
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 43
Rumah yang berukuran kecil dan punya halaman lebih luas, masih saja dipenuhi oleh para pelayat. Jika, tadi sore hari yang datang melayat itu adalah para tetangga, saat ini adalah kenalan Awan sesama pedagang dan konsumen langganannya. Kepribadian Awan yang dikenal baik oleh rekan sesama orang seprofesi dengannya dan orang-orang yang sering beli dagangannya. Mereka sangat terkejut saat mendengar kabar ini dan datang berbondong-bondong ke rumah duka.
"Kami datang mewakili teman-teman yang sering dagang bersama Bang Awan, turut berbelasungkawa. Semoga Bang Awan di tempatkan yang terbaik di sana," kata salah seorang laki-laki bertubuh gempal dan di aamiin kan oleh rekan-rekannya.
"Ini ada dana yang kami kumpulkan, meski tidak besar, semoga saja bisa bermanfaat bagi keluarga Bu Senja," lanjut salah seorang yang lainnya sambil menyerahkan amplop tebal kepada Embun karena Senja masih dalam keadaan tidak bisa diajak komunikasi.
"Terima kasih, Pak. Semoga kebaikan kalian semua bisa mendapat balasan yang lebih baik dari ini," ujar Embun yang bergetar suaranya.
"Nak, ini dari keluarga dan teman-teman aku yang sering jajan sama Bang Awan. Mungkin jumlahnya sedikit, setidaknya bisa membantu sedikit," kata seorang gadis muda dan beberapa temannya memberikan amplop berwarna coklat yang meski tidak setebal amplop tadi, tapi isi nominalnya lebih banyak.
"Terima kasih, Kak. Untuk kebaikan kalian semua. Semoga kakak-kakak semuanya bisa mendapatkan balasan atas kebaikan ini," balas Embun.
***
Tama mendatangi rumah Senja ingin mengucapkan berbela sungkawa. Dia melihat ketiga perempuan yang berbeda generasi itu sedang diam. Mereka larut dalam kesedihan, bahkan tamu yang datang melayat di tangani oleh kerabat Senja yang sengaja datang dan menginap di sana.
"Kak Tama!" Embun langsung berlari dan memeluk tubuh laki-laki itu.
"Yang sabar, ya." Tama mengurai pelukan Embun, tetapi Embun kembali memeluk erat tubuh pemuda itu.
__ADS_1
"Aku sangat sedih, bapak ternyata meninggalkan kami terlebih dahulu. Padahal dia ingin menghadiri acara wisuda aku nanti. Dia juga ingin agar aku jadi orang yang sukses. Tapi, semua itu tidak akan bisa dilihat olehnya," ucap Embun sambil terisak tangis.
"Makanya kamu sekarang harus sabar dan kuat, agar bisa menjadi orang yang diharapkan oleh bapak," balas Tama sambil mendorong kuat tubuh Embun sampai terlepas dan menahannya, agar jangan sampai bisa memeluk dirinya lagi.
Orang-orang yang melihat itu mengira kalau Tama adalah kekasih Embun. Sebab, mereka berpelukan. Pada umumnya begitu, jika dilingkungan mereka.
"Itu pacarannya Embun?" bisik para pelayat.
"Mungkin. Dia tampan dan gagah," balas salah seorang dari mereka.
"Aku tahu laki-laki itu. Dia dulu sering main ke sini. Ternyata dia pacarnya Embun," tambah yang lainnya.
Para pelayat yang hadir jadi berpikir seperti itu. Wajar kalau orang-orang itu berpikir seperti itu. Secara Embun adalah seorang gadis yang menuju dewasa dan berwajah cantik. Sementara, Lembayung masih remaja ABG, sedangkan Pelangi sendiri mereka nilai sebagai gadis yang terlihat sibuk mencari uang dan tidak tertarik pacaran.Â
"Ibu, harus menjadi kuat. Karena ada tiga putri yang sangat membutuhkan dukungan dan kekuatan dari ibu. Terutama Pelangi yang kini masih terbaring di rumah sakit," kata Tama.
"Pelangi?" Senja bereaksi saat disebutkan nama putri keduanya.
"Pelangi anakku!" Senja seakan baru ingat akan keberadaan putri keduanya itu.
"Bapak … Mbak! Tolong Pelangi! Aku belum melihat Pelangi. Aku harus ke rumah sakit." Perempuan itu memanggil ayah mertua dan kakak iparnya.
Senja seperti orang yang sedang depresi. Dia pun berdiri dan lari ke luar rumah.
"Pak RT, Pelangi juga berada di rumah sakit. Tolong antar saya ke sana. Aku tidak mau kalau Pelangi mati juga seperti Surya," ucap Senja dengan air mata yang berlinang.
__ADS_1
"Tenang, Bu Senja. Pelangi saat ini dalam keadaan baik-baik saja. Besok kita bisa menjenguknya," balas Pak RT.
"Tidak, tidak! Bagaimana kalau Pelangi ikut mati dan di bawa oleh Surya juga, seperti Awan, tadi." Senja menjambak rambutnya sendiri.
"Aku tidak mau Pelangi mati juga," ujar Senja sebelum pingsan lagi.
***
Pelangi sedang disuapi oleh Anindita. Kedua perempuan beda usia itu saling melempar senyum.
"Makan saja meski tidak enak. Besok mami akan beli makanan yang enak di rumah makan," ucap perempuan paruh baya itu.
Pelangi pun mengangguk dan tersenyum membalas ucapan dari mami kekasihnya.
Setelah selesai makan, Pelangi meminum obatnya. Lalu, Anindita memintanya untuk tidur agar kondisi tubuhnya cepat pulih.
'Kenapa nasib kamu begitu malang sekali? Seakan-akan kesedihan dan kesulitan selalu mengikuti kamu ke mana pun. Apa ada sesuatu yang menyebabkan semua ini?' (Anindita)Â
Wanita yang suka berpenampilan anggun, tetapi santai, kini sedang membelai lembut lengan Pelangi. Inginnya dia membelai kepala, tetapi tidak bisa karena luka terparah yang dialami oleh gadis itu adalah bagian kepalanya. Bahkan rambut indah milik sang gadis harus di cukur habis saat melakukan penjahitan luka-luka yang ada di kepalanya. Bahkan tadi dilakukan operasi kecil untuk mengeluarkan gumpalan darah beku yang ada di kepalanya.
'Semoga saja ini terakhir kalinya kamu mengalami kemalangan. Selanjutnya nanti kehidupan kamu akan bahagia.' (Anindita)
***
Apakah Pelangi benar-benar akan mendapatkan kebahagiaan setelah ini? Atau kemalangan akan mengikutinya kembali? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1