
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 34
"Kya-aaa!"
Motor Awan terseret belasan meter beserta orangnya, sedangkan Pelangi sudah terlempar ke arah taman kecil yang ada di dekat pom bensin itu. Orang-orang shock melihat kecelakaan di depan mata mereka.
Tubuh Embun tiba-tiba lemas karena sangat shock saat melihat tubuh dua orang keluarganya tertabrak oleh sebuah motor yang menjalankan kendaraannya dengan ngebut.
"Bapak! Pelangi!" teriak Embun yang kini sudah tersadar.
Air mata gadis itu langsung meluncur tanpa permisi membasahi pipinya. Dia pun ikut berlari mengikuti orang-orang yang ada di sekitar sana.
Orang yang pertama kali dilihat oleh Embun adalah Pelangi. Adiknya itu yang tergeletak di taman dengan kepala yang bersimbah darah.
"Pelangi, sadarlah!" teriak Embun sambil menyentuh wajah polos adiknya.
"Panggil ambulans, cepat!" perintah ayahnya Dina.
"Tolong Bapak, Om!" pinta Embun di sela isak tangisnya sambil melihat ke arah laki-laki paruh baya yang penampilan plente.
__ADS_1
Awan sendiri yang ikut terseret bersama motornya, dalam tidak sadarkan diri. Seluruh tubuhnya dipenuhi oleh darah dan kepalanya juga mengalami luka yang sangat serius.
Orang-orang di sana ada yang menelepon ambulans dan polisi untuk menangani kecelakaan ini. Akibat dari kejadian ini, terjadi kemacetan karena posisi tubuh korban dan kendaraan milik mereka berada di tengah jalan. Belum lagi dengan orang-orang yang ikut mengerubungi para korban. Semakin tidak ada ruang untuk menembus kerumunan itu.
Akhirnya polisi datang, mereka terlebih dahulu ke sana. Setelah beberapa menit kemudian, baru beberapa ambulans datang ke sana untuk membawa tubuh korban.
Embun menangis histeris melihat keadaan Awan yang kepala diduga mengalami retak tempurungnya karena helm yang dipakainya terlepas sebelum kepala dia membentur aspal dan terseret beberapa meter dari tempatnya jatuh tadi.
Pelangi yang tidak memakai helm, untungnya jatuh di taman pom bensin, bukan di aspal. Meski kepalanya membentur ranting-ranting pohon dan ada kemungkinan patah tulang leher akibat posisi jatuh kepala terlebih dahulu.
Embun ikut ambulan yang membawa Pelangi. Sementara itu, ayahnya Dina dan keluarganya mengikuti mereka ke rumah sakit.
"Bangun, Pelangi! Buka mata kamu!" perintah Embun yang tidak dapat didengar oleh adiknya.
"Kamu, jangan mati! Kamu harus kuat." Embun meracau dalam tangisannya.
Melihat keadaan orang yang sering membuatnya kesal, tetap saja itu membuat Embun tidak tega. Dia lebih suka melihat Pelangi yang cerewet dan berseteru dengannya, dibandingkan dengan saat ini, yang hanya diam kaku dengan wajah yang pucat pasi.
***
Ketiga korban itu langsung dimasukkan ke ruang UGD dan mendapat perawatan intensif dari dokter. Ternyata di dari ketiga orang itu Awan adalah orang yang mendapat luka paling serius. Tulang lengan dan kakinya retak dan beberapa tulang rusuknya mengalami patah tulang. luka yang paling berat dan beresiko adalah di bagian kepalanya.
"Pasien saat ini mengalami koma, dan harus segera dilakukan operasi karena banyak serpihan tulang yang remuk di otaknya," ucap dokter yang menangani Awan.
__ADS_1
Embun kembali shock saat mendengar penjelasan dari dokter barusan. Dia tidak menyangka kalau luka di kepala ayahnya akan separah ini.
'Operasi? Dari mana kami bisa punya uang sebanyak itu, untuk melakukan operasi pada kepala ayah?' (Embun)
"Bagaimana ini, Embun? Bapakmu harus secepatnya melakukan operasi. Apakah keluarga kalian punya biaya untuk menangani operasi ini?" tanya ayahnya Dina.
Embun bingung harus menjawab apa. Sebab, dia tidak tahu apa-apa dengan masalah keuangan di keluarganya. Sementara itu, yang dia tahu adalah jika dia menginginkan sesuatu itu tinggal bilang kepada ibunya. Maka, barang yang di inginkan itu, tidak lama langsung ada di depan matanya.
Bahkan kadang dirinya tidak mau tahu, apakah kedua orang tua mereka punya air atau makanan. Jika ada sesuatu yang dia inginkan, maka kedua orang tuanya harus bisa memenuhi keinginannya tersebut.
"Aku tidak tahu, Om. Saat ini ibu dan keluarga lainnya juga belum diberi tahu mengenai kejadian kecelakaan hari ini," jawab Embun.
"Kenapa kamu tidak beritahu keadaan mereka kepada ibumu?"
"Aku takut, Om. Kalau nanti Ibu akan menyalahkan aku atas semua yang terjadi dari kejadian hari ini, kepadaku," aku Embun dengan diiringi isak tangis.
"Tapi tetap saja kamu harus memberitahu ibumu. Karena saat ini, bapak kamu sungguh memerlukan operasi itu untuk bisa bertahan hidup," kata ayahnya Dina.
Embun terdiam sejenak. Dia tidak mau kehilangan sosok bapaknya yang penyayang dan baik hati ini. Laki-laki paruh baya yang jarang sekali memarahi atau membentak istri dan ketiga putrinya.
***
Akankah Embun memberi tahu Senja? Apa yang akan dia katakan pada keluarganya nanti? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1