
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 51
"Bagaimana hasil terapi kali ini?" tanya Anindita kepada Pelangi.
Pelangi tersenyum kepada Anindita dan mengangguk.Â
"Jadi?" Anindita merasa deg-degan.
"Sudah bisa bicara. Hanya saja suaranya masih agak mencicit," jawab Senja yang baru datang sambil membawa teh hangat tawar kesukaan Anindita dan Pelangi.
"Syukurlah, sudah ada kemajuan. Semoga saja terapi yang akan datang bisa bicara dengan lebih baik lagi," ucap wanita berbaju daster batik, baju kesukaannya sehari-hari jika sedang berada di rumah.
Ketika mereka bertiga sedang menikmati teh di sore hari ditemani dengan kue bolu buatan Senja, dewa-dewa adalah dengan suara Lembayung yang berteriak di depan halaman rumah.
"Bu, Ibu!" teriak gadis terserah kamu putih biru.
Senja yang merasa dipanggil, dia pun bergegas pergi ke depan rumah untuk melihat putri bungsunya itu. Senyum lebar langsung menghiasi wajah wanita itu, saat melihat Lembayung membawa dua buah piala.
"Berhasil kamu, Nak. Jadi juara!" pekik Senja.
"Iya, Bu. Aku juara di dua kategori. Juara satu menyanyikan lagu daerah dan juara satu memainkan alat musik daerah. Uang yang didapat katanya akan di transfer ke nomor rekening bank. Besok sudah bisa diambil jika Ibu perlu. Lumayan total dapat sepuluh juta," ujar Lembayung dengan sangat menggebu-gebu saking senangnya dia.
"Uangnya simpan buat sekolah kamu. Tahun depan kamu akan masuk ke SMA," balas Senja.
"Aku masuk ke sekolah biasa saja, Bu. Kita bisa lebih banyak menghemat uang," kata Lembayung.
Anak bungsu Senja kini lebih dewasa. Dia juga tahu betapa sulitnya Senja dan mereka dalam mencari uang. Pengobatan Pelangi untungnya ditanggung oleh Anindita. Uang santunan dari Jasa Raharja habis untuk biaya Awan dan Pelangi selama mereka di rumah sakit. Lalu, uang santunan Jasa Raharja untuk Pelangi dipakai untuk tambahan biaya kuliah Embun selama 4 tahun yang akan datang.
"Wah, Lembayung hebat. Kamu mau jadi apa nanti?" tanya Anindita saat gadis itu duduk di samping ibunya.
"Saat ini belum kepikiran mau jadi apa, Mi. Bisa sekolah sampai lulus SMA saja, aku merasa bersyukur," jawab Lembayung.
"Tidak. Bagaimanapun juga kalian semua harus bisa sampai lulus kuliah sesuai keinginan bapak," bantah Senja.
Pelangi dan Lembayung merasa sangat terharu mendengar ucapan ibu mereka. Keduanya tahu kalau keuangan mereka saat ini tidak menentu.
***
__ADS_1
Waktu berlalu dengan cepat dan hari ini Pelangi pun melakukan terapi kembali. Dia pergi bersama Senja karena Anindita harus pulang ke Jakarta dulu untuk suatu urusan yang penting.
Pelangi pun setiap hari sudah bisa bicara sedikit demi sedikit dia sudah bisa bicara dengan normal. Meski belum terlalu cerewet seperti dulu. Dia pun mengabari Anindita dan berbicara langsung dengannya.
"Halo, Mami."
^^^"Pelangi? Ini Pelangi, 'kan?"^^^
"Iya, Mi."
^^^"Mami senang sekali mendengar suara kamu. Betapa rindunya Mami sama kamu. Sudah satu minggu kita tidak bertemu."^^^
"Aku juga rindu Mami."
^^^"Kalau sama aku?"^^^
Pelangi diam mematung. Tidak lama kemudian air mata kerinduan pun meluncur membasahi pipinya. Suara laki-laki yang dia cintai dan sayangi, kini bisa didengar lagi olehnya.
"Kak Tama?"
^^^"Iya, ini aku. Kenapa kamu tidak pernah mau menelepon aku?"^^^
"Bukannya kita berkirim pesan setiap hari."
^^^"Tetap saja ada yang berada kurang."^^^
"Kak Tama sedang di Jakarta?"
^^^"Iya. Ada sedikit urusan. Besok atau lusa akan balik lagi ke Surabaya."^^^
"Jaga kesehatan."
^^^"Tentu saja, Sayang."^^^
Muka Pelangi langsung merah saat mendengar panggilan 'Sayang' dari Tama. Sudah lama dia tidak berbicara langsung dengannya seperti ini. Sekarang dia jadi deg-degan terus.
***
Pelangi sudah bisa menjalankan aktivitas dia sehari-hari. Pergi sekolah, berdagang, dan mengerjakan pekerjaan rumah membantu Senja. Meski sekarang di rumah itu hanya tinggal bertiga, tetapi semua pekerjaan dilakukan bersama-sama, sehingga dengan cepat selesai dan terasa ringan.
Lembayung mengerjakan tugas yang ringan seperti menyapu, mengepel, menyiram tanaman, dan membuang sampah. Sekarang ada mesin cuci, jadi Pelangi atau Senja tidak perlu lagi repot-repot mengucek baju.
__ADS_1
Pelangi dan Lembayung membuka pesanan membuat kue-kue basah, kue kering, bolu ulang tahun, atau bolu pengantin. Keduanya melakukan promosi di akun media sosial milik mereka.
"Bu, ada yang ingin pesan snack dengan isi: lontong atau lemper, risoles, bolu kukus, kue sus, jeruk, agar-agar atau puding, dan air mineral. Mereka pesan 250 bungkus untuk minggu depan. Ambil jangan?" Pelangi memberitahu pesanan untuk salah satu kantor pemerintahan.
"Minggu depan, ya?" Senja mencoba mengingat-ingat apa sudah ada jadwal pesanan hari itu.
"Ada pesanan buat acara tujuh bulanan, 50 bungkus snack. Dan juga snack ulang tahun 30 bungkus sama kue ulang tahun," gumamnya.
"Itu diambil jam berapa?"
"Sekitar jam delapan pagi," jawab Pelangi.
"Ambil saja kalau begitu. Karena snacknya hampir sama dengan yang buat acara tujuh bulanan pesanan Bu RT."
Sekarang orderan Senja sangat banyak bahkan sering meminta bantuan kepada tetangganya, yang akhirnya menjadi karyawan Senja. Juga punya satu tukang ojek yang siap mengantarkan pesanan ke alamat tujuan.
"Bu, Ibu! Gawat!" teriak Lembayung dari kamarnya.
"Ada apa?" tanya Pelangi dan Senja bersamaan.
***
Kira-kira ada apa, ya? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk, baca juga karya aku yang lainnya.
" Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami"
Mentari dipaksa oleh Zahra untuk menikah dengan suaminya Fatih. Karena Zahra sudah divonis mandul dua tahun yang lalu. Kini dia juga mengidap penyakit Leukemia. Zahra juga tidak bisa memberikan kepuasan batin Fatih selama satu tahun lebih.
Mentari yang sudah beberapa kali menolak permintaan Zahra untuk menikah dengan Fatih. Apalagi Fatih adalah cucu dari mantan kakak iparnya. Bisa dibilang Fatih itu cucu dari mantan suaminya, Willian Green. Karena Kakeknya Fatih, Edward Green, kakak beradik dengan William.
Akhirnya Mentari dan Fatih menikah dan mereka bertiga tinggal dalam satu rumah. Permasalah mulai muncul saat Zahra cemburu, karena Fatih jatuh cinta kepada Mentari. Sementara Mentari menekan perasaannya jangan sampai jatuh cinta kepada Fatih, yang menurutnya cinta mati kepada Zahra.
Widuri yang merupakan bibi dari Zahra selalu berusaha menjadikan Jihan untuk menjadi istri ke-3 Fatih. Berbagai cara dia lakukan termasuk memberinya obat perangsang saat Mentari tidak ada di rumah.
__ADS_1
William mantan suami Mentari pun muncul dan ingin kembali menikahi Mentari. Untuk memperbaiki kesalahpahaman dahulu yang membuat mereka bercerai.