Ibu, Aku Juga Anakmu

Ibu, Aku Juga Anakmu
Bab 19. Bertengkar


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 19


"Kak Tama!"


Pelangi dan Tama membalikan badan untuk melihat orang yang memanggil. Terlihat ada Embun dan Lembayung yang sedang berlari ke arah mereka.


Hal yang tidak terduga terjadi di sana. Embun langsung menerjang Tama, untungnya pemuda itu bisa menahan tubuhnya dan tidak jatuh.


"Senang bisa bertemu dengan Kakak kembali," kata Embun sambil memeluk tubuh Tama.


Tentu saja ini membuat Tama terkejut. Sampai-sampai dia membelalakkan mata. Lalu dia melirik ke arah Pelangi yang ekspresinya juga sama terkejut dengannya.


Tama dengan cepat melepaskan pelukan Embun. Namun, Embun seakan tidak mau melepaskan pelukannya.


"Kak Embun! Kamu ini apa-apaan?" Pelangi mendorong Embun sampai terlepas dari tubuh Tama.


"Iya, Kak Embun malu-maluin!" Lembayung juga ikut kesal melihat kelakuan kakak mereka.


Embun memasang wajah kesal karena masih ingin memeluk tubuh laki-laki yang disukainya. Rasa rindu pada Tama begitu sangat besar, sehingga dia tidak tahu malu langsung memeluk tubuhnya begitu saja.


"Sebaiknya kita berjalan lagi, rumah sudah dekat," kata Tama dan dia pun berjalan duluan.

__ADS_1


Ketiga gadis itu saling melirik dan mencebur satu sama lain. Lalu, mereka pun mengejar Tama yang sudah duluan pergi.


***


Senja menjamu Anindita, kebetulan kue pesanan untuk Bu Bidan tadi ada banyak sisanya, jadi bisa di suguhkan. Dia juga membanggakan ketiga prestasi putrinya saat sang tamu melihat lemari kaca berisi piala dan medali.


"Embun itu, murid paling cerdas di seangkatannya. Setiap lomba yang di ikuti selalu berhasil menjadi juara," kata Senja memuji putri sulungnya.


Anindita mendengarkan setiap cerita dari Senja. Dia juga suka pada anak-anak remaja yang memiliki banyak prestasi yang membanggakan dibandingkan dengan anak remaja yang menghabiskan waktu dengan hal yang sia-sia.


Tidak lama kemudian Pelangi dan yang lainnya sampai ke rumah. Suasana di sana langsung ramai oleh celotehan khas anak muda. Tawa canda menghiasi keadaan di rumah Awan.


Sesuai janji, Pelangi membuatkan Tama sate lontong. Dia sejak pagi hari sudah menyiapkan semuanya. Saat ini dia pun akan membakarnya. Tentu saja Tama ikut membantu dengan senang hati.


"Kak Embun, lebih baik potong-potong lontongnya, daripada berdiri tidak jelas di sini," ucap Pelangi yang sedang membulak-balikan satenya, sedangkan Tama mengipasinya.


"Kamu saja yang memotong lontongnya, biar ini kakak yang mengerjakan," sahut Embun dan menggeser pada Pelangi.


Tama tahu kalau Embun menyukai dirinya. Gadis ini sering mengirim pesan baik ke nomor handphone atau chat di sosial media miliknya.


"Sudah biar kakak yang mengerjakan. Ini kamu yang kipasin," ucap Tama sambil menyerahkan kipas kepada Pelangi.


Tentu saja kedua remaja itu melongo karena tidak menyangka kalau Tama akan melakukan hal ini. Pelangi melirik ke arah Embun yang menurutnya sudah membuat tidak nyaman tamunya.


"Apaan, sih!" desis Embun dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Kakak yang apa-apaan? Biasanya juga tidak mau kalau disuruh masak. Kini tiba-tiba ikut membantu. Biar apa coba?" ujar Pelangi mengejek niat Embun.


Embun yang tidak suka akan ucapan Pelangi, langsung mendorong tubuhnya dan pergi begitu saja. Belakangan keduanya seperti air dan minyak, tidak bisa menyatu dan tidak satu pemikiran. Keduanya sering bersitegang dan saling tidak mau mengalah.


Tama yang melihat itu secara langsung, sangat terkejut dengan sikap Embun. Meski dia tahu kalau Embun dan Pelangi sering bersitegang, karena cerita yang sering dia dengar baik dari Pelangi ataupun dari Embun. Dia mengira kalau mereka bertengkar hanya lewat mulut saja. Namun, kini dia lihat kalau Embun menggunakan fisik juga.


Tama pun menghampiri Pelangi dan menanyakan keadaannya. Dia melihat tangan gadis itu karena menyangka terkena arang atau abu api.


"Kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanya Tama menatap wajah Pelangi.


Pelangi mengangguk dan merasa senang akan perhatian dari pemuda yang kini sedang memegang tangannya. Dia diam mematung saat Tama tiba-tiba mencium keningnya.


'A_h, tidak, jantungku!" Pelangi merasakan jantungnya berdetak begitu sangat keras.


Untuk menenangkan debaran jantungnya, Pelangi memejamkan matanya. Dia terlalu malu saat ini dan tidak sanggup melihat wajah Tama yang begitu sangat dekat.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" 


***


Siapa nih, yang sudah memergoki mereka? Embun/Senja/Awan/Lembayung/Anindita? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan menarik. Cus meluncur ke karyanya.


__ADS_1


__ADS_2