
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 68
Pelangi dan keluarganya sampai ke restoran yang menjadi tempat pertemuan mereka dengan keluarga Tama. Ketiga orang itu dibimbing oleh seorang pelanggan ke meja di mana Tama dan ibunya sedang menunggu.
Ternyata ada Kakek Indra dan Candra sedang berbicara dengan Tama di meja mereka.
"Kakek … Paman? Kok, kalian ada di sini?" tanya Pelangi terkejut dengan kehadiran dua orang keluarga yang lainnya.
"Nah, cucuku sudah datang," ucap Kakek Indra sambil tersenyum lebar dan menarik tangan Pelangi agar duduk di sampingnya.
"Kebetulan kita bertemu di sini. Tadi kami menghadiri acara pertemuan para pensiunan kepala sekolah yang dihadiri oleh bapak. Tempatnya tidak jauh dari sini. Tanpa sengaja Kakek melihat ada Tama yang sedang berjalan-jalan. Dan kami pun memutuskan ikut bergabung setelah mendengar kalau dia akan melamar Pelangi," jawab Candra dan dibenarkan oleh Kakek Indra.
"Kalian juga, ayo, duduk!" titah Anindita.
Senja duduk di dekat Pelangi dan Tama, sedangkan Lembayung duduk antara Candra dan Anindita. Mereka makan di meja yang berbentuk bundar.
Mereka makan malam bersama terlebih dahulu. Suasana di sana sangat ramai oleh celotehan Lembayung, Pelangi, dan Tama.
"Jadi, bisa kita mulai dulu acara penting malam ini?" tanya Kakek Indra.
"Iya, Kek. Kita mulai saja sekarang," balas Tama dan ibunya pun setuju.
__ADS_1
"Pelangi, Mami ingin melamar kamu untuk menjadi calon istri putra semata wayang Mami ini, apakah kamu mau menjadi calon istri dari Arya Aditama?" tanya Anindita.
Pelangi yang tiba-tiba menjadi gugup hanya tersenyum manis dan mengangguk. Dia merasa kalau lidahnya menjadi kelu.
"Bagaimana, Pelangi?" tanya Kakek Indra sambil mengalihkan perhatiannya kepada sang cucu.
"Tentu saja mau Kakek," balas Lembayung.
"Bukan kamu yang ditanya," ujar Candra sambil membelai kepala keponakannya ini.
"Aku cuma bantu jawab, Paman. Kasihan Kak Pelangi yang gugup begitu seperti anak kucing yang kecebur di Empang," cerocos gadis remaja itu.
"Mau," jawab Pelangi dengan suaranya yang bergetar.
"Aku menerima pinangan dari Bu Anindita untuk putriku Pelangi. Aku harap Tama bisa menjadi sosok suami yang baik bagi putriku ini. Cintai, sayangi, jaga, dan lindungi Pelangi sepenuh hatimu," kata Senja dengan tatapan tajam dan menuntut.
Semua orang yang ada di sana merasa sangat senang dan bahagia. Akhirnya mereka bisa menyatukan dua hati anak manusia yang ingin terjalin erat dengan benang takdir untuk merajut masa depan yang bahagia.
Tama memasangkan cincin permata putih pada jari lentik Pelangi. Keduanya saling melempar senyum kebahagiaan. Lembayung menjadi juru potret dadakan malam itu. Semua momen antara kedua anak manusia yang dirasa pas dan terlihat romantis dia akan mengabadikannya.
"Kak, lebih dekat lagi! Merapat!" titah Lembayung pada Pelangi dan Tama sehingga keduanya mendekat dan saling menempel. Tama merangkul bahu Pelangi dengan tatapan penuh cinta. Sementara itu, Pelangi melingkarkan sebelah tangan kirinya pada pinggang sang kekasih.
"Bagus! Ih, kalian serasi sekali," ucap Lembayung memuji kakak dan calon kakak iparnya.
"Tentu saja, kita berdua adalah pasangan serasi karena sudah ditakdirkan untuk bersama," ujar Tama dan melemparkan senyum tampannya kepada Pelangi.
__ADS_1
Tawa riang dan canda mereka tiba-tiba terhenti saat datang Embun dan teman-temannya ke restoran itu. Anak sulung dari tiga bersaudara ini langsung mendatangi meja mereka.
"Apa-apaan ini?" tanya Embun dengan tatapan menyalang, terutama pada Pelangi dan Tama yang duduk bersisian.
Orang-orang yang ada di sana terkejut dengan kedatangan Embun. Terlihat ada pancaran mata yang tersirat akan kemarahan dan kebencian darinya.
"Ibu, sebenarnya ada apa ini?" tanya Embun pada Senja.
Senja tahu kalau putri sulungnya juga suka sama Tama. Tadinya dia berniat menyembunyikan dulu pertunangan Pelangi dan Tama darinya. Namun, sepertinya itu tidak bisa.
"Tama melamar Pelangi. Dia ingin menjadikan Pelangi sebagai pendamping hidupnya," jawab Senja dengan tatapan nanar pada Embun.
"Apa?" Embun sangat terkejut. Bagai ada petir yang menghantam tubuhnya. Dia merasakan sakit sekali. Bukan hanya hatinya, terapi sekujur badannya juga.
"Jadi, kalian mengadakan acara ini tanpa memberi tahu aku!" Embun bertetiak dengan penuh emosi.
"Kenapa?" lanjutnya lagi.
Embun melihat ada Kakek Indra dan pamannya di sana. Dia sangat marah karena merasa tidak dianggap dan dihargai.
"Apa ini atas permintaan Pelangi? Dasar kamu ular betina tidak tahu diri!" hina Embun kepada adiknya.
"Diam kamu, Kak!" balas Pelangi sambil beranjak dari kursinya dan berdiri.
"Siapa yang tidak tahu diri?" lanjut Pelangi tidak terima dirinya terus dihina oleh kakak kandungnya itu.
__ADS_1
***
🤯 Si Embun sudah kepanasan dan Pelangi tidak mau kehilangan Tama. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya, ya!