
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih Bunga, Kopi, Vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 7
Senja yang marah kepada Pelangi selama seminggu ini benar-benar tidak peduli kepadanya. Hal ini membuat Pelangi bersedih, setiap malam dia menangis dalam diam.Â
Jiwa dan pikiran Pelangi yang baru beranjak remaja itu masih labil. Perkataan dan perlakuan ibunya itu membuat Pelangi terguncang sampai dia jatuh sakit.
"Bu, tubuh Kak Pelangi sangat panas!" teriak Lembayung yang tidur satu kamar dengan Pelangi.
Senja yang sedang menyiapkan sarapan dikejutkan oleh teriakan putri bungsunya. Dia pun bergegas mendatangi kamar putrinya.
"Ada apa, Lembayung? Kenapa kamu berteriak?" tanya Senja yang datang menghampiri mereka.
"Kak Pelangi tubuhnya sangat panas dan dia tidak sadarkan diri," jawab Lembayung dengan panik.
Gadis itu masih berusaha membangunkan Pelangi dengan mengguncangkan tubuh kakaknya. Namun, anak perawan itu bergeming di atas tempat tidurnya.
"Pelangi!" Senja langsung meraih tubuh putri keduanya. Dia bisa merasakan suhu tubuh Pelangi yang sangat panas sekali.
"Dek, ambil air kompres!" titah Senja kepada Lembayung.
"Kakak! Kakak!" teriak Senja memanggil Embun.
"Ada apa, Bu?" Embun datang ke kamar Pelangi.
"Kakak, carikan kendaraan untuk bawa Pelangi ke rumah sakit!" teriak Senja menyuruh Embun.
__ADS_1
"Iya, Bu!" Embun pun pergi ke rumah Pak RT untuk minta antar mereka ke rumah sakit.
"Adek, kamu tunggu di rumah. Jika, nanti bapak pulang dari pasar, bilangin kalau ibu bawa Pelangi ke rumah sakit," pesan Senja kepada Lembayung.
"Iya, Bu." Lembayung tidak berhenti menangis.
***
Pelangi mendapatkan penanganan begitu dibawa masuk ke ruang UGD. Setelah diperiksa ternyata tekanan darah Pelangi sangat rendah dan suhu tubuh yang sangat tinggi. Dia juga mengalami dehidrasi dan anemia, sehingga harus mendapatkan donor darah dari Senja. Tentu saja cairan infus juga terpasang di tangannya.
"Pelangi, bangun," lirih Senja yang kini berderai air mata.
Meski Senja sering berlaku tidak adil dan keras dalam mendidik pada Pelangi. Dia juga akan merasa sedih, jika melihat anak-anaknya sakit. Terlebih kalau sampai sakit keras dan dibawa ke rumah sakit.
"Bu, istirahat di rumah saja. Biar bapak yang menunggu Pelangi di sini," kata Awan.
"Nggak, ibu akan di sini sampai Pelangi sehat," ucap Senja yang sejak tadi duduk di samping brankar sambil memegang tangan putri keduanya itu.
"Tapi, hari ini Ibu sudah diambil darahnya untuk transfusi darah Pelangi. Nanti, malah ibu juga ikutan sakit," kata Awan dengan lembut agar istrinya mengerti.
"Tubuh ibu kuat. Makanya ibu jarang sakit," balas Senja yang masih setia menatap wajah pucat Pelangi.
Pelangi baru siuman saat sore hari, dia merasakan seluruh tubuhnya linu dan sangat sakit. Dia juga merasa tenggorokannya sangat kering. Dilihatnya ada sang ibu yang tidur sambil duduk dan memegang tangannya. Air mata Pelangi kembali meleleh, kali ini bukan air mata kesakitan melainkan air mata kebahagiaan. Dia senang ternyata ibunya masih peduli kepadanya.Â
Pelangi ragu untuk membangunkan ibunya, jadi dia memilih diam saja. Sekitar 30 menit kemudian Senja baru terbangun. Betapa senang dia saat melihat putrinya itu sudah sadar.
"Pelangi. Akhirnya, kamu sadar," kata Senja tersenyum bahagia sampai tidak sadar air matanya juga ikut meleleh.
Senja pun memberikan Pelangi air minum dan langsung tandas satu gelas penuh itu. Dia juga menyuapi Pelangi sampai habis makanannya dan memberikan obat untuknya.
__ADS_1
***
Senja dirawat di rumah sakit selama dua hari. Keesokan siang sudah bisa pulang. Demamnya juga sudah normal sejak semalam. Selain itu, Pelangi juga tidak betah di rumah sakit karena bau antiseptik yang sangat menyengat di kawasan rumah sakit.
Awan pun menjemput Senja dan Pelangi bersama Pak RT. Mereka semua pulang dengan naik mobil milik Pak RT.
"Kamu ini tumben sakit, biasanya juga tubuh kamu itu kuat. Mau kena hujan, panas, ataupun angin malam. Lalu, kenapa di cuaca bagus seperti ini, malah jatuh sakit?" Pak RT yang terkenal baik dan tidak pelit, selalu membantu keluarga Awan.
Pelangi di tanya seperti itu hanya diam saja. Mana mungkin dia mengaku kalau sakit gara-gara beban pikirannya karena mengira ibunya sudah tidak mau peduli lagi padanya. Nyatanya ibunya itu masih peduli pada dia.
"Sakit itu manusiawi, loh, Pak RT," balas Senja.
Mereka pun tertawa dan sesekali bercanda. Pelangi merasa di setiap musibah pasti ada hikmahnya itu adalah benar. Gara-gara dia sakit, kini dia bisa dekat lagi dengan ibunya. Pelangi tahu kalau ibunya itu juga sayang padanya.
***
Waktu terus bergulir sampai akhir penghujung ajaran akhir tahun. Embun seperti biasa tidak mau diganggu kegiatannya. Sekarang alasannya karena sudah kelas 3 SMP dan akan masuk SMA, jadi harus rajin belajar. Ini hanya modus saja karena tidak mau ikut membantu mengerjakan pekerjaan rumah atau membantu membuat dagangan ibunya.
"Kakak, kok, malah baca komik. Tadi katanya mau belajar!" Embun kepergok oleh Pelangi yang kebetulan masuk ke kamar kakaknya.
"Bisa nggak, sih! Kalau masuk ke kamar orang lain itu ketuk pintu dulu," bentak Embun marah karena kepergok oleh Pelangi.
"Kak Embun hanya modus saja, bilang mau belajar tahunya baca komik. Padahal aslinya dia tidak mau ikut membantu pekerjaan rumah," kata Lembayung yang ikut menyusul ke sana.
"Kalian berdua sudah berkomplot, ya?" hardik Embun.
Pelangi dan Lembayung saling lirik.
***
__ADS_1
Benarkah kalau Pelangi dan Lembayung sudah berkomplot? Tunggu kelanjutannya, ya!