidak punya etika," cerocos Embun merasa punya peluang untuk membuat hinaan pada Pelangi. Hal seperti ini yang selalu dia nanti-nanti.
Pelangi pun berjalan ke depan rumah dan untuk melihat siapa tamu yang datang untuk menemuinya. Berapa terkejutnya Pelangi saat melihat orang yang bertamu pagi-pagi kepadanya.
"Hai." Senyum lebar yang sudah satu bulan tidak dia lihat kini bisa dia lihat kembali.
"Kak Tama." Pelangi menghamburkan dirinya pada pelukan sang pujaan hati.
"Bagaimana kabar kamu?" tanya Tama sambil berbisik.
__ADS_1
"Buruk. Aku sangat rindu sama Kakak, tapi tidak bisa menelepon atau bertemu langsung," adu Pelangi masih dalam pelukan Tama.
"Aku juga sangat merindukan kamu," bisik Tama dan mencium kening Pelangi dengan pelan.
"Tunggu, Kak. Nanti ibu lihat. Bisa marah dia," kata Pelangi sambil mendorong tubuh Tama.
Keduanya kini berdiri saling berhadapan dan tidak lama kemudian datang Senja ke sana. Begitu juga dengan Anindita datang ke sana.
"Pelangi, kamu belum berangkat ke sekolah?" tanya Anindita.
"Belum. Mami dan Kak Tama, datang pagi-pagi ke sini ada apa?" tanya Pelangi.
"Tuh, apa kata mami, mereka belum berangkat sekolah," gerutu Anindita pada Tama.
"Siapa, Bu? Kok, tidak di ajak masuk," tanya Embun muncul dari dalam rumah.
Mata Embun langsung membulat melihat ada laki-laki yang sudah mencuri hatinya, kini ada di depan mata. Sedetik kemudian senyum manis langsung terukir indah.
"Kak Tama!"
Embun langsung berlari dan hendak memeluk tubuh pemuda itu. Namun, dengan cepat tangan Tama menarik tubuh Pelangi, sehingga Embun memeluk adiknya itu dari belakang.
Tama tersenyum miring. Dia merasa puas saat melihat wajah kecut Embun yang gagal memeluk tubuhnya dan malah memeluk Pelangi.
__ADS_1
"Aku ke sini ada perlu dengan Bu Senja," kata Anindita.
Senja merasa terkejut mendengar maksud kedatangan tamunya ke rumah itu untuk menemuinya. Dia menyangka kalau kedatangan Anindita dan Tama ke sana mau menemui Pelangi.
"Ada apa, ya?" tanya Senja penasaran.
"Itu, sebaiknya kita bicara di luar. Biar tidak ada yang mengganggu," kata Anindita. Mata wanita paruh baya ini melirik sekilas ke arah Embun.
"Tapi, saya tidak bisa lama-lama pergi ke luar. karena mau buat pesanan orang-orang," ucap ibu tiga anak itu.
"Kalau begitu sebaiknya kita pergi sekarang saja!" ajak Anindita pada Senja.
"Aku ikut," sahut Embun.
"Maaf, ini pembicaraan penting antara aku dan ibu kamu," balas Anindita.
Embun memasang muka masam. Dia sangat kesal karena tidak diajak.
"Selagi Ibu pergi dengan Mami, Kak Embun lebih baik buat kue pesanan," celetuk Lembayung sambil menyeringai dan mendapatkan tatapan tajam dari Embun.
Pelangi dan Tama tertawa dalam hati. Kedua orang itu suka saat melihat Lembayung memberikan tugas agar mau bekerja.
***
__ADS_1
Kira-kira apa yang mau dibicarakan oleh Anindita kepada Senja? Tunggu kelanjutannya, ya!