Ibu, Aku Juga Anakmu

Ibu, Aku Juga Anakmu
Bab 69. Lamaran (3)


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 69


Embun melihat ada Kakek Indra dan pamannya di sana. Dia sangat marah karena merasa tidak dianggap dan dihargai.


"Diam kamu, Kak!" balas Pelangi sambil beranjak dari kursinya dan berdiri.


Kini Pelangi balas menatap tajam ke arah kakaknya itu. Selama ini dia selalu mengalah kepada kakaknya karena tidak mau membuat bapak dan ibunya sedih. Sejak kecil Pelangi selalu diajarkan lebih baik mengalah kepada saudaranya daripada mereka bertengkar.


"Siapa yang tidak tahu diri?" lanjut Pelangi tidak terima dirinya terus dihina oleh kakak kandungnya itu.


Sebagai perempuan yang ingin menghabiskan waktu bersama orang yang dicintai olehnya, tentu saja Pelangi akan berjuang mempertahankan apa yang sudah ada di genggaman tangan. Setidaknya dia ingin membahagiakan orang-orang yang membuat hidupnya juga terasa bahagia.


"Kamu tahukan kalau Kakak suka sama Kak Tama! Lalu, kenapa kamu rebut dia?" teriak Embun dan memicu rasa penasaran orang-orang yang sedang berada di restoran itu.


"Jadi, itu laki-laki incaran Embun yang sering diceritakan ke kita-kita," bisik Hani pada Dina.


"Tampan juga orangnya. Pantas Embun begitu tergila-gila padanya," balas Dina.


"Tapi, sepertinya Tama sukanya sama Pelangi, bukan pada Embun," kata Melani dengan berbisik.

__ADS_1


Ketiga teman Embun itu melihat Tama sedang mencoba menenangkan Pelangi. Laki-laki itu merangkul bahu tunangannya agar jangan terlalu emosi.


Embun bisa mendengar percakapan ketiga temannya. Hal itu sudah membuat dia merasa sangat malu dan marah kepada keluarganya. Sebab sudah membuat dirinya terhina di hadapan orang lain.


Selama ini Embun selalu bercerita kepada temannya tentang sosok Tama yang begitu sempurna. Laki-laki yang menjadi cinta pertamanya dan dia juga yakin kalau Tama juga menyimpan perasaan untuknya. 


Embun merasa dirinya juga sebagai orang yang sempurna dan pantas untuk menjadi pendamping Tama. Dia mempunyai wajah yang cantik, tubuh yang ideal, otak yang cerdas, dan pandai berbicara. Semua yang diinginkan oleh para wanita ada pada dirinya. Sehingga dia merasa terhina saat Tama menjalin hubungan dengan Pelangi, yang menurutnya jauh dari kata sempurna.


Pelangi mempunyai wajah yang cacat karena ada bekas luka di keningnya. Otaknya juga di bawah Embun. Mungkin secara tinggi tubuh Pelangi lebih tinggi dari Embun. Namun dari segi penampilan Embun sangat jauh lebih elegan daripada Pelangi.


"Sudah Embun, kamu jangan berteriak-teriak seperti itu. Apa kamu tidak malu dilihat oleh orang lain?" Kakek Indra pun berdiri dan menghadap ke arah cucunya.


Air mata Embun kini membasahi pipi mulus miliknya. Hati dia sangat hancur karena merasa dikhianati oleh seluruh anggota keluarga.


"Kalian memang jahat! Tunggu saja karma yang akan menimpa kalian semua," ucap Embun sebelum pergi.


Suasana pertemuan tadi yang terlihat bahagia dan menyenangkan, kini terasa suram hanya karena kedatangan Embun yang sudah mengacaukan acara keluarga ini. Akhirnya Tama pun mengakhiri pertemuan itu karena tidak ingin melihat Pelangi dan ibunya yang bersedih.


***


Pelangi, Lembayung, serta Senja pulang ke rumah diantara oleh Chandra dan kakek Indra. Namun, begitu sampai ke rumah keadaan masih gelap gulita. Mereka mengira kalau Embun belum pulang ke rumah.


Betapa terkejutnya mereka saat melihat Embun sudah tergeletak di ruang keluarga dalam keadaan tangan yang tersayat dan mengeluarkan banyak darah.

__ADS_1


"Ya Tuhan. Embun!" teriak Senja.


"Kak Embun!" teriak Pelangi dan Lembayung bersamaan. 


Ketiga orang itu pun berlari dan meraih tubuh embun yang masih dalam keadaan hangat, tetapi tidak sadarkan diri. Terlihat tangan kiri Embun mengeluarkan banyak darah sedangkan tangan kanannya memegang pisau dapur.


"Adek, panggil orang dan minta bantuan!" perintah Pelangi.


"Baik, Kak!" Lembayung pun berlari mencari bantuan.


"Ibu, biar aku balut dulu tangan Kak Embun ini," kata Pelangi sambil merobek pakaian yang sedang dipakainya. Tidak peduli gaun indah itu pemberian dari Tama. Pelangi membalut tangan embun dengan kuat itu untuk menahan darah yang keluar dari tangannya.


"Senja katanya Embun sudah melakukan percobaan pembunuh diri." 


Candra berlari ke rumah setelah mendengar teriakan minta tolong dari Lembayung. Untung dia belum pergi jauh dari sana. Disusul datang Kakek Indra bersama Lembayung.


"Candra cepat bawa Embun ke rumah sakit!" perintah Kakek Indra.


Tubuh Embun pun digotong oleh Candra dan dimasukkan ke dalam mobil. Senja pun ikut mendampingi.


"Semoga saja tidak terjadi apa-apa pada Kak Embun," lirih Pelangi.


"Kak Embun sudah stress kalinya? Buat apa dia melakukan hal gila seperti ini." Terlihat wajah Lembayung yang sangat panik, kesal, dan kecewa.

__ADS_1


***


Bagaimana keadaan Embun? Apa yang akan terjadi pada Senja dan keluarganya? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2