
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 44
Tama pun kembali ke rumah sakit dan melihat Pelangi yang sedang tidur. Dia membelai pipi kekasihnya dengan sangat hati-hati. Seakan Gadis itu adalah barang pecah belah yang akan hancur jika terlalu kuat menekannya.
"Bagaimana keadaan di rumah Pelang?" tanya Anindita.
"Masih banyak dengan para pelayat dan Tama tadi sempat bicara dengan kakeknya Pelangi," jawab pemuda yang ini duduk di kursi di samping brankar.
"Bagaimana penilaian kamu terhadap kakeknya Pelangi?"
"Beliau adalah orang yang sangat baik dan ramah. Dia juga sangat menyayangi Pelangi. kakeknya sempat bercerita kenapa Pelangi selalu mendapat perlakuan berbeda dari kedua saudaranya."
Anindita sangat penasaran sekali akan cerita ini. Kenapa seorang ibu kandung tega memperlakukan anaknya dengan sangat keras seperti ini.
"Ceritakan pada mami, sekarang!"
***
flashback on
Tama melihat seorang kakek tua sedang duduk di pojok sambil menatap sebuah pigura foto. Lalu, dia pun mendekati laki-laki tua itu.
__ADS_1
"Selamat malam, Kak," sapa Tama.
"Selamat malam, Nak. Kamu siapa?"
"Kenalkan nama saya Tama, Kak. Saya adalah teman baiknya Pelangi," balas Tama sambil menjulurkan tangannya dan mencium tangan keriput itu.
"Untunglah Pelangi punya teman orang baik. Kasihan sekali anak itu," kakek itu tersenyum sambil menyeka sudut matanya yang berair.
"Kakek ini siapanya keluarga Pelangi?"
"Kakek adalah ayahnya Awan."
"Berarti Kakek adalah Kakek kandung Pelangi?" Tama terkejut sekaligus senang bisa mengenal keluarga Pelangi yang lainnya.
"Kalau boleh tau nama Kakek, siapa?" tanya Tama sambil memperhatikan laki-laki tua yang itu menyimpan pigura foto yang berisi keluarga Pelangi.
"Nama kakek adalah Indra," jawabnya.
"Kakek Indra sudah tahu keadaan Pelangi saat ini?" tanya Tama penasaran.
"Iya, kakek tahu Pelangi sedang dirawat di rumah sakit dan belum bisa dibawa pulang, karena lupa di kepalanya parah," jawab Kakek Indra.
"Tapi selain itu, Pelangi juga tidak bisa bicara untuk saat ini," lanjut pemuda yang kini sudah merasa nyaman bicara dengan Indra.
"Maksud kamu, kalau Pelangi menjadi bisu?" tanya Kakek Indra dengan wajah ekspresi sangat terkejut.
__ADS_1
"Kata dokter, itu hanya sementara dan bisa diobati," balas Tama.
"Syukurlah, kalau begitu. Kasihan sekali nasib Pelangi, jika dia sampai harus kehilangan suaranya juga." Kakek Indra menatap langit-langit ruang tamu itu dengan mata berkaca-kaca.
Entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Dia hanya diam mematung dan membisu. Hanya saja air mata Kakek Indra meleleh di bagian sudut matanya.
"Kenapa, Kek? Apa yang membuat Kakek sedih?" tanya Tama sambil menyentuh tangan yang sudah keriput itu.
"Kakek hanya teringat kisah masa lalu tentang Pelangi," jawab Kakek Indra yang kini perhatian yang terarah kepada Tama.
"Kalau boleh tahu, bagaimana kisah hidup Pelangi saat dulu sampai remaja? Karena aku baru-baru ini mengenal gadis itu." Tama menatap penuh permohonan kepada Kakek Indra.
Kakak Indra pun menetapkan penuh intens kepada pemuda yang terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan Pelangi. Dalam hatinya dia bertanya-tanya, 'Apa laki-laki di depannya ini adalah orang yang berharga bagi Pelangi?'
"Jujur pada kakek, hubungan kamu dengan Pelangi itu seperti apa?" pinta Kakek yang menggunakan kemeja batik.
"Aku suka kepada Pelangi, Kak. Dan kelak ingin menjadikan dia sebagai pendamping hidupku," aku Tama sambil berbisik seorang tidak ingin diketahui orang-orang lain.
Kakek Indra pun tersenyum senang. Dia merasa kalau Tama adalah laki-laki yang bisa menjaga dan melindungi Pelangi sebagai pengganti Awan.
"Akan Kakek ceritakan, bagaimana Senja bisa melahirkan Pelangi," lanjut Kakek Indra.
***
Bagaimana kisah Pelangi dari masa di dalam kandungan sampai anak-anak? Apa penyebab Senja memperlakukan Pelangi berbeda dengan kedua saudaranya? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1