
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 48
Waktu terus berlalu, kini usia Embun sudah 4 tahun dan Pelangi menginjak 2 tahun. Serta Lembayung berusia 12 tahun dan duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar. Kehidupan keluarga Awan kembali berjalan normal meski kadang suara tangisan Embun dan Pelangi menghiasi rumah sederhana itu.
Embun menjadi anak yang tidak suka mengalah dan berbagi ke pada adiknya. Semua keinginan dia selalu dipenuhi oleh Senja.Â
"Ini punya aku!" Embun menarik boneka kelinci yang sedang di pegang oleh Pelangi dan membuat sang adik menangis keras.
"Pinjam sebentar, ya," kata Lembayung mencoba merayu Embun.
"Tidak mau. Ini punya aku, ini punya aku juga. Ini juga." Hampir semua mainan yang ada di lantai dibawa oleh Embun, bahkan kedua tangan kecilnya itu tidak kuat membawa banyaknya mainan itu.Â
Embun sudah cerdas dari sejak kecil, dia masuk ke dalam rumah dan membawa satu kotak dus kertas. Lalu, dia pun memasukan semua mainan milik dia ke dalam kotak dus itu. Bahkan hampir tidak tertampung mainan itu di dalam wadah. Setelah itu, dia pun mendorong membawa ke dalam rumah. Tenaga dia tidak akan mampu menggotong kotak dus itu. Dia pun menyembunyikan mainan itu di dalam kamar yang sering di tempati oleh Kakek dan Nenek Dewi.
"Ih, dasar. Masih bocah tapi pelitnya nggak ketulungan," geram Lembayung.
Pelangi yang masih menangis diajak main ayunan oleh Lembayung. Nenek Dewi yang melihat itu semua merasa kasihan kepada Pelangi yang tidak punya mainan karena setiap Awan dan Senja membeli mainan, pasti akan di hak milik oleh Embun.
Di saat itu ada tukang mainan lewat depan rumah. Nenek Dewi pun menghentikannya, lalu menyuruh Pelangi memilih main apa yang dia mau. Ternyata bocah balita itu memilih bola yang warnanya seperti pelangi.
"Ayo, kita main bola!" seru Lembayung pada Pelangi dan mereka main bola di halaman.Â
__ADS_1
Suara tawa riang gembira di depan rumah, memancing Embun untuk ikut main. Mereka pun bermain bertiga sampai sore hari.
"Ayo, kalian semua mandi!" teriak Senja dari arah pintu dapur.
"Yuk, kita sudahan mainnya. Besok lagi," ujar Lembayung.
"Tidak mau. Embun masih mau bermain!" bentak Embun sambil memasang wajah cemberut.Â
"Aku dan Pelangi mau mandi bersama. I-ya 'kan, Pelangi?" Lembayung membawa bola untuk disimpan.Â
Akan tetapi tangan Embun dengan kuat nepis bola itu dan menggelinding ke luar pagar rumah. Lembayung yang sangat kesal pada Embun, membiarkan bocah itu. Dia pun berlari ke arah luar pagar untuk mengambil bola. Namun, siapa sangka begitu Lembayung berlari ke luar di jalan ad kendaraan bermotor yang kebetulan sedang lewat dan menabrak Lembayung. Sayangnya, gadis yang baru beranjak remaja itu jatuh dan kepalanya menghantam ujung trotoar dan dia tidak sadarkan diri. Kejadian itu disaksikan banyak orang. Ada yang menyalahkan Lembayung yang tiba-tiba lari dan tidak lihat kanan kiri jalan. Ada juga yang menyalahkan pengendara motor yang tidak melakukan rem mendadak atau membelokan motornya sedikit.
Senja kembali harus kehilangan saudara satu-satunya. Atas ke saksikan Embun (sampai sekarang hanya dia seorang diri yang tahu kejadiannya seperti apa), Senja pun marah terhadap Pelangi. Gara-gara anak bungsunya itu melemparkan bola ke luar pagar, adiknya menjadi korban. Rasa benci Senja kepada Pelangi tidak bisa disembunyikan. Dia selalu secara terang-terangan tidak mau mengurus anak keduanya itu. Apalagi kehamilan dia yang sudah besar sering membuatnya kecapean.Â
Awan juga sering membawa Pelangi sambil berdagang jika Senja sedang mengalami stress. Namun, jika tidak dia akan mengurus Pelangi seperti biasanya. Sampai putri mereka lahir beberapa bulan kemudian. Mereka menamai putri ketiga dengan nama Lembayung. Kehadiran Lembayung menjadi penyembuh bagi Senja. Dia lebih bisa mengontrol emosi dan perbuatannya. Meski begitu dia selalu mengabulkan semua keinginan Embun. Mendidik Pelangi dengan tegas, dan memanjakan Lembayung.
Senja tahu sifat dan karakter ketiga putrinya sejak mereka masih kecil. Hanya Pelangi yang mau disuruh tanpa membantah dan juga orangnya cekatan dalam bekerja. Berbeda dengan Embun yang selalu punya seribu alasan untuk menolak perintah ibunya. Sementara itu, Lembayung yang punya fisik lemah, hasil kerjanya tidak sesuai yang diharapkan.
Flashback off.
***
Anindita meneteskan air mata mendengarkan kisah Pelangi yang sejak dalam kandungan sudah mendapatkan perlakuan tidak adil dari ibu kandungnya sendiri. Dia terus mengusap air matanya sepanjang Tama bercerita.
Sebenarnya Pelangi mendengar sebagian kisah itu karena terjaga oleh suara tangisan Anindita. Dia juga merasa sakit hati mendengarnya. Kalau bisa memilih, dia pasti ingin terlahir dari wanita yang baik dan tidak punya masa lalu yang kelam sehingga mengalami stress dan depresi seperti Senja.
__ADS_1
***
Pelangi mendengarkan kisah-kisah lucu yang sedang diceritakan oleh Tama. Hati dan pikiran Pelangi pun terasa ringan. Mereka menghabiskan pagi hari sambil berjemur di depan jendela kamar ruang rawat inap itu.
"Tama, kamu pulanglah, ibu yang akan menunggu Pelangi di sini," kata Anindita karena putranya harus masuk kerja.
"Kenapa ibu malah mengingatkan aku akan pekerjaan yang menumpuk, sih!" Tama mengguarkan rambutnya.
Pelangi hanya tersenyum dan memberi kode untuk mendekat kepadanya. Lalu, dia memeluk tubuh pemuda itu dan berharap kalau sang kekasih pulang dulu.
"Baiklah, tapi hari Sabtu dan Minggu aku akan ke sini," kata Tama menyerah dan Pelangi pun tersenyum sambil mengangguk.
"Mami, sudah menemukan rumah kontrakan yang lumayan dekat ke rumah Pelangi. Tidak terlalu jauh, sekitar dua kilometer," ucap Anindita.
"Mami, tahu aja apa yang aku mau," kata Tama sambil memeluk tubuh ibunya.
"Tapi, jangan sampai Embun tahu rumah itu," kata wanita paruh baya itu lagi.
"Ih, siapa lagi yang mau dekat-dekat dengan dia. Aku sudah mendapat restu dari Kakek Indra. Tinggal menunggu Pelangi, lulus sekolah," balas sang anak.
Pipi Pelangi merona dan jantungnya berdebar dengan kencang. Dia tidak menyangka kalau kakeknya itu sudah memberikan restu pada hubungan mereka. Gadis itu juga sangat menantikan hari di mana dia akan dipinang oleh kekasih pujaan hatinya.
***
Bagaimana kelanjutan kisah Pelangi yang selalu diterpa badai? Apa jadinya jika Embun tahu kalau Tama dan Maminya selalu menjaga dan mengurus Pelangi di rumah sakit? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1