Ibu, Aku Juga Anakmu

Ibu, Aku Juga Anakmu
Bab 26. Impian Pelangi dan Tama


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 26


Pelangi dan Tama berjalan-jalan di area pegunungan yang dipenuhi oleh ladang sayuran. Tepatnya di bawah area pariwisata air panas banyak sekali perkebunan sayur seperti sawi, kubis, kembang kol, dan masih banyak lagi. Namun, ada kebun yang sering dikunjungi oleh para wisata dan itu juga dibuka untuk umum pabriknya. Yaitu perkebunan strawberry.


Kebun yang luasnya 3 hektar dan 3 hektar lagi area pabrik dan rumah strawberry untuk jualan hasil olahan pabrik, membuat orang-orang betah berlama-lama di sana karena tempatnya nyaman. Apalagi pengunjung bebas mencicipi buah strawberry di sana. Jika ingin membeli pun, mereka bebas memetik sendiri buahnya. Tempat inilah yang Pelangi dan Tama tuju sekarang.


"Pelangi, apa impian kamu saat masih kecil?" tanya Tama yang berjalan sambil menggandeng tangan gadis itu.


"Hmm. Apa, ya?" Pelangi terlihat sedang berpikir.


"Masa tidak punya? Aku yakin kamu pasti punya keinginan yang suatu hari nanti berharap aku bisa mewujudkannya," ucap Tama yang tatapan matanya selalu tertuju pada perempuan berjaket merah.


"Aku pernah punya impian ingin membuka toko kue ulang tahun. Melihat teman-teman yang selalu merayakan ulang tahun dengan kue yang cantik dan ada lilinnya, aku juga ingin. Itu keinginan aku sebelum sekolah TK," kata Pelangi diakhiri tawa yang renyah.


"Jadi, itu impian kamu, ya?" gumam Tama.


"Namun, saat sudah besar. Maksudku, setalah SD, SMP, dan sekarang. Keinginan aku berubah-ubah," aku gadis yang kini pipinya memerah karena terpana angin yang dingin.


"Jadi, penasaran. Memangnya impian apalagi yang kamu inginkan?" tanya Tama.


"Kak Tama, tahu tidak saat aku duduk di kelas satu SD, aku punya impian kalau ingin diculik sama seorang Pria tampan dan akhirnya kita menikah dan hidup bahagia di istana. Malu sekali rasanya mengingat hal ini," kata Pelangi dan ini membuat Tama tertawa terkekeh sampai mengeluarkan air mata.


"Darimana kamu punya pemikiran itu?" tanya Tama yang masih tertawa.


"Aku sejak kecil suka membaca buku dongeng. Pastinya pikirannya adalah Pangeran dan Kesatria yang tangguh," jawab Pelangi dengan perasaan malu.


Tama tidak bisa menghentikan tawanya. Dia senang mendengar cerita Pelangi.


"Lalu, saat SMP?" lanjut Tama penasaran.

__ADS_1


"Hmmm, SMP? Aku ingin menjadi seorang duta besar agar bisa pergi keliling dunia dan membanggakan nama baik negaraku," balas Pelangi dan Tama mengacungkan jempol.


"Tapi, kayaknya nggak nyambung dari ingin menjadi tukang kue ke istri seorang pangeran dan menjadi seorang duta besar. Pikiran kamu sulit ditebak, ya!" kata Tama menggoda Pelangi dan ini membuat sang gadis semakin malu.


"Tuh, 'kan! Kak Tama mentertawakan aku," ucap Pelangi dengan wajah cemberut, pura-pura marah dan pergi meninggalkan laki-laki itu.


Tama merutuki dirinya dan langsung mengejar Pelangi. Dia langsung memeluk tubuh gadis itu dari belakang.


"Maaf, bukan maksud aku menghina atau mentertawakan kamu. Aku sungguh bangga kepadamu. Kamu adalah salah seorang perempuan hebat yang aku kenal," ucap Tama berbisik di samping telinga Pelangi.


"Apa Kakak tahu impian aku sekarang?" tanya Pelangi.


"Menjadi seorang yang sukses," jawab Tama masih memeluk tubuh sang gadis dari belakang.


"Bukan. Tapi, impian aku ini benar-benar ingin mewujudkannya," ucap Pelangi dengan tegas.


Tama melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Pelangi, sehingga kini mereka saling berhadapan. Kedua netra mereka saling mengunci.


"Aku ingin hidup bahagia bersama dengan orang yang mencintaiku, menyayangiku, dan menganggap diriku berharga," jawab Pelangi dengan mata yang berkaca-kaca.


Tangan Tama menangkup kedua pipi gadis itu. Terasa sangat dingin dan lembut. Diusap-usapnya pipi itu menggunakan ibu jarinya yang besar.


"Apa kamu mau tahu apa impian aku dari dulu sampai sekarang?" tanya Tama dan Pelangi mengangguk.


"Aku ingin hidup bahagia bersama keluarga kecilku di rumah yang sederhana. Menikah dengan perempuan yang aku cintai dan mencintaiku," jawab Tama diiringi senyum tampannya yang bikin hati Pelangi meleleh.


Mendengar ucapan Tama barusan, hati Pelangi merasa tercubit. Dia berpikir kalau laki-laki itu sudah punya perempuan yang dicintainya. Dia pun tersenyum getir mendapati kenyataan banyak sekali perbedaan di antara mereka.


'Sadar Pelangi. Jangan jdi orang yang tidak tahu diri.'


Ingatan Pelangi kini pada foto unggahan Tama beberapa hari yang lalu. Di mana ada seorang perempuan yang duduk di sampingnya sedang memakan buah apel.


"Semoga impian Kakak segera tercapai. Menikah dengan perempuan yang mencintai dan dicintai sama Kakak," ujar Pelangi dan menarik kedua tangan Tama di pipinya. Terdengar suaranya bergetar.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus bersabar lebih lama. Mungkin sekitar enam atau tujuh tahun lagi," pungkas Tama dan Pelangi hanya tersenyum tipis.


"Atau aku percepat saja menjadi dua tahun," tambah laki-laki berjaket hitam.


Pelangi merasa lidahnya kelu. Dia tidak bisa bicara apa-apa.


"Apa kamu setuju?" tanya Tama dengan tatapan penuh harap.


"Kenapa Kakak tanya sama aku?" balas Pelangi dengan kesal dan alis yang mengkerut.


"Tentu saja aku harus tanya sama mempelai wanitanya. Apa aku langsung saja bawa kamu ke KUA begitu menerima hasil kelulusan sekolah," ucap Tama.


Pelangi terperangah mendengar ucapan Tama barusan.


"Ma-maksud Kak Tama, aku adalah perempuan yang ingin dinikahi oleh Kakak?" tanya Pelangi tidak percaya, tetapi ada perasaan senang yang tiba-tiba menguasai hatinya saat ini.


"Memangnya siapa lagi, kalau bukan kamu?" Tama menatap gemas pada gadis yang menatapnya dengan pancaran mata berbinar.


"Lalu, perempuan yang ada di foto itu?" tanya Pelangi dan membuat sang lelaki mengerutkan keningnya.


"Ah, aku juga tidak tahu siapa dia. Karena saat aku selfie, tiba-tiba saja dia duduk di sana dan melirik ke arah kamera," jawab Tama yang teringat kejadian di sebuah rumah makan beberapa hari yang lalu.


"Kalau begitu, Kak Tama menyukai … a-ku?" tanya Pelangi dengan debaran jantung yang menggila.


"Bukannya sejak dulu pernah aku katakan kepadamu, kalau aku sangat menyayangi dan menyukai kamu," jawab Tama.


Mata Pelangi membulat karena dia dulu menganggap ucapan Tama maksudnya untuk seorang adik, bukan sebagai perempuan dewasa.


"Pelangi … aku mencintaimu!" ucap Tama dengan lembut dan merdu. Tatapan mata yang menjerat kuat diri Pelangi sehingga dia tidak bisa menolak saat benda lembut dan hangat itu menyentuh bibirnya.


***


🙈🙈🙈 ciuman pertama Pelangi, nih. Bagaimana reaksi Pelangi saat Tama menciumnya? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2