Ibu, Aku Juga Anakmu

Ibu, Aku Juga Anakmu
Bab 16. Handphone (3)


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 16


Awan pun pergi ke konter dan menanyakan harga handphone sesuai dengan uang yang dia punya. Dia berusaha membeli benda persegi panjang dan pipih, sesuai dengan kemampuan. Setidaknya dia berusaha memenuhi keinginan putri sulung kesayangannya.


"Tapi, ini ponsel baguskan untuk anak sekolahan?" tanya Awan yang awam akan barang elektronik itu. Jadinya, dia banyak bertanya.


"Ini barang yang paling bagus dengan harga sekitar satu juta lima ratus, Pak. RAM, ROM, dan MEMORI INTERNAL memiliki kapasitas yang banyak. Selain itu baterai juga tahan lama," jelas tukang konter handphone.


"Baiklah kalau begitu aku beli yang ini saja," ucap Awan.


***


Uang tabungan untuk membeli gerobak baru, harus Awan relakan untuk membeli handphone. Baginya membahagiakan keluarga adalah prioritas utamanya. Selagi hal itu baik untuk mereka, maka dia akan mendukungnya.


Pengorbanan Awan tidak mendapat sambutan baik dari Embun. Putrinya itu masih ingin punya handphone dari merk yang terkenal.


"Pak, bukannya kakak tidak suka. Tapi, barang seperti ini akan mudah rusak. Jatuh saja bisa langsung mati," ucap Embun dengan muka masam.


"Tapi, kata penjual di konter ini ponsel bagus," timpal pria paruh baya itu dengan meyakinkan.


"Bapak ini sudah dibodohi oleh penjual di konter itu. Merk juga bisa menentukan kwalitas barang. Namanya juga pedagang, pastilah akan memberitahu segala kelebihan meski harus berbohong," ujar Embun.


"Embun! Tidak semua pedagang berbohong dengan barang dagangannya. Bapak kamu juga seorang pedagang, tapi tidak pernah membohongi pembeli. Hilangkan pikiran kotor kamu itu!" bentak Awan marahi putri sulungnya.


Semua orang yang ada di ruang keluarga itu sangat terkejut. Awan termasuk orang yang jarang bicara dengan nada tinggi meski sedang marah. Jika, dia meninggikan suaranya dalam bicara, berarti dia benar-benar sangat marah sekali.

__ADS_1


"Kakak, seharusnya bersyukur sudah di belikan ponsel oleh Bapak. Kalau Kakak tidak mau, buat aku saja," ucap Lembayung dan mendapat pelototan dari Embun.


"Maksud kakak itu, lebih baik membeli barang yang harganya mahal sedikit dan awet dari pada membeli barang yang harganya lebih murah, tetapi mudah rusak. Ini malah buang-buang uang saja. Kan sayang, uang itu di dapat dengan susah payah, malah jadi sampah," bantah Embun.


"Kalau itu menurut aku tergantung orang yang memakainya. Jika, orang itu memperlakukan barang-barang miliknya dengan apik dan baik, maka akan awet," tukas Pelangi.


"Sudah, kalau Kakak tidak mau tukar saja ke konter sendiri dan pakai uang sendiri untuk tambah kekurangannya. Ibu sama Bapak sudah tidak punya uang lagi untuk memberikan tambahannya," kata Senja mencoba memberikan solusi.


"Ya, nggak bisa begitu, Bu. Pihak konter tidak akan mau menerima barang yang sudah dibuka segelnya," ujar Embun.


"Kalau begitu, terima saja ponsel itu apa adanya," kata Senja dengan kesal.


"Kakak punya ide," ujar Embun sambil melirik ke arah Pelangi.


"Kita tukeran!" pinta Embun sambil menyerahkan ponsel baru itu pada Pelangi.


"Enak saja, nggak mau!"


"Pelangi kamu mengalah, kepala ibu sudah sakit mendengar ocehan kalian," suruh Senja sambil memijat kepalanya yang sakit.


"Nggak mau, ini barang pemberian dari Kak Tama dan aku sudah berjanji kepadanya akan menjaga dengan baik dan memanfaatkan untuk sesuatu yang positif," tolak Pelangi, lalu pergi ke kamar.


Senja menatap dengan kesal pada putri keduanya. Pelangi sekarang sering membangkang, jika berhubungan dengan saudara-saudaranya. Ini membuat keadaan rumah menjadi sering ramai karena perdebatan mereka bertiga.


"Embun, kamu mau terima ponsel ini atau enggak? Jika, tidak mau untuk Lembayung saja," tanya Awan dengan tegas.


Mau tidak mau, Embun pun membawa handphone itu daripada tidak punya. Selama ini dia juga minder jika teman-teman sudah membicarakan sesuatu yang ada di dunia maya. Seakan dia itu menjadi manusia paling bodoh karena tidak mengetahui hal itu.


***

__ADS_1


Pelangi curhat kepada Tama tentang kejadian ini. Dia merasa tidak enak karena sudah membantah omongan ibunya. Dia juga merasa sedih karena uang bapaknya yang dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk membeli gerobak baru, harus dipakai untuk membeli handphone.


"Aku harus bagaimana, Kak?"


^^^"Kamu tidak bersalah. Kamu hanya mempertahankan apa yang menjadi milikmu."^^^


"Aku juga sebenarnya punya uang tabungan meski sedikit. Apa aku kasihkan sama bapak, ya?"


^^^"Sebaiknya jangan. Simpan itu untuk keperluan kamu nanti masuk ke SMA."^^^


^^^"Apalagi, saat ini bapak sudah tidak punya uang tabungan. Mungkin saja ibu juga tidak punya uang. Lalu, nanti kamu mau masuk daftar ke SMA mau pakai uang apa?"^^^


Pelangi pun terdiam. Dia membenarkan ucapan Tama. Kalau kedua orang tuanya tidak punya uang, bisa-bisa nanti dia tidak akan melanjutkan sekolah ke SMA.


Keduanya pun membicarakan hal-hal yang telah mereka lalui seharian itu. Meski Pelangi selalu menganggap Tama adalah seorang kakak, tetapi dia bisa menemukan kenyamanan jika sedang bersama dengannya.


***


Waktu pun terus bergulir, kini Pelangi akan menghadapi hari ujian. Besok Senin ujian nasional akan digelar, dia meminta pada ibunya untuk tidak memberikan tugas rumah selama tiga hari, kecuali mencuci piring.


Tentu saja sisa pekerjaan rumah dilimpahkan kepada Embun dan Lembayung. Seperti biasa Embun selalu mengomel-ngomel jika melakukan pekerjaan yang diembankan kepadanya. Berbeda dengan Lembayung, meski hasil pekerjaannya tidak seperti Pelangi, tetapi dia tidak ngomel-ngomel, katanya itu tidak dia kerjakan tiap hari. Hanya saat Pelangi sedang tidak bisa melakukannya karena sesuatu hal.


"Selamat siang. Ada paket untuk Pelangi!" ucap kurir.


"Paket apaan, tuh?"


"Dari siapa?"


Orang-orang di rumah pada ingin tahu isi paket yang dikirim untuk Pelangi.

__ADS_1


***


Apa isi paket itu? Siapa pengirimnya? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2