Ibu, Aku Juga Anakmu

Ibu, Aku Juga Anakmu
Bab 11. Suka


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 11


Pelangi menjalani hari-harinya dengan banyak belajar untukย  mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional. Dia berangkat sekolah dari pagi pulang ke rumah saat hari sudah sore.


Laki-laki yang bernama nama Tama itu juga kini sering bermain ke rumahnya. Dia juga ini dekat dengan Embun dan Lembayung. Embun selalu mencari perhatian Tama, agar laki-laki itu lagi memperhatikan dirinya dibanding pada Pelangi.


Para tetangga mengira kalau Tama adalah kekasih Embun. Itu dikarenakan Senja selalu bilang saat berpapasan di jalan dengan Tama kalau Embun ada di rumah. Apalagi sekarang penampilan Embun banyak berubah.


Pelangi tidak mau membahas soal pacaran, karena hal ini sudah diwanti-wanti oleh kedua orang tuanya. Dia tidak boleh berpacaran, tetapi sepertinya hal itu tidak berlaku untuk Embun.


"Pelangi aku bawakan martabak untukmu. Agar kamu semakin bersemangat dalam belajar," kata Tama sambil menyerahkan satu kresek yang berisi martabak manis spesial kesukaan Pelangi.


"Terima kasih, Kak Tama," balas Pelangi dengan senyum yang memperlihatkan gigi gingsulnya.


"Sama-sama. Semoga nilai ujian kamu nanti bisa mendapatkan nilai sempurna," ucap Tama sambil mengusap kepala Pelangi dan mengacak-acak rambutnya.


Saat Pelangi dan Tama bersenda gurau, tiba-tiba Embun datang dan ikut nimbrung di sana. Terlihat sekali kalau Embun tidak suka melihat kedekatan mereka.


"Pelangi, belajar yang benar! Nanti nilai ujian kamu joblok, loh," ucap Embun dengan tatapan sinis.


"Kamu lanjutkan saja belajarnya, kakak mau bertemu dengan bapak dan ibu dulu," kata Tama sambil berdiri dan diikuti oleh Embun.


Belakang ini setiap malam Tama selalu berkunjung sambil membawakan cemilan untuk Pelangi. Selain itu dia juga bisa bertemu dengan Awan. Jika dia datang siang atau sore hari, maka tidak bisa bertemu dengan Pelangi dan Awan.


Rasa simpati Tama terhadap Pelangi menimbulkan perasaan sayang padanya. Kini perasaan sayang itu berkembang menjadi perasaan suka terhadap lawan jenis. Meski usia mereka terpaut cukup jauh.


Usia Pelangi saat ini 14 tahun menuju 15 tahun. Sementara itu, usia Tama 21 tahun. Pelangi memiliki postur tubuh yang jauh lebih tinggi, jika dibandingkan dengan Embun. Bahkan jika dilihat dari belakang Pelangi seperti seorang mahasiswa. Beda jika melihat wajahnya yang masih terlihat ABG polos.


Sifat Pelangi yang fleksibel dan simple membuat semua orang merasa nyaman dan senang saat berada di dekatnya. Hal ini pun dirasakan oleh Tama. Pelangi selalu bisa mengikuti pembicaraan dan jalan pikiran Tama. Sehingga dia merasa senang saat membicarakan sesuatu yang menurutnya orang lain tidak akan memahami.


Sebaliknya dengan Embun yang selalu berusaha mendekatkan dirinya kepada Tama, jika laki-laki itu datang ke rumahnya. Secara penampilan Embun jauh lebih baik daripada Pelangi. Satu hal yang tidak dia sadari yang membuat Tama kurang begitu menyukai dirinya adalah sifat berbangga diri yang terlalu berlebihan. Meski hal itu memang benar begitu adanya.


"Nak Tama, jika ada perlu apa-apa jangan sungkan untuk meminta tolong kepada kami," kata Awan yang sudah menyambut baik kehadiran Tama bertamu di rumahnya.


"Tentu saja, Pak. Jika ada apa-apa aku akan bilang sama Bapak dan Ibu," balas Tama.

__ADS_1


"Kak Tama, ini sudah malam. Sebaiknya Kakak pulang sekarang, takut nanti di jalan ada begal," ucap Lembayung dan pendapat pelototan dari Embun.


Tama pun melihat ke arah jam dinding di dekat lemari kaca yang berisikan hampir dua ratus piala. Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam.


"A-h, benar juga. Aku harus segera pamit pulang agar tidak kemalaman di jalan," ujar Tama sambil beranjak dari kursi, lalu berpamitan.


"Pelangi, kakak pulang dulu. Besok mau dibawakan makanan apa?" tanya Tama.


"Tidak perlu, Kak. Jangan setiap hari membawakan makanan. Uangnya lebih baik ditabung saja atau digunakan untuk keperluan Kakak," jawab Pelangi.


"Bawakan ayam goreng, Kak. Kak Pelangi sangat suka, tuh," lanjut Lembayung.


"Aku juga suka," tukas Embun.


"Kalian tidak boleh seperti itu!" Awan menasehati putrinya dengan nada tegas.


Begitulah Tama setiap hari berkunjung ke rumah, sambil membawa makanan yang diminta oleh Lembayung, Pelangi, atau Embun. Namun, belakangan ini Pelangi seolah menjaga jarak dari Tama. Setelah Embun bilang suka pada laki-laki itu.


***


Flashback on,


"Pelangi, apa Tama sudah punya kekasih?" tanya Embun.


"Tidak tahu, Kak," jawab Pelangi sambil mengerjakan tugasnya.


Embun pun kembali bertanya, "Apa kamu suka sama dia?"


Pelangi menghentikan gerakan tangan yang sedang menulis. Kini dia mengalihkan perhatiannya kepada Embun.


"Maksud kakak?" tanya Pelangi balik.


"Kakak suka padanya. Kamu jangan suka sama dia, ya!" jawab Embun.


Flashback off.


***


Waktu pun terus bergulir tanpa terasa. Hari ujian nasional sudah semakin dekat, tinggal dua bulan lagi. Pelangi sudah tidak punya banyak waktu untuk bersantai-santai. Selain persiapkan diri untuk ujian nasional, dia juga mencari informasi tentang sekolah menengah atas yang akan dia tuju nanti.

__ADS_1


Embun 'lah yang selalu menemani Tama saat laki-laki itu berkunjung ke rumah. Mereka menjadi semakin dekat, apalagi dia banyak bertanya tentang universitas tempat Tama menimba ilmu.


"Aku ingin kuliah di tempat favorit itu. Aku dengar banyak kelulusan dari sana menjadi orang yang sukses," kata Embun sambil terus menatap ke arah Tama.


"Ya, itu tergantung kepada orangnya masing-masing. Jika kita bekerja keras, maka peluang kita menjadi sukses lebih besar. Meski tidak kuliah di universitas ternama itu," balas Tama.


Tama agak kecewa kepada Pelangi, karena dia selalu saja sibuk dengan kegiatan belajarnya dan mengabaikan kehadiran dirinya di sana. Meski sesekali mereka bicara dan saling menyapa.


***


Masa PKL Tama di kota itu telah selesai. Dia pun berpamitan kepada keluarga Pelangi.


"Pak โ€ฆ Bu, aku pamit. Terima kasih atas semuanya selama ini. Senang bisa berkenalan dengan kalian semua di sini," ucap Tama.


"Kapan-kapan bermainlah ke sini lagi," kata Awan saat Tama mau mencium tangannya.


"Jika, aku punya waktu luang pasti akan berkunjung lagi," balas Tama.


Embun pun langsung memeluk tubuh Tama dan menangis, karena dia merasa sangat sedih akan berpisah dengan laki-laki yang disukai olehnya.


"Kakak, jangan melupakan aku," ucap Embun dan Tama menguraikan pelukan itu.


"Mana mungkin aku akan melupakan kalian semua," balas Tama.


"Kakak Tama, kapan-kapan bolehkah kami bermain ke rumah Kak Tama?" tanya Lembayung.


"Tentu saja boleh. Aku akan menantikan kehadiran kalian di sana," jawab Tama dengan senang hati.


Kini Tama berhadapan dengan Pelangi. Lalu, laki-laki itu memeluk tubuh Pelangi dengan sangat erat.


"Semoga ujiannya lancar dan kamu mendapatkan nilai tertinggi," bisik Tama.


"Terima kasih, Kak," balas Pelangi.


"Aku punya sesuatu untukmu. Paketnya besok akan datang ke sini. Gunakan barang itu sebaik mungkin," kata Tama masih berbisik.


***


Paket apa yang diberikan Tama untuk Pelangi? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2